Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Tuesday, January 17, 2012

Putusnya Dawai Biola Paganini

Demak, 09.00

Adalah seorang Niccolo Paganini, pemain biola klasik dari Itali yang amat termasyur. Keahliannya memainkan berbagai komposisi membuat emosi setiap orang yang mendengarnya teraduk-aduk. Tak sedikit yang meneteskan air mata, saat mendengar Paganini memainkan komposisi syahdu. Dan hampir semuanya tersenyum, saat alunan bahagia di mainkannya.

Suatu ketika, Paganini berencana menggelar sebuah konser yang spesial. Berhari-hari dia berlatih, mengumpulkan komposisi-komposisi terbaik, dan mengemasnya se-spesial mungkin. Ya, karena konser yang digelar memang akan dibuat sangat spesial.

Dan tibalah hari itu. Ratusan hadirin memenuhi sebuah hall di salah satu sudut kota di Itali. Beberapa lagu telah dimainkan. Suasana hening saat Paganini beraksi, selalu diakhiri dengan gemuruh tepuk tangan dari setiap yang hadir. Di tengah-tengah lagu terakhirnya, sebuah insiden tak terduga terjadi. Satu dari empat dawai biolanya putus. Semua yang hadir tampak memaklumi, dan segera memberikan aplaus penyemangat. Belum hilang raut kebingungan Paganini, dia mendekatkan berucap. "Paganini dengan tiga dawai.." dan gesekan-gesekan yang tak kalah indah pun kembali terdengar.

Di saat dia begitu menikmati tiga dawainya, lagi-lagi insiden itu terulang. Satu lagi dawainya putus. Dan kini tinggal dua yang tersisa. Demi tak ingin mengecewakan penggemarnya, Paganini kembali berkata, "Paganini dengan dua dawai ..." Hadirin kembali memberikan aplause penyemangat dan berhenti saat alunan merdu dari gesekan dua dawai Paganini kembali terdengar. Mereka pun kembali hanyut dibuatnya.

Entah takdir atau apa, untuk ketiga kalinya dawai itu kembali putus. Kali ini, tepuk tangan penonton terdengar lemah dan perlahan. Mereka ragu, mampukah sang idola memainkan komposisi hanya dengan satu dawai? Sesaat semuanya diam. Hening. Setengah tak percaya, setelah menyapukan pandangan ke penonton, dia kembali berteriak lantang, "Paganini....... dengan satu dawai..." Kali ini penonton tetap hening. Hingga lompatan nada yang terdengar dari gesekan dawai semata wayangnya, terdengar tertatith-tatih. Pelan tapi pasti, nada-nada itu mulai terdengar rancak dan atraktif. Raut serius tergurat jelas di mata dan dahinya. Tak ada sama sekali keputusasaan yang terbaca dari wajahnya. Luar biasa. Dan tanpa dikomando, semua hadirin berdiri dan memberika standing ovation di akhir persembahan yang benar-benar spesial dari seorang Paganini.

Terlepas dari keahlian berbiola Paganini yang begitu master. Kemampuannya mengelola emosi ketika menghadapi situasi sulit, patut kita tiru. Sebuah insiden fatal yang berpotensi menurunkan pamor, nilai, bisa jadi mebuat kebanyakan dari kita pasrah dan tak berdaya saat menghadapinya. Alih-alih mencoba mengatasinya, kita malah membiarkan dan menganggap itu sebagai sebuah kesalahan non teknis yang dapat dimaklumi.

Namun begitu, tidak demikian jalan pikiran seorang Paganini. Momen yang bisa saja membuat kredibilitasnya sebagai seorang master jatuh, dilihatnya sebagai peluang yang berpotensi mendongkrak level diri. Pada titik ini, dia berhasil memaksa pikirannyanya agar merubah persepsi negatif menjadi positif hanya dalam waktu sekian detik. Bersumber dari pikiran barunya, sikap fokus dan totalitas mengalir begitu derasnya.

Positif thinking, itulah kuncinya. Dan lagi-lagi, kunci ini yang pernah juga di ajarkan oleh Muhammad, laki-laki Quraish yang pengaruhnya masih dirasakan hingga sekarang pada 14 abad yang lampau dengan bahasa Husnuzhon (Baik sangka).

Wallahu a'lam.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...