Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Wednesday, January 11, 2012

Memandang sebuah Masalah

Demak, 11 Januari 2012

Satu ketika, saya berada pada kondisi dimana keuangan saya sangat terpuruk. Apa yang saya rasakan pada saat itu sangat sangat manusiawi. Bingung, cemas, dan yang pasti sedikit frustasi. Saya merasakan itu semua dalam satu rentang waktu yang tak lebih dari lima sampai sepuluh menit. Selama itulah kecemasan itu berkecamuk dalam pikiran saya dengan sangat liarnya.

Namun anehnya, saking liarnya pikiran itu hingga akhirnya saya jadi teringat akan anak saya tercinta. Ya, entah kenapa tiba-tiba gambaran kelucuan kepolosan, dan tingkah centil Aisya menutup semua rasa cemas yang sebelumnya menguasai pikiran saya. Reflek saja saya ambil dompet, dan saya pandangi foto 3 x 4 nya beberapa saat. Hingga bibir ini menarik senyum tanpa sadar.

Saat itu, harapan, syukur dan kebahagiaan seakan mengalir deras di kepala saya. Menimpa semua pikiran negatif yang semula memenuhinya. Harapan itu pula yang mengingatkan kembali kejadian serupa di masa lalu. Telah berkali-kali saya jatuh, dan berkali-kali pula Sang maha Perkasa Memapah dan membuat saya bangkit. Sungguh ajaib. 

Apa yang kita alami sebenarnya telah ditulis oleh tinta takdir Sang Maha Berkehendak. Tak bisa kita menolak untuk tidak menjalaninya. Sedih, cemas, dan air mata sekalipun tak mampu mencegah kita untuk tidak jatuh dalam keterpurukan itu. Sang Maha Bijak hanya ingin melihat, seperti apa kita melaluinya. Karena sebenarnya, telah menunggu sebuah berita gembira setelahnya.


"Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan", begitulah Sang Maha Pengatur berujar. Bahkan ada yang menafsirkannya bahwa hampir bersamaan dengan kesulitan ada kemudahan. Dan jarak antara keduanya sangat sangat dekat.

Rasa sedih, cemas, dan stress hanyalah pikiran negetif yang jika dibiarkan berkembang akan meracuni pikiran kita. Dan pikiran yang teracuni inilah sumber dari segala kemaksiatan.

Ada banyak cara untuk mencegahnya. Salah satunya dengan menghadirkan sesuatu yang membuat hati kita merasa bahagia, damai dan bersyukur. Ada banyak di luar sana yang bisa kita ambil sebagai raw material. Anak, istri, keluarga, alam semesta, keberhasilan, pengalaman, semua bisa kita gunakan untuk memproduksi pikiran positif. Tinggal kemampuan kita untuk memproduksinya secara efektif yang harus selalu kita latih.

Kalau kita yakin atas janji-Nya, kenapa harus ada cemas dan air mata ?
Jika kita telah melihat pertolongan-Nya di masa-masa yang lalu, kenapa harus ada gundah dan gulana?

Justru setiap ada kesulitan harusnya kita bersyukur dan berteriak "Yess... akan ada berita gembira sebentar lagi...!"

Dan harusnya kita malah bertanya-tanya jika hidup kita mudah dan happy-happy aja. Akan ada apa setelah ini ?





No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...