Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Tuesday, January 31, 2012

Doa si Alif

Jantung si Alif berdegub kencang. Matanya menatap lurus ke depan sembari telinganya tajam menunggu aba-aba. Puluhan penonton yang terdiri dari siswa dan guru pendamping tampak antusias menyaksikan detik-detik menegangkan Final Lomba Lari 100 m antar sekolah siang itu.

Sesaat, bibir si Alif terlihat komat-kamit sambil sesekali matanya terpejam. Terbayang bagaimana berhari-hari dia berlatih keras. Siang malam selalu berdoa agar berhasil. Dan menjelang detik-detik menentukan itu, kembali dia melantunkan permohonan terakhirnya dengan penuh khidmat.

Hingga petugas start bersiap mengambil aba-aba. Dan ...


"Persiapan ..... awasss.......
Yak...!" kibasan bendera start petugas langsung diikuti gemuruh suara penonton menyemangati jagoannya masing-masing

Alif dan kelima finalis lainnya melaju bagai peluru. Hanya beberapa detik, telah terlihat siapa yang terdepan. Dan ..... si Alif lah juaranya.
**********
Saat pemberian trofi usai. Sang guru pendamping Alif pun berseloroh. "Wahh.. kemenangan ini pasti karena doamu Lif. Bapak lihat, tadi mulutmu komat-kamit."

"Ah, enggak juga pak" jawab si Alif polos.
"Loh, maksudmu?" tanya sang guru heran.
"Maksud saya, saya tadi sama sekali nggak berdoa minta menang pak ..."
"Lha terus ?"



"Saya cuman minta, supaya kalo Allah menakdirkan saya kalah, saya nggak menangis, pak. Kan malu ... dilihat orang-orang. Saya kan orangnya cengeng pak.... hehehe ..." jawab si Alif polos.

Mendengar jawaban lugu anak didiknya, sang guru pun berpikir sesaat. "Aneh, biasanya di saat-saat kritis seperti itu, anak berdoa supaya menang dan jadi juara ...ini malah ... Ah ...dasar si Alif" dibiarkan saja pikiran itu menggantung. Dia pun kembali larut dalam rasa bangga atas keberhasilan anak didiknya.

Cerita itu bukan cerita tentang kemenangan. Juga bukan cerita tentang perjuangan dan pengorbanan. Hanya sekedar kisah tentang kepolosan si Alif yang tercermin dalam doanya. Yang dinilai aneh oleh gurunya. Mungkin kita pun menilainya demikian.


Namun coba mari kita renungkan. Betapa kita selalu meminta sesuatu itu sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Sesuatu yang kita anggap ideal bagi kita. Dengan lain bahasa, apapun yang baik, ideal, menyenangkan, membahagiakan, semuanya harus ada pada diri kita. Itu akan tampak dari sebagaian besar isi pinta dan doa kita kepada Allah.

Andai saja, keenam finalis memanjatkan doa yang sama. Sama-sama meminta kemenangan. Mungkinkah Allah memenangkan semuanya ? Mustahil. Meskipun apapun bisa terjadi.

Menang atau kalah, sebenarnya telah tertulis dalam suratan takdir. Tugas kita hanya menjalaninya dengan "profesional". Ibarat kita seorang aktor yang telah mengetahui skenario sutradara, maka yang harus kita lakukan hanyalah menjalankan peran itu dengan profesional. Sekalipun peran itu adalah peran kekalahan.

Yang membedakan analogi itu hanyalah, di dunia nyata kita tidak tahu bagaimana ceritanya nanti. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjalaninya dengan "profesional".   

Sisi ini lah yang ada dalam benak si Alif. Dia telah berusaha menjalani scene itu dengan profesional. Berlatih keras, menerima instruksi dari pelatih, dan berdoa. Tidak hanya itu. Karena telah menyadari segala kemungkinan yang akan terjadi di luar kehendaknya, dia tidak lupa menyelipkan doa terakhir beberapa detik menjelang aba-aba start. Doa yang sedikit aneh.

Bukan anehnya doa si Alif yang kita cermati. Tapi kesadaran si Alif akan tugas seorang insan yang harus menjalani setiap perannya dengan profesional, dan kesadaran bahwa segala hasil akhir sebenarnya telah digariskan.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...