Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Thursday, January 19, 2012

Doa; Sarana mengakses state

 Doa, sebuah kata yang teramat pendek. Hanya ada tiga huruf yang menyusunnya. Apa yang terlintas dalam benak anda saat mendengar kata DOA ?

Khusyu', tangan yang menengadah, air mata yang menetes, atau gambaran lain sesuai dengan persepsi atau representasi internal kita.
 Beberapa di antara kita ada yang mendefinisikan doa sebagai rangkaian kata yang dilafalkan dalam waktu tertentu dan dengan cara tertentu.

Rangkaian kata itu ada yang benar-benar telah kita fahami, sedikit-sedikit tahu artinya, atau bahkan sama sekali kita tidak tahu makna yang terkandung di dalamnya. Bagi seorang muslim, tentu kita sangat dianjurkan berdoa seperti apa yang pernah di modelkan oleh Rasulullah SAW.

Terlepas dari bagaimana cara kita berdoa, kapan, dan dengan bahasa apa yang dipilih, ada dua hal yang tidak boleh kita tinggalkan. Yaitu, penuh harap dan keyakinan di dalam hati. Tanpa keduanya, berdasarkan pengalaman, esensi doa tidak akan bisa membekas dalam keseharian kita. Apa pasal ?

Sekarang mari kita perhatikan pengalaman kita selama ini saat berdoa. Terkadang, di satu waktu, terutama di saat kita sedang mengalami cobaan berat, kita berdoa dengan melibatkan segenap hati. Sampai-sampai tak sadar kita meneteskan air mata. Atau bahkan tersenyum penuh harap. Coba kita ingat apa yang terjadi dalam diri kita pada saat itu. Apa yang kita rasakan pada saat sedang dan setelah kita berdoa ? tentu ada rasa damai, optimis, dan siap untuk kembali menapaki hidup, bukan ? Lalu bandingkan dengan apa yang kita rasakan saat dan setelah kita berdoa dalam kondisi yang hanya sambil lalu saja.


Sebagaimana dalam tulisan saya sebelumnya mengenai state, pada dasarnya doa adalah salah satu sarana yang paling efektif untuk mengakses dan mempertahankan sebuah state. Meskipun sebenarnya kita bisa mengaksesnya kapan pun dan sesuka hati kita.

Pada saat kita berdoa, biasanya dimulai dengan munculnya sebuah pengharapan yang mewakili keinginan yang kuat dari diri kita untuk mendapatkan harapan tertentu. Pada titik ini, terkadang kita mengernyitkan dahi sampai meneteskan air mata.

Pada fase selanjutnya, kita menghadirkan keyakinan yang kuat bahwa Allah pasti mendengarkan doa kita dan akan mewujudkannya untuk kita. Pada fase ini, tanpa sadar kita membayangkan dalam gambaran visual apa yang kita minta. Seolah-olah kita bisa merasakan, melihat, dan mendengar apa yang kita minta itu telah ada pada diri kita. Jika kita meminta rizki yang berkelimpahan, dalam doa kita akan membayangkan sebuah kondisi kita damai, tanpa beban hutang, bisa membahagiakan keluarga, dan selalu merasa bahagia. Pada titik ini lah tanpa sadar kita tersenyum bercampur harap sambil sesekali mendongakkan wajah ke atas.

Fase-fase di atas sangatlah memadai untuk membuat kita masuk dan larut dalam sebuah state yang kita inginkan, sesuai dengan isi doa kita. Dan dari state inilah akan lahir sikap-sikap positif yang akan terbawa sampai pada kondisi sejauh mana kita mampu mempertahankannya.

Kapan pun kita bisa berdoa. Kapan pun kita bisa memasuki state yang kita harapkan. Minimal selepas Shalat lima kali dalam sehari. Bukan kah Shalat itu juga berarti doa ? Semakin doa kita berkualitas, semakin kita bisa mengakses state positif dan melahirkan sikap-sikap positif dalam keseharian kita.

 “Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala selain do’a.” (HR. Tirmidzi)
 

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479

Setelah mengetahui luar biasanya sebuah doa, akan kah kita menyia-nyiakannya ?

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...