Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Thursday, April 21, 2011

Kartini dan Emansipasi Wanita

[- Demak, 21 April 12.30 -]

Memperingati hari Kartini yang jatuh tepat hari ini, ada beberapa kegiatan menarik yang baru saja digelar oleh rekan-rekan di kantor. Tak jauh beda dengan tahun lalu, kostum kebaya ala Kartini wajib dikenakan para  karyawati. Dan untuk tahun ini, acara tambahannya adalah, lomba pidato untuk para ibu, dan lomba merangkai jajan pasar untuk para bapak. Untuk acara yang terakhir disebutkan, hubungannya dengan Hari Kartini apa ya? Apapun itu, yang pasti acaranya berjalan luar biasa heboh.

Semangat ibu-ibu begitu terdengar di tengah kekocakan dan kehebohan penampilan mereka. Dengan gaya bahasa masing-masing yang khas, mereka mencoba menampilkan yang terbaik untuk semua yang hadir. Menyuarakan kembali apa yang dahulu pernah disuarakan oleh Kartini kepada sahabat penanya di negeri Belanda. Meneriakkan kembali apa yang dahulu pernah diperjuangkan oleh Kartini.
Dari pengamatan saya, hampir semuanya mengakui, bahwa benar wanita memiliki kedudukan yang sama dengan pria. Bahwa benar, wanita berdiri sama tinggi di hadapan penciptanya. Dan bahwa benar mereka kini telah diberi kesempatan untuk maju sama seperti pria. Namun mereka pun juga mengakui dan menyadari bahwa dalam kodratnya, ada tugas wanita yang sebenarnya tak kalah berat dengan tugas pria. Tugas sebagai seorang ibu dalam mengelola keuangan, pendidikan anak, dan segala urusan rumah tangga yang tak bisa di serahkan sepenuhnya kepada suami.

Mungkin hanya kaum feminis lah yang menganggap rendah tugas-tugas itu, atau bahkan mereka tak menganggap sama sekali. Sehingga muncullah isu-isu yang mendiskriditkan Islam. Bahwa Islam telah membelenggu wanita dalam memperoleh pendidikan. Padahal betapa Aisyah sangat mashur sebagai wanita cerdas yang banyak meriwayatkan hadits dan menjadi rujukan para sahabat nabi yang lain pada waktu itu. Dan berapa banyak wanita muslim yang kini sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi ternama di dunia.

Mereka juga menuduh Islam telah mengekang wanita di rumah-rumah mereka. Padahal, siapa lagi yang mengawasi dan mengawal pendidikan akhlak anak tatkala suami keluar untuk bekerja. Apakah diserahkan begitu saja kepada khadimat atau pembantu ? Tidak. Justru karena Islam memandang betapa anak adalah aset masa depan yang sangat berharga, maka dari itu untuk menjaganya agar tetap berharga, butuh pengawasan oleh orang-orang yang luar biasa hebat. Dan Allah telah mengamanahkan tugas penting ini kepada ibu tatkala sang ayah keluar untuk bekerja. Karena ibu pasti lebih mengenal anaknya sendiri dari pada orang lain.

Kalau kita sering menyimak acara Nanny 911 di metrotv, betapa banyak ibu-ibu Amerika yang bangga ketika bertatus sebagai ibu rumah tangga dengan mengurus beberapa anaknya seorang diri. Bahkan saking kewalahannya, mereka butuh advice seorang nanny yang harus tinggal beberapa hari untuk research agar bisa memberi advice yang tepat. Dan mari sekarang kita lihat fenomena yang terjadi di sekitar kita, sebagian ibu akan lebih bangga ketika berstatus sebagai wanita karier daripada mengurus anak di rumah. Sebagian ibu yang lain malu mengakui dirinya kini hanya sebagai ibu rumah tangga di depan kawan-kawan SMAnya.

Akhirnya saya hanya bisa berinstropeksi untuk keluarga saya, sungguh dengan kondisi istri yang karena sesuatu hal "mengharuskannya" bekerja, berusaha semaksimal mungkin untuk selalu memberikan perhatian lebih pada anak adalah sebuah keharusan.

Dan tak ada salahnya saya mengucapkan "Selamat Hari Kartini, istri hebatku ..."

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...