Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Friday, March 11, 2011

Momentum Perubahan Diri

[- Demak, 11 Maret 2011, 12.00 -]

Bisa jadi kata yang sedang populer di dunia arab sekarang adalah perubahan. Terbukti, kata itulah yang menggerakkan jutaan rakyat Tunisia, Mesir, Yaman, Oman, serta Libia turun ke jalan-jalan. Apa istimewanya kata ini ? Sampai-sampai mereka rela tidur di jalanan bahkan harus siap jika sewaktu-waktu tertembus timah panas para aparat yang sangat represif.

Menurut mereka, perubahan adalah pilihan yang pas untuk membalikkan kondisi mereka dari penindasan, keterbelengguan, dan ketidakadilan menuju kondisi yang lebih baik, penuh ketenangan, kedamaian, keadilan, sesuai fitrahnya manusia. Dengan kata lain, perubahan adalah jembatan yang harus dilalui untuk mencapai segala sesuatu yang menurut mereka ideal. Tak peduli berapa pun harga yang harus dibayar.

Apa yang terjadi di Mesir, Yaman, dan terakhir Libia pasca tergulingnya presiden Ben Ali, selain dilatarbelakangi tuntutan perubahan, faktor momentum juga turut andil dalam menyulut aksi mereka di penjuru kota. Tuntutan perubahan yang didukung momentum yang tepat, menjadikan proses itu berjalan begitu spontan dan sporadis. Bahkan agen rahasia Israel dan Amerika pun konon kabarnya tidak bisa memprediksi hal itu akan terjadi.
Hikmah apa yang bisa kita ambil dari fenomena di atas ? Bahwa jika kita menginginkan kondisi yang lebih baik dari apa yang saat ini kita rasakan, maka harus ada tuntutan perubahan yang kuat dari dalam diri kita. Dan tidak cukup sampai di situ. Kapan saat yang tepat untuk berubah harus benar-benar kita cermati, agar aksi perubahan yang dijalankan tidak mentah di tengah jalan.

Terkadang muncul keinginan kita untuk berubah, namun karena keinginan itu sangat lemah, maka dorongan dari dalam untuk melakukan aksi pun ikut melemah. Lain halnya jika semangat berubah itu bertemu dengan momen yang pas, kemungkinan terjadinya sebuah aksi perubahan akan jauh lebih besar.

Sebagai contoh, sebuat saja si fulan yang sudah dua minggu ini malas melakukan kebiasaan rutin yang sudah menjadi target hariannya. Target itu antara lain, joging lima menit tiap pagi, baca quran setengah juz per hari, dongengin anak sebelum tidur, dan target-target harian lainnya. Semuanya terlewat begitu saja. Dan hidupnya terasa hambar.

Setelah dua minggu berlalu, mulailah muncul kegelisahan-kegelisahan dalam benaknya. Namun kegelisahan itu belum mampu membangkitkan ghirahnya untuk melanjutkan kebiasaan positifnya. Sampai tiba lah kabar tentang kematian teman dekatnya yang begitu mendadak. Peristiwa itu pun membuatnya terhenyak. Lalu muncullah dorongan untuk instropeksi diri, berhitung, sudah cukupkah amalnya jika sewaktu-waktu mendadak maut menjemput juga. Alhasil, sejak peristiwa itu, si fulan mencoba bangkit dengan kembali memenuhi target harian yang selama ini terabaikan. Awalnya berat baginya. Namun dengan kemauan yang kuat, dalam seminggu dia telah kembali menemukan kehidupannya kembali.

Boleh saja kita menunggu momentum yang tepat untuk berubah. Namun siapa yang bisa memastikan kapan ia datang menghampiri kita. Karena itu perlu usaha tambahan untuk menjemput momentum itu seperti dengan menghadiri pengajian, berkumpul dengan orang-orang shalih, mencari inspirasi lewat buku, mengingat kematian, dll.

 Ada banyak jalan untuk berubah. Bagaimana dengan anda ?

(ilustrasi : werealljustvictimsoflove.blogspot.com)

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...