Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Thursday, February 24, 2011

Antara Keinginan dan Kebahagiaan

[- Demak, 14.50 -]
Sudah menjadi tabiat manusia ketika melihat sesuatu yang indah dan disenangi, terbersit dalam benak ini untuk memiliki. Itulah yang dinamakan keinginan. Jika keinginan hanya berujung pada apresiasi dan kesadaran diri, tentu tidak akan menjadi soal. Namun jika terus berlanjut pada hasrat yang menggebu tanpa pertimbangan atas kemampuan diri, tentu ini akan menjadi bumerang bagi kita.

Cepatnya arus informasi membuat kita dipaksa berhadapan dengan berbagai macam materi yang seolah berlomba merebut perhatian kita. Semuanya berseliweran di atas kepala kita. Bagi sebagian di antara kita, keinginan-keinginan itu bisa jadi berbenturan dengan daya beli kita yang sangat minim. Sehingga hasrat itu akan berhenti dengan sendirinya. Namun bagi orang yang tak memiliki masalah dengan daya beli, kemampuan mengendalikan diri dari nafsu konsumerisme menjadi hal yang harus diperhatikan.

Bagaimana tidak. Setiap hari, bisa dipastikan ada produk baru di pasaran yang bisa kita lihat di etalase toko maupun wall jejaring sosial kita. Mulai dari varian hasil pengembangan produk sebelumnya, sampai dengan produk yang benar-benar baru yang sebelumnya belum pernah ada. Sebut saja gadget. Tidak sedikit di antara kita yang menggilai piranti ini. Selain karena kebutuhan, faktor prestis tentu tak bisa dipungkiri ikut mendominasi alasan mengapa kita membelinya.

Yang sering kita lupakan adalah terkadang kita terlalu larut dalam kesenangan dan kebanggaan saat menggunakan sebuah produk tertentu. Tanpa melihat apakah produk tersebut mampu memberikan kebahagiaan hidup kita atau tidak. Ada sebuah keluarga kecil yang baru beberapa minggu memiliki sebuah laptop lengkap dengan modem dan layanan internet unlimitednya. Setiap malam, sepulang dari kantor sang ayah bergegas menyalakan laptop dan langsung browsing hingga larut malam. Dan ini terjadi hampir tiap malam. Kegilaannya terhadap internet sempat mendapat komplain dari sang istri. Bahkan bosnya pun berulangkali menegurnya karena beberapa kali terlambat masuk kantor.

Contoh kecil ini dapat menjadi bukti bahwa si pengguna belum menemukan kebahagiaan dari sebuah laptop yang baru saja dia beli. Maksud hati ingin selalu on line dan terdepan dalam akses informasi, namun yang terjadi malah terbengkalainya sisi-sisi kehidupannya yang lain. Ironis memang. Namun inilah gambaran sebagian masyarakat kita yang masih belum mampu menemukan kebahagiaan yang sebenarnya. Mungkin bagi mereka, dengan memenuhi segala apa yang menjadi keinginannya, mereka akan mendapatkan kebahagiaan.
Wallahu A'lm.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...