Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Friday, November 26, 2010

Speak like Obama

[- Demak, 13.30 -]


Berbicara di depan umum bagi sebagian orang bisa menjadi sesuatu hal yang menyenangkan. Namun tidak sedikit orang yang menganggapnya sebagai sebuah momok yang harus dihindari. 

Masih hangat dalam ingatan, bagaimana Obama saat memberikan pidato tanpa teks dihadapan ribuan mahasiswa dan akademisi di Universitas Indonesia. Mimik muka dan senyumannya yang khas selalui mewarnai dari awal hingga akhir pidatonya. 


Apapun persepsi kita tentang seorang Obama, cara dia menyampaikan dalam setiap pidatonya patut kita cermati. Bagi anda yang sudah terbiasa dengan dunia public speaking, informasi yang disalin dari situs resmi Tantowi Yahya ini mungkin bisa menambah wawasan anda.


Tips Tulisan ini sengaja dibuat sebagai hadiah karena President negara adikuasa yang dikenal tidak saja doyan bakso, nasi goreng atau sate ayam juga sebenarnya “speechmakers master” why ? Mari kita tilik 4 (empat) pakem Obama yang disadur dari berbagai sumber ;
 
Yang pertama adalah sebuah poin yang sangat dasar : untuk bisa menjadi seorang public speaker yang baik, pertama-tama kita mesti memiliki kapasitas intelektual (baca: kecerdasan intelektual) yang kokoh dan wawasan berpikir yang ekspansif. Banyak orator ulung dunia, seperti Soekarno, Marthin Luther King, sampai 

Barack Obama adalah orang-orang yang dikarunia talenta kebrilianan otak. Keluasan wawasan sungguh nampak dari apa yang mereka sampaikan. Kita dapat membandingkan dengan orang-orang yang cekak pengetahuannya yang sedang menyampaikan orasi, apakah yang Anda dapat darinya? Tak banyak bukan, karena seorang tak akan memberi apa yang tidak dia punya (Latin: Nemo dat quod non habet). Bahkan seorang penjual obatpun dapat membuat kita terkesima karena mereka memiliki wawasan yang luas tentang produk yang dijualnya.


Poin yang kedua adalah Obama sangat mengesankan memberikan pelajaran tentang apa itu makna ritme bicara, kekuatan intonasi, dan kejernihan artikulasi. Dan kita tahu, sebuah public speaking yang bagus selalu peduli dengan aspek-aspek kunci ini. Ritme dan irama penyampaian narasi yang pas, disertai dengan intonasi suara yang dinamis – tahu kapan mesti harus lembut, kapan harus lebih lantang – akan membuat audiens kita mampu terlibat sepenuhnya dengan apa yang disampaikan.

Lalu, artikulasi yang jernih dan fasih akan selalu bisa membuat efek yang membekas pada benak pendengar kita. Obama sangat menguasai bagaimana artikulasi ini. Setiap kalimat selalu ia artikulasikan dengan jernih dan dengan ritme yang mengalir; membuat ia mampu meninggalkan jejak yang memukau dalam bentangan hati para pendengarnya. Kejelasan artikulasi vokal a, e, u, i, o dan tekanan-tekanan kata dan kalimat mampu menjadikan pidatonya elok bak pertunjukan.

Poin yang ketiga adalah penguasaan panggung yang sempurna merupakan sebuah elemen amat penting untuk menghadirkan public speaking yang mengesankan. Seorang public speaker tak ubahnya aktor dalam pagelaran teater. Dia mesti memanfaatkan panggung yang ada untuk mendukung pertunjukannya. Bahkan dia juga harus mampu menguasai dirinya sendiri terlebih audiensnya.

Apa yang akan terjadi jika kita hendak menyampaikan sebuah presentasi di depan forum dengan tubuh yang bergetar lantaran grogi, dan dengan tatap mata yang hanya melihat pada satu titik? Apa yang akan terjadi jika kita mendengarkan seseorang menyampaikan pidato dengan membaca teks, dan sepanjang pidato matanya tak pernah lepas dari teks? Bukankah kita sangat bosen dan kemudian terbang ke alam mimpi (baca: ngantuk).

Poin yang keempat adalah Speaking By Ur Heart (yang dibahas tulisan sebelumnya) Obama sama sekali tidak menggunakan teks ketika berpidato. Mereka benar-benar menguasai panggung dengan penuh kesempurnaan. Sepanjang pidato, Obama selalu melemparkan tatapan mata kepada setiap sudut dimana 20 ribu penonton duduk dihadapannya. Ia seperti tengah berdialog dan berbicang intim dengan setiap hadirin yang hadir. Ia seperti menyulap podium itu menjadi pangung teatrikal dengan mana ia menyajikan sebuah penampilan seni bicara yang benar-benar memukau.  

Dia mampu menjalin interaksi dengan audiencenya kendati dia yang berbicara hanya dia. Kendati tidak ada dialog (dengan kata-kata) tetapi ada dialog batin dan hati. Inilah yang saya namakan ada transfer energi yang mereka lakukan. Ada kekuatan menggetarkan hati yang terlontar lewat keseluruhan kata dan sikap mereka.

Cukup 4(empat) poin yang sangat penting untuk di kuasai sebagai seorang public speaker. Pertanyaan berikutnya siapa diantara kita yang akan menjadi The Next Obama?? Uji di Tantowi Yahya Public Speaking School ”Speak to Inspire . .”

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...