Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Tuesday, November 16, 2010

Belajar dari Ibrahim

[- Demak, 16 Nopember 2010, 13.00 -]
Untuk urusan taat dan patuh, bisa jadi tak ada manusia jaman sekarang yang mampu menandingi ketaatan dan kepatuhan Nabi Ibrahim As. Jangankan taat untuk urusan yang tak masuk di akal. Untuk urusan yang jelas-jelas masuk di akal dan ilmiah - seperti larangan minum khamr, riba, zina - saja masih banyak muslim yang mangkir. Hal yang sangat lumrah ketika akhirnya Allah mengabulkan apa-apa yang beliau minta. Kita ingat bagaimana Nabi Ibrahim berdoa agar dikaruniai seorang putera, dan Allah pun memberinya. Demikian juga dengan doa-doa beliau yang lain untuk kebaikan anak cucunya. Lagi-lagi Allah pun mengabulkannya. Dan memang sepertinya kita harus belajar banyak dari sosok yang mendapat julukan khalilullah (kekasih Allah) itu.
Pelajaran pertama : Cukuplah Allah sebagai penolongku
Statemen itu beliau ucapkan dengan penuh keyakinan tatkala api yang telah menyala-nyala siap membakar tubuhnya. Lalu beliau menambahkan, "... dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." Dan dalam sekejap api pun berubah menjadi dingin. Coba perhatikan, tak ada aura kecemasan yang terbaca dari kalimat itu. Justru kita bisa menangkap sebuah keyakinan yang kuat, yang tersembunyi di balik kata-kata itu.

Pelajaran kedua : Cintanya kepada Allah jauh melebihi cintanya terhadap istri dan anaknya
Beberapa kali Hajar sempat bertanya perihal alasan suaminya meninggalkannya bersama Ismail di tengah padang pasir yang gersang dan tandus. Beberapa kali pula Ibrahim hanya menjawab dengan diam. Tatkala Hajar menanyakan apakah ini perintah dari Allah ? Ibrahim pun menjawab Ya. "Baiklah kalau demikian, karena Dia yang telah menyuruhmu, pastilah Dia juga mengurus kami disini." jawab Hajar. Keteguhannya akan perintah Allah untuk meninggalkan anak istrinya menuju Syiria, akhirnya diikuti oleh kerelaan istrinya.

Pelajaran ketiga : Membuka komunikasi dua arah dengan Ismail.
Untuk kesekian kalinya Ibrahim diuji. Rasa sayangnya terhadap putra semata wayangnya pun dipertaruhkan. Lalu apakah cara menunjukkan kesiapannya akan perintah Allah dilakukannya dengan langsung menyeret anaknya ke atas bukit ? Tidak.  Beliau mengawali dengan sebuah pertanyaan, "Wahai puteraku, di dalam mimpiku aku melihat aku mengorbankan (menyembelih) kamu. Bagaimana pendapatmu?" Pertanyaan ini membuka sebuah dialog yang bermuara pada statemen keikhlasan seorang Ismail, " Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang telah diperintahkan-Nya kepadamu. " Wallahu A'lam bi sshowab.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...