Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Monday, September 28, 2009

Lebaran

Lebaran telah berlalu. Tentu banyak sekali kenangan indah mengiringi. Siapa tak bahagia melihat orang tua, saudara, kerabat, guru yang berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun lamanya tak bersua.

Kebahagiaan itu juga saya rasakan. Melihat bapak, mamah, dan ketiga adik-adik saya kembali. Terlebih saat saya bertemu dengan orang-orang yang ikut andil mengenalkan saya pada Tuhan dan kebesaran-Nya.

Sowan ke Pak Sam dan istrinya yang hafidh Quran itu, yang kali pertama saya belajar Quran dari mereka. Ingat sekali saat itu liburan kenaikan kelas sebulan penuh, saya yang kala itu masih duduk di bangku SD kelas 1, dititipkan mbah kepada mereka. Kebetulan masih ada hubungan famili dengan mbah di Ponorogo, dan kebetulan pula rumahnya berdampingan dengan rumah mbah. Hanya dipisahkan sepetak ladang. Meski cuman sebulan dan tak cukup waktu untuk membuat saya bisa membaca Al Qur'an dengan lancar, namun dari merekalah aku mengenal rangkaian huruf-huruf arab, bacaan niyat shalat, niyat wudlu, shalawat, dan sedikit seni rebana.

Di Madiun saya juga sempat sowan ke Bu Siti dan Mbak Mumun, salah satu putrinya. Dari keluarga mereka lah saya belajar Quran dengan metode IQRO, dari jilid1 sampai 6, dan alhamdulillah sampai lancar membaca Quran. Hampir 10 tahun saya tak bertemu dengannya. Dan, Subhanallah, kini semuanya telah berubah. Mushola Al Huda di samping rumahnya, pekarangan di belakangnya, kini tertata rapi.

Sebenarnya ada satu lagi ustadz yang akan saya kunjungi, namun rumahnya tutup seperti sedang bepergian. Mas Gin, begitulah saya dulu memanggilnya. Ustad muda yang pernah mengenalkan saya dengan metode pembelajaran ala pesantren salaf. Mengkaji beberapa kitab populer, silaturahim ke banyak kyai dan pondok, jualan sabun keliling kampung, nyari rumput buat makan kelinci, hingga sering diundang tampil hadrah di berbagai acara walimah atau syukuran warga.

Mengingat mereka merupakan kebahagiaan tersendiri. Saya tak bisa membayangkan apa jadinya saya tanpa mereka dulu. Terlebih doa-doa mereka .... bisa jadi itu yang meringankan langkah-langkah ini dalam menyusuri hidup.

Bersyukur saya masih bisa bertemu mereka lebaran ini, entah lebaran esok .

Thursday, September 17, 2009

Mudik


[- Demak, 18 September 2008 -]

Lebaran tinggal 2 hari lagi insya Allah. Berbagai fenomena yang menyertainya menarik untuk kita cermati. Di antaranya adalah, mudik. Ya, ritual yang satu ini menurut saya terbilang unik. Bayangkan saja, jutaan manusia melakukan perjalanan dalam waktu yang hampir bersamaan menuju tanah kelahirannya. Untuk satu tujuan mulia, bersilaturahim.

Di sepanjang perjalanan menuju kantor tadi, saya sempat melihat deretan mobil berplat luar kota. Di antaranya berplat nomor B, D, E BA, G dll. Namun yang sering terlihat adalah mobil berplat B dari arah Jakarta menuju Surabaya. Dari tampilannya, saya bisa memastikan mereka adalah pemudik yang memanfaatkan jalun pantura.

Seolah tak mau kalah, pengendara sepeda motor pun tampak meramaikan lalu lintas ruas Semarang-Demak ini. Meskipun tak sebanyak pengendara mobil.

Pemandangan ini hanyalah satu dari sekian banyak dampak yang ditimbulkan dari ritual mudik. Lainnya, ongkos bus naik, antrian tiket dimana2, posko2 mudik bermunculan, spanduk2 bertebaran, dan masih banyak lagi.

Dari segi persiapannya pun kita melihat fenomena yang menarik, banyak mal-mal penuh sesak, pakaian, sepatu, dan atribut lainnya laris manis, tingkat penjualan mobil naik, bahkan prinsip lebaran harus berbaju baru sepertinya tak bisa ditawar lagi. (padahal sunnahnya kan yang terbaik, bukan yang terbaru). Sampai-sampai ada yang malu sama famili di kampung, masak baju lebaran kemaren dipake lagi.

Dan ironisnya hingar bingar ini justru nampak beberapa hari menjelang lebaran, di saat sebagian yang lain mengencangkan ikat pinggang berburu malam lailatul qadar.

Melihat fenomena yang terkesan jor-joran itu, saya khawatir, akan muncul niyatan lain selain niyat mulia dari silaturahim. Momen mudik digunakan sebagai ajang pamer sukses para perantau di kampungnya. Sehingga apapun diupayakan.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...