Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Friday, March 20, 2009

Perjuangan belumlah usai

[- Demak, 20 Maret 2009, 10.30 -]

Pernahkah kita, entah sengaja atau tidak, bertemu dengan teman SMA, SMP, atau bahkan teman SD kita dulu ? Lalu apa yang ada di dalam benak kita ketika kita melihat mereka - dalam segi apapun - berada dalam keadaan yang diluar dugaan kita ?

Beberapa waktu yang lalu, di sela-sela jam kerja, saya ngobrol dengan beberapa teman satu ruangan. Dan entah siapa yang memulai, arah obrolan kami menyinggung tentang pengalaman kami bertemu dengan teman-teman lama.

Seorang di antara teman saya bilang kalau dia pernah ketemu dengan teman SMPnya (kalo tak salah ingat) di dalam bus kota. Setelah diamati betul-betul, ternyata kondektur yang baru saja menagih ongkos itu adalah temannya dulu waktu di SMP. Di tengah hiruk pikuk penumpang yang berjubel, sebenarnya dia ingin menyapa. Tapi melihat bahasa tubuh sang kondektur yang sepertinya ingin menghindar, dia pun mengurungkan niyatnya. Dalam hati, mungkin dia malu.

Teman saya yang lain berkisah, saat secara tak sengaja, dia bertemu dengan teman SMAnya di halaman kampus STAN.

"Loh, lu kuliah disini juga ternyata ?" sergahnya setengah tak percaya.

"Kagak. Gua cuman nganter dosen lu ..." jawab teman SMAnya sambil tersenyum.

Setelah ngobrol sana sini, dia baru ngeh kalau teman lamanya itu adalah sopir dosennya.
Pengalaman lain, dia geleng-geleng kepala setelah memergoki kawan lamanya yang lain dengan penampilan ala punk. Rambut jingkrak, baju lusuh, dan sepatu kumel.

Cerita istri saya lain lagi. Tadi pagi, dalam perjalanan menuju rumah mertua untuk menitipkan si kecil, di depan sebuah sekolah, istri saya melihat teman satu madrasahnya dulu terlihat berjualan makanan kecil di depan pagar. Istri saya tak sangsi lagi kalau itu adalah temannya. Dulu dia terbilang pandai, jadi semua pasti kenal termasuk istri saya.

Saya pribadi pun pernah mengalami hal yang sama. Tapi dengan kondisi yang berbeda. Namanya Bagio. Dia teman satu SD sekaligus SMP. Saya ingat betul ketika salah satu guru SD saya memvonis mbelis (mbeling banget) si Bagio. Tiga tahun SMA saya mendengar dia aktif di mushala di kampungnya. Tiga tahun kuliah di Jakarta, saya tak pernah menangar kabarnya. Setahun kemudian, ketika liburan lebaran, saya merasa setengah tak percaya. Bagio menjadi imam dan penceramah shalat tarawih di mushala kampung saya. Subhanallah ...

Kita boleh-boleh saja merasa terhenyak melihat kondisi mereka. Dan mereka sah-sah saja merasa malu atau kurang pede jika kondisinya diketahui oleh orang-orang yang pernah dikenalnya yang kini mereka anggap lebih "beruntung". Sampai-sampai, ini yang menjadi alasan mereka enggan menghadiri undangan reuni alumni.

Namun kawan, bukankah rizki itu sudah punya alamatnya masing-masing ? Bukankah iman itu berfluktuasi ? Dan bukankah takdir itu bisa dirubah ?

Bisa saja suatu saat keadaan berbalik. Kita bisa "jatuh" jika kita tak bersyukur dan menyia-nyiakan nikmat. Mereka pun bisa "sukses" jika mau terus berharap dan berupaya.

Pada titik ini akhirnya kita tersadar. Bahwa sebenarnya, apa yang telah kita capai saat ini, tak ada yang perlu kita banggakan. Karena "pertandingan" belumlah usai. Dan kesempatan untuk berjuang pun masih membentang di hadapan.


No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...