Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Monday, March 30, 2009

Menjalani hari-hari tanpa khadimat (baca; rewang)

[- Demak, 30 Maret 2009, 10.15 -]

"Hwaaaa ... ho .. ho ... hwaaaaaa ......" tangisan Aisya memecah obrolan kami.

Dengan tangan berlumpur gara-gara nyabutin rumput di belakang rumah, saya hanya bisa terpaku. Istri saya yang sedari tadi khusuk nyupir (nyuci piring), buru-buru membilas tangannya dengan handsoap dan lari ke kamar sejurus kemudian.
Biasa lah, Aisya pasti nangis kalau melihat tak ada orang kala terbangun.

Itulah sepenggal kisah rutin kami di saat weekend. Seolah sudah menjadi pakem, hari Sabtu adalah hari keenam kami "bekerja". Bedanya kami tak perlu jauh-jauh ke kantor. Cukup di rumah saja. Pengen tahu "bisnis rumahan" baru kami ? Nyupak (nyuci pakaian), nyupir (nyuci piring), nyantai (nyapu lanyai), ngepel, nyumob (nyuci mobil), nyarum (nyabutin rumput), lipet-lipet baju, setrika, walah-walaaaah. Baru ahad nya kami bisa istirahat, itupun kalau tak ada acara di lingkungan atau perkumpulan.

Bisanya, setelah jalan-jalan pagi keliling komplek, istri saya langsung memandikan Aisya, nyarapin, ngelonin, sampai bisa dipastikan dia tertidur lelap. Usai itu, tak berarti usai semuanya. Justru "pertunjukan" baru akan dimulai. Berdua kami bergumul dengan seabreg aktivitas rumahan hingga menjelang Dzuhur.

Dengan kondisi istri bekerja, ribet rasanya kalau semuanya dikerjakan tanpa bantuan khadimat atau rewang atau pembantu. Apalagi anak masih kecil. Masih harus ditemani. Meskipun sebenarnya bisa-bisa saja kami menjalaninya. Asalkan tiap hari bangun jam tiga pagi, langsung nyuci baju harian, siapin sarapan dan bekal siangnya. Karena jam enam pagi kami harus sudah cabut dari rumah menuju rumah mertua untuk nitipin Aisya sekalian berangkat ngantor. Pulangnya, sekitar jam 8 malam. Dengan tenaga sisa, nyupir dulu, ngrendem cucian buat besok paginya, sebelum akhirnya "tewas terkapar". Belum lagi aktivitas tambahan di lingkungan, organisasi, perkumpulan, yang rata-rata minta disisihkan waktu pada malam hari.

Kata orang cari rewang yang cocok memang susah. Kalau lewat makelar, biasanya harus ngasih biaya administrasi, belum lagi berdasarkan pengalaman tak bertahan lama. Bisa karena kitanya tak cocok, bisa juga karena sudah "diatur" sama si makelar. Disuruh berulah biar dipulangkan. Jalan satu-satunya, ya harus mau blusukan ke kampung-kampung, nemuin langsung orang tuanya. Harus sabar memang.

Sampai saat ini sudah dua rewang yang pernah ikut kami. Pertama minta pulang karena punya sakit maag akut. Padahal kitanya sudah cocok, anaknya sopan, berkerudung pula. Yang kedua sering mengecewakan istri, berHP tanpa melihat waktu, susah dibangunin kalau subuh. Akhirnya terpaksa kami memulangkan ke orang tuanya.

Ala kulli hal, itulah serunya hidup berumah tangga di tahun-tahun awal pernikahan kami. Hal-hal kecil yang kelihatan sepele, ternyata harus segera dicarikan solusinya.

2 comments:

you-DHA said...

so sweet de' sat:)

Toni Rachmanto said...

Assalamualaikum Wr Wb
akhirnya ketemu juga blog aisya putri.wah lucu yah aisya,walau belum pernah ketemu langsung sih.moga aisya bisa jadi putri yang cantik dan berbakti.amien.Jangan suka rewel ya aisya,kasihan abi dan umi.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...