Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Monday, February 23, 2009

Dan perang pun dimulai ...


Ahad sore kemarin, saya dan beberapa teman remaja masjid berkesempatan mencoba permainan paint ball di kawasan hutan Tinjomoyo Semarang. Permainan yang difasilitasi oleh tim Trustco Semarang ini membuat saya merasa seolah berada di dalam medan pertempuran sebenarnya. Dengan kostum serdadu lengkap plus rompi anti peluru dan pelindung kepala, serta senjata berpeluru karet sebesar kelereng berisi cat warna kuning.


Sebelum dimulai, instruktur menjelaskan terlebih dahulu aturan mainnya. Peserta dibagi menjadi dua regu yang saling barhadapan. Masing-masing terdiri dari empat orang. Misinya satu, siapa yang bisa mengambil topi instruktur yang telah dipasang di tengah-tengah, dan mengangkatnya selama sepuluh detik tanpa terkena tembakan, regu dialah yang menang.
Sebelum peluit tanda permainan dimulai, masing-masing regu diberi kesempatan untuk mengatur strategi. Sebagai komandan, saya hanya menginstruksikan anggota agar berusaha sebisa mungkin jangan terkena tembak.
Dan perang pun dimulai.
Setelah mendapat posisi berlindung yang aman, saya mulai mengincar sasaran. Ahaa ... itu dia si gendut Septian. Terlihat dia hanya berlindung di balik pohon dengan jarak kurang lebih 15 meter di depan saya. He .. he.. tapi sayang, pohon sama badannya gedean badannya. Tanpa ba bi bu saya berikan tembakan pertama. Yah meleset. Tembakan kedua, kena pohonnya. Keempat, kelima, keenam masih saja kena pohonnya. Baru setelah tembakan ketujuh, saya berhasil menembak kepalanya. Dia pun langsung ditarik mundur oleh instruktur.
Setelah berhasil "membunuh" satu musuh, saya pun merangsek maju. Tapi sayang, ternyata saya bernasib sama dengan Septian. Ada musuh yang mengincar saya. Saya tak tahu dimana posisi si penembaknya. Selain karena hari yang sudah mulai gelap, warna kostum yang menyerupai dedaunan membuat mata saya tak bisa melihat dengan jelas dimana posisi lawan. Mungkin ada tiga tembakan yang hanya mengenai pohon tempat saya berlindung. Dan baru tembakan keempat yang mengenai pinggul saya. Yaaah kenaa deh..
Beberapa menit kemudian akhirnya kami kalah.
Di ronde kedua kami pun berganti tempat. Setelah mendapat pengalaman berharga di ronde pertama, kini kami harus lebih berhati-hati lagi. Setelah peluit berbunyi, sebisa mungkin saya langsung menuju pohon yang paling dekat dengan posisi topi instruktur. Dan saya diam saja di situ, tanpa melepaskan tembakan sama sekali. Itung-itung hemat peluru he.. he...
Setelah terdengar sepi saya lari ke depan lagi. Menuju tumpukan ban yang ada di depan saya. Di balik tumpukan ban itu saya terpaksa tiarap sembari mengincar lawan yang berada tepat di arah jam dua belas. Setelah saya berondong beberapa kali tembakan akhirnya ... kena juga dia ...
Merasa yakin bisa mengambil topi instruktur, saya pun lari ke depan, dan ... wuss.. wuss ... wusss. Akibat tindakan nekat itu, semua lawan langsung mengincar saya. Ada beberapa peluru yang nyaris mengenai. Tapi saya tetap berlari ... berlari ... hingga akhirnya
sebuah peluru mengenai betis. Dua lagi menyusul mengenai dada dan kepala. Aaaahhhhh... Allahu Akbar maati aku ....
Dan permainan pun usai. Lagi-lagi kami kalah.
Sambil istirahat, kami pun berkelakar. Ada dua orang regu lawan yang mengaku telah menembak dada saya. Seorang lagi mengklaim menembak kepala saya. Terakhir, si Ari, anggota saya sendiri mengaku khilaf menembak betis saya. Waduh .... lha komandane dhewe kok ditembak ki piye to ...
Si gendut Septian dan tiga anggota saya (Ari, Niam, Wahyu)
Jangan bergerak ...!!!
Anggota Brigade Al Qassam, Ehem ...

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...