Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Friday, January 23, 2009

Menyikapi Rutinitas

[- Demak, 23 Januari 2009 -]

Rutinitas. Inilah yang mengisi lebih dari 90 persen waktu keseharian kita. Mulai bangun tidur, makan, minum, mandi, buang air, berangkat kerja, pulang kerja, sampai tidur kembali. Termasuk rutinitas ibadah wajib yang tak boleh kita tinggalkan bagi seorang muslim. Di antara rutinitas itu mungkin ada satu atau beberapa yang lebih banyak menguras energi dari pada yang lainnya. Perjalanan ke tempat kerja misalnya. Atau saat berhadapan dengan beban kerja yang menumpuk di kantor. Selebihnya, bisa jadi hanya rutinitas ringan yang tak boleh kita tinggalkan. Seperti mandi, makan, bayar tagihan dll.

Namanya saja rutinitas. Tentu harus dilakukan secara berulang-ulang atau terus menerus. Bisa harian, bulanan, atau tahunan. Karena sifatnya itulah terkadang rutinitas bisa menjadi sangat membosankan. Salah seorang teman sekantor yang terpaksa indekos dan hanya sepekan sekali bertemu keluarganya pernah mengeluh kepada saya. Dia bilang apa dia harus terus menerus seperti ini sambil menunggu mati ? Pulang ngantor, mandi, makan, tidur, bangun, berangkat lagi, pulang mandi, begitu ituu aja. Saya pun hanya tersenyum mendengarnya. Enggan memberi saran. Selain karena dia atasan saya, saya pun terkadang merasakan juga kejenuhan seperti yang dia rasakan.

Sahabat, kalau kita umpamakan. Kita ini ibarat sebuah mobil yang terdiri dari berbagai macam komponen penyusunnya. Tentunya, kalau mobil itu ingin dijalankan, kita harus melakukan beberapa prosedur standar terlebih dahulu. Seperti nyalakan kunci starternya, panaskan mesinnya sebentar jika mobil lama tak dipakai, injak pedal kopling, pindahkan tuas ke gigi satu, lepaskan kopling bersamaan dengan injakan pedal gas, dan mobil pun jalan. Bersamaan dengan itu puluhan bahkan ratusan sistem akan berjalan secara otomatis. Sistem roda bekerja, pengapian, kelistrikan, semuanya bergerak secara kontinyu.

Nah, seperti itu pula kita. Rutinitas keseharian yang kita lakukan bisa kita samakan dengan bergeraknya sistem dalam mobil tersebut. Bisa dibayangkan apa jadinya andai salah satu sistem tak mau jalan karena bosan atau kecapekan. Sistem kelistrikan mati misalnya. Tentu lampu-lampu, central lock, power windows, akan mati semua. Mobil pun akan berjalan dengan tersendat. Lebih parah lagi jika yang mati adalah sistem penggerak roda. Meski digas sekenceng apapun, mobil pasti tak akan mau bergeser sedikit pun. Apa pula jadinya jika tiba-tiba bosan mandi. Ogah ngantor, mogok makan. Atau yang lebih parah, tak mau ibadah.

Ada setidaknya dua hal yang bisa kita jadikan solusi permasalahan di atas.
Pertama, seperti halnya mobil, harus ada servis rutin untuk menjaga kestabilan performanya. Dalam kaitannya dengan diri kita, kita harus selalu menjaga kesehatan agar selalu tampil prima.
Kalau kita sakit, repot juga kan. Makan males, mandi ogah, ngantor apa lagi.

Kedua, yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana gaya si pengemudi itu sendiri. Apakah selalu fokus di jalan atau asal-asalan dan serampangan. Sebagus dan secanggih apapun, mobil tak akan awet kalau penggunanya sering mabuk waktu mengemudi. Apalagi nyetir tapi tak tahu mau kemana arahnya.
Dalam kaitannya dengan kita, kita butuh visi diri yang jelas dalam menjalani hidup. Dan setiap rutinitas, harus selalu kita kaitkan dengan visi kita. Mau kemana sebenarnya kita ini? atau apa yang sebenarnya ingin kita raih. Dengan demikian, setiap rutinitas akan selalu terasa bermakna dan penting bagi kita.


No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...