Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Monday, January 19, 2009

Korban AS Ada dimana-mana

Presiden Baru, Korban Baru AS (2)

Derek Manangka

INILAH.COM, Jakarta – Bukan hanya Indonesia yang pernah jadi korban kebijakan AS. Sejumlah negara dan pemimpin dunia lain mengalami nasib yang cukup buruk. Sebuah referensi sebelum menaruh asa kepada Barack Ovama. Siapa saja mereka?

Adalah Manuel Noriega, Presiden Panama (1983-1989) yang punya catatan tragis. Digulingkan dengan berbagai tuduhan, ditangkap petugas Biro Investigasi AS (FBI). Setelah ditangkap, Noriega diterbangkan ke AS untuk dipenjara.

Padahal Noriega naik kekuasaan atas restu AS. Ironisnya, AS juga yang berada di belakang penggulingannya. Panama strategis. Terletak di tengah-tengah Amerika Utara dan Amerika Selatan, Terusan Panama merupakan pintu gerbang untuk masuk keluar pelayaran dari Samudera Atlantik ke Samudera Pasifik atau sebaliknya.

Daniel Ortega, Presiden Nikaragua (1985-1990). Sebelum terpilih, ia memimpin gerakan Sandinista menggulingkan diktator Anastasio Somoza sebagai bagian operasi Badan Intelejen AS, CIA.

Tak lama setelah Ortega berkuasa, AS tak puas. Sandinista dianggap beraliran komunis. Ortega akhirnya jatuh dari kekuasaan. Baru Januari 2007, Ortega kembali memimpin Nikargua hingga kini. Terpilihnya Ortega sebuah tamparan bagi AS.

Keanggotaan Taiwan di PBB pada September 1971 langsung berakhir dan digantikan RRC. Pergantian itu terjadi karena AS sebagai salah satu anggota tetap DK PBB tidak lagi mengakui Taiwan dan beralih ke RRC.

Pengalihan itu didahului misi rahasia. Henry Kissinger, sebelum jadi Menlu, diutus pemerintah AS melakukan negosiasi dengan Beijing. Ironisnya selama mengakui Taiwan sebagai negara, kampanye pemimpin AS selalu menggambarkan RRC negara komunis ekspansionis dalam ideologi yang berbahaya.

Filipina: Marcos dan Aquino. Penempatan skuadron AS di pangkalan Clark dan kapal perangnya di terminal Subic membuat Filipina di bawah Presiden Ferdinand Marcos sebagai negara paling makmur di Asia Tenggara. Pangkalan militer AS mengundang dolar mengalir ke Manila.

Marcos berkuasa selama 21 tahun (1965-1986). Kekuasaan dan kejatuhannya tak lepas dari peran AS. Marcos terguling oleh people power, tak lama setelah musuh utamanya, Benigno Aquino dibunuh di Bandara Manila. Kematian Aquino menimbulkan dendam. Dan, dendam itu muncul karena agenda politik AS.

Simbol damai Kamboja berakhir ketika terjadi perang saudara di sana. Jenderal Lon Nol, Presiden Kamboja dukungan AS, menggulingkan raja Norodom Sihanouk. Sistem kerajaan digantikan dengan sistem republik. Sihanouk di mata AS terlalu dekat dengan blok komunis.

Tapi, Lon Nol tidak mampu menghadapi gempuran komunis. Dia terguling pada 1970, mengasingkan diri di AS. Akibat campur tangan AS, warga sipil yang tewas lebih dari 2 juta orang. Padahal, penduduk Kamboja tidak lebih dari 6 juta.

Perang Vietnam (1959-70) jelas sekali mempertontonkan keterlibatan AS. Kekalahan di Perang Vietnam membuat harga diri AS tercoreng. Sekalipun menggunakan peralatan perang modern, AS tak bisa menaklukan nasionalis Vietnam yang hanya menggunakan senjata sejenis ‘bambu runcing’ atau sitaan.

Gara-gara AS, Vietnam harus terpecah menjadi dua: Utara dan Selatan, saling membunuh dan mendendam. Salah satu luka yang sulit diobati dari kehadiran AS di Vietnam adalah hadirnya generasi Amersian (American Asian), anak-anak yang lahir dari kawin campur tentara AS dan gadis Vietnam. Anak-anak itu banyak yang ditinggal begitu saja. Banyak dari ibu mereka yang hidup merana ataupun menjadi wanita panggilan.

Korea Utara (komunis) dan Korea Selatan (non-komunis) hingga sekarang terus bersitegang. Yang membela batas kedua negara secara resmi adalah PBB. Tetapi secara de facto yang berperan atas pemisahan kedua negara itu, AS. Negara ini menempatkan sejumlah pasukan di perbatasan kedua Korea dan seolah-olah ingin menjadi juru damai. Namun sejatinya sudah lebih dari setengah abad, dua generasi Korea yang hilang, perdamaian itu tidak pernah terwujud.

Presiden Irak Saddam Husein, ditangkap pasukan AS di tahun 2003. Ia musuh utama AS. Padahal 20 tahun sebelumnya, Saddam digunakan AS menghadapi Iran. Karena Iran yang dipimpin oleh para Ayatullah, sangat berseberangan dengan AS.

Politik luar negeri AS yang tidak konsisten sangat mudah dibaca lewat hubungannya dengan negara-negara Arab, mulai dari Timur Tengah sampai Afrika Utara. Untuk mengetahui bagaimana AS memainkan manuvernya demi kepentingan nasionalnya bisa dilihat bagaimana dia membeda-bedakan perlakuan terhadap setiap anggota Liga Arab.

Hingga sekarang AS belum mencabut klaim bahwa Osama bin Laden adalah musuh utama AS dalam label terorisme. Tapi ketika sudah lebih dari tujuh tahun AS belum juga berhasil menangkap Bin Laden, mulai muncul kecurigaan. Yakni AS memang tidak akan pernah mau “menghabisi” Osama bin Laden. Masalahnya katanya karena Bin Laden masih mempunyai keluarga yang kuat hubungannya dengan keluarga Raja Arab Saudi. [Bersambung/I4]
sumber : www.inilah.com

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...