Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Thursday, November 27, 2008

Pertolongan-Nya adalah teguran-Nya


[- Demak, 27 Nopember 2008, 16.00 -]

Matahari mulai turun saat mobil kami memasuki kota Demak. Deretan mobil yang merayap terlihat melambat dari arah berlawanan. Raut wajah penumpang yang duduk di jok depan kebanyakan terlihat cemberut. Menyiratkan satu isi hati. Bosan.

Kemacetan seperti ini sudah menjadi santapan saya sehari-hari. Seolah menjadi bumbu penyemangat dalam upaya mencari nafkah di kota wali ini. Beruntung hingga kini saya masih istiqomah bersepeda motor dari Semarang. Disamping karena praktis dan anti macet, motor sangat murah meriah, meski cukup beresiko.

Bapak dan ibu mertua yang sudah lama tak berkunjung ke Demak berkali-kali berkomentar tentang perubahan pesat yang mereka lihat di sepanjang jalan Semarang-Demak yang baru saja kami lewati. Sudah lama mereka tak keluar kota. Di samping mungkin karena sudah merasa tak muda lagi, aktivitasnya berjualan di pasar Mranggen yang cukup padat bisa jadi membuat mereka tak sempat kemana-mana.

Memasuki kota Demak, sebuah plang penunjuk arah warna hijau membuat saya harus memilih salah satu di antaranya. Lurus, jika ingin melewati kota Demak. Dan ke kanan, jika ingin langsung melewati ring road. Sekejap saya berpikir, hari sudah mau maghrib, jangan sampai saya kemalaman di jalan. Kalau menjelang maghrib baru sampai Demak, bisa-bisa sampai Gresik tengah malam. Saya paling nggak kuat kalau nyetir malam-malam. Lebih baik ke kanan lewat ring road. Biar bisa tancap gas.

Tapi entah mengapa lintasan pikiran saya yang lain menyerobot. Kalau lewat kota kan bisa lewat Masjid Demak. Bapak pasti juga sudah lama tak kesana, pikirku. Sekalian nunjukin kantor saya dan kantor Om To, famili dari ibu mertua yang kerja di BPN Demak. Saya bingung sesaat. Sejurus kemudian ternyata hati ini memenangkan lintasan pikiran saya yang kedua. Saya memilih lurus. Lewat kota.

"Niki lho, Bu kantore kulo. Yen belok kiri, terus kiri jalan nika kantore Om To."
"Oooo..." jawab ibu sambil mengangguk-angguk. Sedangkan bapak hanya diam.

Memasuki putaran alun-alun, kami melewati masjid Demak di kiri jalan.

"Kok ora ana perubahan yo.." suara bapak memecah keheningan.

Entah apa yang ada di benak Bapak dan Ibu saat ini. Mungkin bayangan-bayangan masa lampau saat mereka berkunjung ke Demak. Ya, kenangan masa lalu yang hanya mereka saja yang tahu.

Laju mobil saya bawa pelan saja. Cukup gigi dua. Itulah keunggulan Panther. Kita bisa membawa mobil sepelan mungkin tanpa menginjak kopling. Cocok kalau kondisi macet seperti ini.

Memasuki pasar Bintoro, saya merasa agak aneh dengan pijakan rem. Kok tambah dalam ya pijakannya. Beberapa detik kemudian makin dalam, sampai mentok. Astaghfirullah. Rem saya blong. Saya panik luar biasa. Untung saja mobil berjalan pelan. Dan tak ada pengguna jalan lain yang berdekatan di depan dan di belakang mobil saya. Syukurlah. Langsung saya tekan lampu hazard, saya tarik hand rem pelan-pelan, sampai mobil berhenti di kiri jalan. Fiuhh…

Saya diam sejenak. Mengatur nafas agar lebih tenang...

*******************************

Singkat cerita, saya ditolong oleh seseorang yang punya kenalan montir yang juga karyawan toko onderdil mobil di daerah Tanubayan. Selang minyak rem saya bocor. Dan perjalanan menuju Gresik pun akhirnya tertunda hampir lima jam.

Setelah kejadian itu saya berpikir. Apa jadinya kalau saya waktu itu memutuskan untuk lewat ring road yang lebar dan bebas hambatan. Mungkin saya langsung ambil kecepatan tinggi. Dan mungkin ... mungkin saya tak bisa menulis kisah ini untuk anda.

Yaa Rabbi... sudah sering Engkau menolongku. Entah ini yang keberapa kalinya.
Namun hingga kini, aku masih tak pandai mensyukurinya.

NB:
Buat Mas Yuli, (karyawan PDAM Bonang) sekeluarga makasih atas bantuannya.
Mas Umat dan Mas (saya lupa namanya) makasih sudah bantuin betulin remnya.
Mas Supardi Isuzu Astra, makasih tawaran astraworld emergency nya.
Mas Budi Wanamukti, makasih atas doanya.







No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...