Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Monday, November 10, 2008

Menjadi Pahlawan

[- Demak, 10 Nopember, 14.40 -]

Hari ini tanggal 10 Nopember 2008. Tepat saat republik ini merayakan hari pahlawan. Sebagaimana tahun-tahun kemarin, tahun ini pun diselenggarakan acara penganugerahan gelar pahlawan kepada orang-orang yang dinilai berjasa pada bangsa ini.
Namun sayang, gaungnya tak sedahsyat pemberitaan prosesi pemakaman jenazah trio bom Bali. Kalau kita mau menengok head line koran hari ini, hampir semuanya memasang kisah tamatnya riwayat orang-orang yang oleh sebagian kalangan diberi gelar "pahlawan syuhada" itu. Seolah menjadi gong pamungkas atas rentetan pemberitaan mengenai mereka sebelumnya.
Fenomena ini pun seolah mengabarkan kepada kita bahwa mereka juga layak diberi gelar pahlawan, minimal oleh orang-orang yang sejalan dengan pemahaman mereka. Pahlawan, atas keteguhan mereka menegakkan apa yang diyakininya benar. Pahlawan, atas keberanian mereka menanggung risiko atas apa yang diyakininya benar. Dan pahlawan, atas pengorbanan mereka di depan regu tembak di atas padang nirbaya.

Para pejuang negeri ini, yang dengan taruhan nyawanya mereka bertempur, kisahnya mengisyaratkan kepada kita bahwa mereka memiliki komitmen yang harus diperjuangkan. Tak cukup hanya itu. Mareka juga memiliki keberanian dan juga pengorbanan.
Simak kisahnya. Tanpa komitmen yang kuat, mustahil Jenderal Besar Sudirman mau memimpin pasukannya bergerilya menyusuri hutan dalam keadaan sakit. Tanpa keberanian, tidak mungkin arek-arek Suroboyo yang hanya bersenjatakan bambu berlari menyongsong desingan peluru dan mortir tentara sekutu. Tanpa pengorbanan, mustahil kisah heroik pejuang yang meledakkan dirinya di gudang amunisi Belanda hadir di telinga kita.

Komitmen, keberanian, dan pengorbanan. Menurut saya, itulah sarat minimal yang harus ada dalam diri seorang pahlawan. Nilai-nilai itulah yang membuat nama mereka terus hidup meski jasad mereka telah mati.

Saudaraku, kita bisa menjadi pahlawan. Kita juga tak harus menunggu mati untuk itu. Tinggal kita memilih, pahlawan atas apa? atau bagi siapa ? Inilah pertanyaan yang terlebih dahulu harus kita jawab. Sebelum mengerahkan semua potensi untuk mengejarnya. Seperti mengarahkan anak panah yang siap melesat ke papan sasaran. Sedikit saja kita salah menentukan arah, larinya anak panah akan semakin melenceng jauh dari sasaran. Wallahu a'lam.








No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...