Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Monday, November 10, 2008

Hikmah dibalik Eksekusi Amrozi Cs

[- Demak, 10 Nopember 2008, 12.05 -]

Santernya pemberitaan eksekusi Amrozi, Muklas, dan Imam Samudera di berbagai media membuat kita seolah terlibat di dalamnya. Menghadirkan respon emosi yang beragam. Ada yang tersenyum puas. Ada yang berteriak menghujat. Tak sedikit yang menangis sedih.
Namun tampaknya kemisteriusan masih membalut ragam respon emosi di atas. Ada yang masih ragu apakah pelaksanaan eksekuasi sebagai penerapan UU pemberantasan terorisme sudah benar-benar bebas dari intervensi asing. Ada yang masih bertanya apakah benar bom sedahsyat dan semahal itu adalah hasil "kreasi" mereka (Azahari dkk) semata. Tanpa ada kekuatan lain yang mendompleng aksi mereka? Ada yang masih bimbang apakah mereka bertiga benar-benar syahid di hadapan Allah SWT. Wallahu a'lam. Sebagai seorang muslim yang tidak sepenuhnya sependapat dengan pandangan mereka tentang konsep jihad, saya turut menaruh hormat atas kepergian mereka. Karena bagaimana pun juga masih ada cahaya iman di dalam hati mereka.
Setelah membaca koran Jawa Pos edisi hari ini, hati saya merinding membayangkan saat-saat terakhir yang mereka alami menjelang eksekusi dilaksanakan. Dan inilah pelajaran paling berharga yang bisa saya ambil dari ketiganya. Setelah ketiganya memperolah kepastian kapan eksekusi mati dilaksanakan, tentu mereka berupaya memaksimalkan waktu tanpa sia-sia.
Seperti diberitakan sejumlah media, mereka selalu shalat dan membaca Al quran. Bahkan ketika dijemput tim eksekutor pun, mereka tampak segar karena habis mandi dan memakai wangi-wangian. Bisa jadi kualitas shalat mereka sebagaimana yang diperintahkan nabi "Shalatlah seolah-olah esok engkau mati". Dan sebagai bukti kesiapan dan keikhlasan mereka atas kematian yang segera menjelang, mereka minta untuk tidak ditutup matanya saat terjangan timah panas menembus jantung mereka.
Lantas bagaimana dengan kita ? Siapkah kita menghadapi kematian yang kita tak tahu kapan waktunya ? Bagaimana kondisi kita saat sang "eksekutor" izra'il mencabut ruh kita hingga terlepas dari raganya?













No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...