Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Friday, November 28, 2008

Di rumah ini ...


Di sini
Di rumah ini
Jatuh bangun kami membangun mimpi
Mimpi tentang sebuah pohon Cinta
Yang berbuah Surga
Karena kami sadar
Bila kini kami masih bisa saling berbagi
Bila kini kami masih bisa saling menolong
Bila kini kami masih bisa saling melindungi
Esok pasti kita kan sendiri
Tak ada lagi penolong
Tak ada lagi pelindung
Tak ada lagi tempat bergantung
Tinggallah pohon cinta yang berbuah surga
Yang kan abadi menemani

Aisya in the car




Thursday, November 27, 2008

Pertolongan-Nya adalah teguran-Nya


[- Demak, 27 Nopember 2008, 16.00 -]

Matahari mulai turun saat mobil kami memasuki kota Demak. Deretan mobil yang merayap terlihat melambat dari arah berlawanan. Raut wajah penumpang yang duduk di jok depan kebanyakan terlihat cemberut. Menyiratkan satu isi hati. Bosan.

Kemacetan seperti ini sudah menjadi santapan saya sehari-hari. Seolah menjadi bumbu penyemangat dalam upaya mencari nafkah di kota wali ini. Beruntung hingga kini saya masih istiqomah bersepeda motor dari Semarang. Disamping karena praktis dan anti macet, motor sangat murah meriah, meski cukup beresiko.

Bapak dan ibu mertua yang sudah lama tak berkunjung ke Demak berkali-kali berkomentar tentang perubahan pesat yang mereka lihat di sepanjang jalan Semarang-Demak yang baru saja kami lewati. Sudah lama mereka tak keluar kota. Di samping mungkin karena sudah merasa tak muda lagi, aktivitasnya berjualan di pasar Mranggen yang cukup padat bisa jadi membuat mereka tak sempat kemana-mana.

Memasuki kota Demak, sebuah plang penunjuk arah warna hijau membuat saya harus memilih salah satu di antaranya. Lurus, jika ingin melewati kota Demak. Dan ke kanan, jika ingin langsung melewati ring road. Sekejap saya berpikir, hari sudah mau maghrib, jangan sampai saya kemalaman di jalan. Kalau menjelang maghrib baru sampai Demak, bisa-bisa sampai Gresik tengah malam. Saya paling nggak kuat kalau nyetir malam-malam. Lebih baik ke kanan lewat ring road. Biar bisa tancap gas.

Tapi entah mengapa lintasan pikiran saya yang lain menyerobot. Kalau lewat kota kan bisa lewat Masjid Demak. Bapak pasti juga sudah lama tak kesana, pikirku. Sekalian nunjukin kantor saya dan kantor Om To, famili dari ibu mertua yang kerja di BPN Demak. Saya bingung sesaat. Sejurus kemudian ternyata hati ini memenangkan lintasan pikiran saya yang kedua. Saya memilih lurus. Lewat kota.

"Niki lho, Bu kantore kulo. Yen belok kiri, terus kiri jalan nika kantore Om To."
"Oooo..." jawab ibu sambil mengangguk-angguk. Sedangkan bapak hanya diam.

Memasuki putaran alun-alun, kami melewati masjid Demak di kiri jalan.

"Kok ora ana perubahan yo.." suara bapak memecah keheningan.

Entah apa yang ada di benak Bapak dan Ibu saat ini. Mungkin bayangan-bayangan masa lampau saat mereka berkunjung ke Demak. Ya, kenangan masa lalu yang hanya mereka saja yang tahu.

Laju mobil saya bawa pelan saja. Cukup gigi dua. Itulah keunggulan Panther. Kita bisa membawa mobil sepelan mungkin tanpa menginjak kopling. Cocok kalau kondisi macet seperti ini.

Memasuki pasar Bintoro, saya merasa agak aneh dengan pijakan rem. Kok tambah dalam ya pijakannya. Beberapa detik kemudian makin dalam, sampai mentok. Astaghfirullah. Rem saya blong. Saya panik luar biasa. Untung saja mobil berjalan pelan. Dan tak ada pengguna jalan lain yang berdekatan di depan dan di belakang mobil saya. Syukurlah. Langsung saya tekan lampu hazard, saya tarik hand rem pelan-pelan, sampai mobil berhenti di kiri jalan. Fiuhh…

Saya diam sejenak. Mengatur nafas agar lebih tenang...

*******************************

Singkat cerita, saya ditolong oleh seseorang yang punya kenalan montir yang juga karyawan toko onderdil mobil di daerah Tanubayan. Selang minyak rem saya bocor. Dan perjalanan menuju Gresik pun akhirnya tertunda hampir lima jam.

Setelah kejadian itu saya berpikir. Apa jadinya kalau saya waktu itu memutuskan untuk lewat ring road yang lebar dan bebas hambatan. Mungkin saya langsung ambil kecepatan tinggi. Dan mungkin ... mungkin saya tak bisa menulis kisah ini untuk anda.

Yaa Rabbi... sudah sering Engkau menolongku. Entah ini yang keberapa kalinya.
Namun hingga kini, aku masih tak pandai mensyukurinya.

NB:
Buat Mas Yuli, (karyawan PDAM Bonang) sekeluarga makasih atas bantuannya.
Mas Umat dan Mas (saya lupa namanya) makasih sudah bantuin betulin remnya.
Mas Supardi Isuzu Astra, makasih tawaran astraworld emergency nya.
Mas Budi Wanamukti, makasih atas doanya.







Syukurku pada-Mu ya Allah. Terima kasih semuanya ...

[- Demak, 27 Nopember 2008, 09.00 -]

Puji syukur atas segala nikmat Allah yang melimpah. Setelah tiga hari saya mengambil cuti, hari ini saya merasakan aura kesegaran. Fresh.

Bukan hanya semata-mata karena saya bisa istirahat sejenak di rumah. Namun lebih karena kemurahan Allah yang telah hadir bertubi-tubi. Dia telah memberi kesempatan kepada kami untuk berkumpul dan berbagi kasih sayang (kembali). Dia telah mencukupi semua kebutuhan. Dia pula yang memampukan kami memberi kebahagiaan kepada orang-orang yang kami cintai. Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah.

Jumat kemarin saya mengajak ibu dan bapak mertua serta adik ipar berkunjung ke Gresik. Menjemput anak kedua serta cucu mereka yang juga istri dan anak saya, kembali ke Semarang. Ya, setelah sekian lama kami menanti, akhirnya datang juga. Pengajuan pindah istri ke Semarang telah dikabulkan.

Rasanya seperti tak percaya. Padahal baru tiga bulan surat permohonan itu diajukan. Allahu Akbar.

Buat semua sahabat lamaku di Gresik, khususnya akh Faris, syukron atas bantuan antum selama saya di Gresik. Makasih atas pinjaman mobilnya waktu memeriksakan kandungan istri ke Surabaya. Makasih atas segala saran-saran dan masukan antum. Afwan belum sempat berkunjung.

Buat Pak Kacab, Bu Emy, Pak Budi Satrio, saya tak tahu dengan apa saya harus berterima kasih.

Bu Anis, Bu Anik, Pak Bekti, Pak Yanto, Mbak Dyah Manis dan semua teman-teman di Pelindo Gresik, makasih atas semua bimbingan yang diberikan pada istri saya.

Sahabatku Heny dan Bagus, berkat kalian berdua lah kami bisa "bersama"(kembali).

Dan semua yang tak bisa saya sebutkan satu per satu. Melalui ketulusan dan kepedulian kalianlah, Allah menghadirkan kebahagiaan itu untuk kami.




Thursday, November 20, 2008

Perut muless...

[- Demak, 20 Nopember 2008, 14.00 -]

Hari ini saya merasa tidak fit. Perut rasanya tak nyaman. Bawaannya lemas dan kurang bertenaga. Sebenarnya ini sudah saya rasakan sejak semalam. Saat tengah malam saya terbangun karena perut bergejolak. Tapi saya pikir entar juga sembuh. Makanya saya putuskan untuk tetap berangkat ngantor.

Apa karena durian ya? atau karena seripingnya (sejenis kerang laut yang juga saya makan) ? Atau karena kecapekan trus masuk angin. Maklum Semarang-Demak sering kehujanan. Biasanya saya kalau masuk angin yang diserang perut. Mules-mules disertai mencret.

Tak tahulah. Semoga saja segera normal kembali. Memang benar juga kata nabi. Kita tak boleh berlebih-lebihan dalam makan. Makanlah setelah lapar, dan berhentilah sebelum kenyang. Kalau melanggar akibatnya ya seperti saya ini...



Wednesday, November 19, 2008

Durian Party


[- Demak, 19 Nopember 2008 -]

Untuk kali kedua, saya dan teman-teman satu ruangan berkunjung ke Jepara. Tepatnya di kelurahan Jambu, Kecamatan Mlonggo. Kebetulan sekarang lagi awal-awal musim durian. Jujur saja, saya jarang sekali makan durian. Hanya terkadang mendengarkan perbincangan seru teman-teman sekantor tentang durian.





































Monday, November 17, 2008

Rahasia Do’a Mengatasi Hutang

oleh : Ihsan Tandjung
Abu Said Al-Khudhri radhiyallahu ’anhu bertutur: “Pada suatu hari Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam masuk masjid. Tiba-tiba ada seorang sahabat bernama Abu Umamah radhiyallahu ’anhu sedang duduk di sana. Beliau bertanya: ”Wahai Abu Umamah, kenapa aku melihat kau sedang duduk di luar waktu sholat?” Ia menjawab: ”Aku bingung memikirkan hutangku, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya: ”Maukah aku ajarkan kepadamu sebuah do’a yang apabila kau baca maka Allah ta’aala akan menghilangkan kebingunganmu dan melunasi hutangmu?” Ia menjawab: ”Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda,”Jika kau berada di waktu pagi maupun sore hari, bacalah do’a:


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.” Kata Abu Umamah radhiyallahu ’anhu: ”Setelah membaca do’a tersebut, Allah berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayarkan lunas hutangku.” (HR Abu Dawud 4/353)

Doa ampuh yang diajarkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kepada Abu Umamah radhiyallahu ’anhu merupakan doa untuk mengatasi problem hutang berkepanjangan. Di dalam doa tersebut terdapat beberapa permohonan agar Allah ta’aala lindungi seseorang dari beberapa masalah dalam hidupnya. Dan segenap masalah tersebut ternyata sangat berkorelasi dengan keadaan seseorang yang sedang dililit hutang.

Pertama, ”Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih.” Orang yang sedang berhutang biasanya mudah menjadi bingung dan tenggelam dalam kesedihan. Sebab keadaan dirinya yang berhutang itu sangat potensial menjadikannya hidup dalam ketidakpastian alias bingung dan menjadikannya tidak gembira alias berseduih hati.

Kedua, ”Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas.” Biasanya orang yang berhutang akan cenderung menjadi lemah. Dan biasanya orang yang malas dan tidak kreatif dalam menjalani perjuangan hidup cenderung mudah berfikir untuk menacari pinjaman alias berutangketika sedikit saja menghadapi rintangan dalam hidup. Sedangkan orang yang rajin cenderung tidak berfikir untuk berhutang selagi ia masih punya ide solusi selain berhutang dalam hidupnya. Orang rajin bahkan akan menolak bilamana memperoleh tawaran pinjaman uang karena ia anggap itu sebagai suatu beban yang merepotkan.

Ketiga, ”Aku berlindung kepada Engkau dari sifat pengecut dan kikir.” Biasanya orang yang terlilit hutang menjadi orang yang diliputi rasa takut. Ia cenderung menjadi pengecut. Jauh dari sifat pemberani. Mentalnya jatuh dan tidak mudah memiliki kemantapan batin. Dan orang yang berhutang mudah menjadi kikir jauh dari sifat demawan. Bila kotak amal atau sedekah melintas di depannya ia akan membiarkannya berlalu Hal ini karena ia menggunakan logika ”Bagaimana aku bisa bersedekah, sedangkan hutangku saja belum lunas.”

Keempat, ”Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.” Doa bagian akhir mengandung inti permohonan seorang yang terlilit hutang. Ia serahkan harapannya sepenuhnya kepada Allah ta’aala Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji agar menuntaskan problem hutang yang berkepanjangan membebani hidupnya. Di samping itu ia memohon agar dirinya dilindungi Allah ta’aala dari kesewenang-wenangan manusia.

Kesewenangan dimaksud terutama yang bersumber dari fihak yang berpiutang. Sebab tidak jarang ditemukan bahwa fihak yang berpiutang lantas bertindak zalim kepada yang berhutang. Ia merasa telah menanam jasa dengan meminjamkan uang kepada yang berhutang. Lalu ia merasa berhak untuk berbuat sekehendaknya kepada yang berhutang apalagi jika yang berhutang menunjukkan gejala tidak sanggup melunasi hutangnya dengan segera.

Itulah sebabnya dunia modern dewasa ini banyak diwarnai oleh berbagai tindak kezaliman. Sebab dalam era dunia modern manusia sangat mudah berhutang. Dalam kebanyakan transaksi manusia dianjurkan untuk terlibat dalam hutang alias transaksi yang tidak tunai. Sedikit sedikit kredit. Apalagi skema pelunasan hutangnya melibatkan praktek riba yang termasuk dosa besar. Islam adalah ajaran yang menganjurkan manusia untuk membiasakan diri bertransaksi secara tunai. Ini bukan berarti Islam mengharamkan berhutang. Hanya saja Islam memandang bahwa berhutang merupakan suatu pilihan yang bukan ideal dan utama. Itulah sebabnya ayat terpanjang di dalam Al-Qur’an ialah ayat mengenai berhutang, yaitu surah Al-Baqarah ayat 282.
Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu didatangi anaknya yang hendak meminjam uang. Lalu ia berkata kepadanya ”Nak, aku tidak punya uang.” Lantas anaknya mengusulkan agar ayahnya pinjamkan dari Baitul Maal (Simpanan Kekayaan Negara). Maka Umar-pun menulis memo kepada pemegang kunci Biatul Maal yang isinya: ”Wahai bendahara, tolong keluarkan sekian dinar dari Baitul Maal untuk aku pinjamkan ke anakku. Nanti biar aku cicil dengan potong gajiku tiga bulan ke depan.”

Maka memo tersebut dibawa oleh anaknya dan diserahkan kepada bendahara. Tidak berapa lama iapun kembali menemui ayahnya dengan wajah murung. ”Ayah, aku tidak menerima apa-apa dari bendahara kecuali secarik kertas ini untuk disampaikan kepadamu.” Maka Umar menyuruh anaknya membacakan isi memo balasan itu. Isinya ”Wahai Amirul Mu’minin Umar bin Khattab, bagiku sangatlah mudah untuk mengeluarkan sekian dinar dari Baitul Maal untuk engkau pinjam. Namun aku minta syarat terlebih dahulu darimu. Aku minta agar engkau memberi jaminan kepadaku bahwa tiga bulan ke depan Amirul Mu’minin Umar bin Khattab masih hidup di dunia untuk melunasi hutang tersebut.” Maka Umar langsung beristighfar dan menyuruh anaknya pulang...!
Sumber : www. eramuslim.com


My Driving Partner

Panther varian lama, Hi sporty, Direct Injection 2500 cc. Keluaran pabrik akhir 1996. Meski cukup berumur, namun mesinnya masih tangguh. Konsumsi solarnya pun irit. Rata-rata 1:13 (satu liter solar bisa untuk 13 km). Bahkan untuk perjalanan luar kota bisa sampai 1:15. Ini saya hitung saat perjalanan Semarang- Gresik minggu yang lalu.
........................(bersambung)

Friday, November 14, 2008

Thursday, November 13, 2008

Bersitan hati

[- Semarang, 13 Nopember 2008, 22.00 -]

Bukanlah pengecut, orang yang lari dari kenyataan. Jika sadar, kenyataan yang ada kelak akan membinasakannya selamanya.




Monday, November 10, 2008

Menjadi Pahlawan

[- Demak, 10 Nopember, 14.40 -]

Hari ini tanggal 10 Nopember 2008. Tepat saat republik ini merayakan hari pahlawan. Sebagaimana tahun-tahun kemarin, tahun ini pun diselenggarakan acara penganugerahan gelar pahlawan kepada orang-orang yang dinilai berjasa pada bangsa ini.
Namun sayang, gaungnya tak sedahsyat pemberitaan prosesi pemakaman jenazah trio bom Bali. Kalau kita mau menengok head line koran hari ini, hampir semuanya memasang kisah tamatnya riwayat orang-orang yang oleh sebagian kalangan diberi gelar "pahlawan syuhada" itu. Seolah menjadi gong pamungkas atas rentetan pemberitaan mengenai mereka sebelumnya.
Fenomena ini pun seolah mengabarkan kepada kita bahwa mereka juga layak diberi gelar pahlawan, minimal oleh orang-orang yang sejalan dengan pemahaman mereka. Pahlawan, atas keteguhan mereka menegakkan apa yang diyakininya benar. Pahlawan, atas keberanian mereka menanggung risiko atas apa yang diyakininya benar. Dan pahlawan, atas pengorbanan mereka di depan regu tembak di atas padang nirbaya.

Para pejuang negeri ini, yang dengan taruhan nyawanya mereka bertempur, kisahnya mengisyaratkan kepada kita bahwa mereka memiliki komitmen yang harus diperjuangkan. Tak cukup hanya itu. Mareka juga memiliki keberanian dan juga pengorbanan.
Simak kisahnya. Tanpa komitmen yang kuat, mustahil Jenderal Besar Sudirman mau memimpin pasukannya bergerilya menyusuri hutan dalam keadaan sakit. Tanpa keberanian, tidak mungkin arek-arek Suroboyo yang hanya bersenjatakan bambu berlari menyongsong desingan peluru dan mortir tentara sekutu. Tanpa pengorbanan, mustahil kisah heroik pejuang yang meledakkan dirinya di gudang amunisi Belanda hadir di telinga kita.

Komitmen, keberanian, dan pengorbanan. Menurut saya, itulah sarat minimal yang harus ada dalam diri seorang pahlawan. Nilai-nilai itulah yang membuat nama mereka terus hidup meski jasad mereka telah mati.

Saudaraku, kita bisa menjadi pahlawan. Kita juga tak harus menunggu mati untuk itu. Tinggal kita memilih, pahlawan atas apa? atau bagi siapa ? Inilah pertanyaan yang terlebih dahulu harus kita jawab. Sebelum mengerahkan semua potensi untuk mengejarnya. Seperti mengarahkan anak panah yang siap melesat ke papan sasaran. Sedikit saja kita salah menentukan arah, larinya anak panah akan semakin melenceng jauh dari sasaran. Wallahu a'lam.








Hikmah dibalik Eksekusi Amrozi Cs

[- Demak, 10 Nopember 2008, 12.05 -]

Santernya pemberitaan eksekusi Amrozi, Muklas, dan Imam Samudera di berbagai media membuat kita seolah terlibat di dalamnya. Menghadirkan respon emosi yang beragam. Ada yang tersenyum puas. Ada yang berteriak menghujat. Tak sedikit yang menangis sedih.
Namun tampaknya kemisteriusan masih membalut ragam respon emosi di atas. Ada yang masih ragu apakah pelaksanaan eksekuasi sebagai penerapan UU pemberantasan terorisme sudah benar-benar bebas dari intervensi asing. Ada yang masih bertanya apakah benar bom sedahsyat dan semahal itu adalah hasil "kreasi" mereka (Azahari dkk) semata. Tanpa ada kekuatan lain yang mendompleng aksi mereka? Ada yang masih bimbang apakah mereka bertiga benar-benar syahid di hadapan Allah SWT. Wallahu a'lam. Sebagai seorang muslim yang tidak sepenuhnya sependapat dengan pandangan mereka tentang konsep jihad, saya turut menaruh hormat atas kepergian mereka. Karena bagaimana pun juga masih ada cahaya iman di dalam hati mereka.
Setelah membaca koran Jawa Pos edisi hari ini, hati saya merinding membayangkan saat-saat terakhir yang mereka alami menjelang eksekusi dilaksanakan. Dan inilah pelajaran paling berharga yang bisa saya ambil dari ketiganya. Setelah ketiganya memperolah kepastian kapan eksekusi mati dilaksanakan, tentu mereka berupaya memaksimalkan waktu tanpa sia-sia.
Seperti diberitakan sejumlah media, mereka selalu shalat dan membaca Al quran. Bahkan ketika dijemput tim eksekutor pun, mereka tampak segar karena habis mandi dan memakai wangi-wangian. Bisa jadi kualitas shalat mereka sebagaimana yang diperintahkan nabi "Shalatlah seolah-olah esok engkau mati". Dan sebagai bukti kesiapan dan keikhlasan mereka atas kematian yang segera menjelang, mereka minta untuk tidak ditutup matanya saat terjangan timah panas menembus jantung mereka.
Lantas bagaimana dengan kita ? Siapkah kita menghadapi kematian yang kita tak tahu kapan waktunya ? Bagaimana kondisi kita saat sang "eksekutor" izra'il mencabut ruh kita hingga terlepas dari raganya?













Saturday, November 8, 2008

Aisya kini ...

<- Sabtu, 8 Nopember 2008, 12.00 ->

Saat aku datang, dia sudah tidur. Tampak pulas sekali. Dengusan napasnya terdengar teratur saat kutempelkan hidungku di atas pipinya. Aroma khas bayi membuat hatiku tersenyum. Ah, Aisya anakku, kulihat kau semakin besar. Baru seminggu abi berpisah denganmu, namun rindu abi seolah tak mau kompromi.

Banyak yang harus aku syukuri darinya. Alhamdulillah, memasuki bulan ke empat usianya, belum pernah dia sakit serius. Hanya panas sehari setelah imunisasi kedua, dan gatal-gatal jamur karena tak terbiasa dengan panasnya Gresik. Tidurnya pun jarang merepotkan. Biasanya bangun setiap jam empat pagi. Kata Mbak Tini baby sitterku Aisya termasuk bayi pendiam dan penurut.

Dia juga tak ada masalah dengan Asi Eksklusif. Aku pun semakin yakin akan manfaatnya setelah melihat track record kesehatannya. Hanya beberapa teman-teman istri di kantor yang masih kurang setuju dengan asi eksklusif. Apa ngga kasian...Dikasih susu formula aja ga papa. Begitu mereka menyarankan. Malah ada yang bilang dikasih makanan tambahan aja dikit-dikit. Tapi ternyata istriku tetap kukuh dgn komitmen semula. Penerapan manajemen asi ekslusif. Maksimal sampai usianya 6 bulan. Baru setelahnya di beri makanan tambahan + Asi.

Seperti minggu-minggu sebelumnya, dua hari ini (Sabtu-Ahad) kuhabiskan waktuku dengannya. Bersamanya seolah mengusir semua kepenatan dan kerumitan. Benar-benar sebuah rekreasi yang efektif. Melupakan rasa nyeri di sekitar tulang ekor akibat tujuh jam duduk di dalam bus Semarang-Gresik.

Akhirnya aku dan istriku pun hanya bisa menyimpulkan. Dia adalah "malaikat" pertama yang Allah turunkan untuk melengkapi nikmat-nikmat-Nya atas kami.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ? (QS. Ar Rahman 13)


___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Friday, November 7, 2008

Bahagia yang seperti apa ?

[- Demak, 7 Nopember 2008, 09.45 -]

Bagaimana kabar anda hari ini ? Semoga kebahagiaan selalu menyertai anda. Kebahagiaan yang mampu membuat anda tersenyum. Kebahagiaan yang menginspirasi. Kebahagiaan yang tak berujung duka. Itulah kebahagiaan haqiqi.

Bahagia banyak ragamnya. Sensasi atas rasa bahagia itu pun bermacam-macam. Tergantung apa penyebabnya. Seorang anak yang mendapat hadiah dari ayahnya bahagia. Seorang karyawan yang naik gajinya bahagia. Beli mobil baru sesuai kemampuan dan keinginan bahagia. Mampu membeli rumah bahagia. Mendapatkan anugerah seorang anak setelah menunggu sekian lama bahagia. Bagi anda yang pernah merasakan kebahagiaan di atas, tentu masih ingat betul sensasinya.

Coba bandingkan dengan jenis bahagia yang ini. Saat melihat senyuman bahagia seorang sahabat yang senang akan kehadiran kita. Ketika mendengar luapan kebahagiaan seorang teman yang sangat berterima kasih atas bantuan tulus kita. Atau saat-saat kita dipeluk erat dengan penuh haru oleh orang yang telah kita tolong dengan ikhlas. Meski apa yang kita berikan tak seberapa di banding kemampuan kita untuk memberinya lebih. Sensasi apa yang anda rasakan ?

Sekarang mari kita bandingkan dua kelompok contoh di atas. Kebahagiaan karena kita mendapatkan sesuatu biasanya tak bertahan lama. Dan kita bisa saja merasa bosan dan jenuh setelahnya. Atau tak ada yang bisa menjamin, apa yang kita dapatkan itu tidak menimbulkan petaka atau musibah nantinya

Namun lain halnya kala kita bahagia saat mampu membuat orang lain bahagia. Kebahagiaan itu bisa kita rasakan lebih lama. Karena ada simpul-simpul yang terajut erat antara kita dan orang tersebut. Dan simpul inilah yang akan mengikat hati. Membuat orang selalu ingat, dan serasa tak ingin dipisahkan. Karena itulah mengapa nabi sangat menganjurkan untuk saling memberi hadiah untuk mengikat hati satu sama lain. Memberi hadiah saja mampu mengikat hati, apalagi memberi bantuan kepada orang yang sangat membutuhkan.

Di samping itu, jenis bahagia ini akan memberikan multiple effect kepada kita. Yaitu kita akan menddapatkan kebahagiaan-kebahagiaan lain yang akan mengikuti sesudahnya. Apa sebab ? Pertama karena doa orang yang telah kita bahagiakan. Kedua karena janji Allah yang akan membalas setiap kebaikan dengan kebaikan.

Kebahagiaan ini juga bisa menjadi sumber inspirasi bagi kita. Saat kita terjatuh dan berkubang dalam rasa rendah diri yang hebat. Atau saat diri ini merasa mandul dalam "produksi" kebaikan. Ingatlah senyuman orang-orang yang bahagia karena ketulusan yang pernah kita berikan. Niscaya, kepercayaan diri dan produktifitas kebaikan kita akan bangkit kembali.

Jadi mana yang lebih bermakna, lebih tahan lama, dan lebih menginspirasi? Bahagia karena kita bahagia atau Bahagia karena membuat orang lain bahagia?


Qurban Kang Slamet

oleh : Jojo Wahyudi

Masih jelas teringat di sedikit ruang hatiku, akan ketulusan seorang Tuna Netra bernama “Slamet”. Saat aku masih sekolah tingkat pertama di SMP Banyumas, Jawa Tengah Kala itu aku memutuskan untuk mencoba tinggal dan sekolah jauh dari orang tua yang berada di Jakarta. Aku tinggal bersama Bude di Desa Wogen, Kaliori Banyumas. Desa kami terletak persis di tepi sungai Serayu, yang kadang airnya hijau dan kadang coklat bila hujan turun.
Sudah menjadi kebiasaan warga desa menjadikan sungai sebagai MCK. Bukan karena malas mandi di sumur, tetapi karena keterbatasan kemampuan warganya untuk membuat sumur yang harganya cukup mahal. Hanya beberapa warga saja yang sanggup membuat sumur di rumah, dan warga yang tak mempunyai sumur akan meminta airnya untuk mengisi gentong persediaan minum dan memasak. Sementara untuk mandi, mencuci dan “membuang sisa olah makanan dalam perut” sudah tentu sungai Serayu tempatnya.
Adalah pemandangan umum, bila pagi hari para lelaki dewasa melakukan kegiatan “ngangsu”(mengambil air) dari sumur tetangga yang mampu. Tidak terkecuali Kang Slamet (begitu panggilan akrab kami untuknya) juga mempunyai kegiatan ngangsu tersebut. Meskipun dia belum lagi dewasa benar, mungkin umurnya hanya terpaut dua/tiga tahun denganku. Sungguh sebuah rutinitas cukup berat, meskipun menyehatkan. Apalagi Kang Slamet tidak seberuntung kami yang mempunyai panca indera yang lengkap. Dengan intuisi dan kebiasaan karena rutin dilakukan, dia dapat pulang pergi dari rumah orang tuanya ke sumur terdekat tanpa pernah tersesat.
Pekerjaan itu sudah dilakoninya semenjak dia berumur sembilan tahun, saat anak-anak sebayanya tertawa gembira pergi ke sekolah. Di kampung kami belum tersedia sekolah khusus tuna netra, kalau pun ada belum tentu Kang Slamet dapat ikut mengenyam pendidikan SLB yang biayanya pasti mahal. Tak akan sanggup keluarga Kang Slamet yang hanya petani “kecil” membayar uang buku, karena untuk makan saja mereka hanya mengandalkan hasil tani dari secuil tanah yang mereka miliki.
Selain ngangsu, keseharian Kang Slamet adalah “ngarit”, mencari rumput untuk pakan ternak. Karena ketekunannya, banyak tetangga yang memelihara sapi atau kambing, memakai jasa beliau mencari rumput dan sisa-sisa panen kacang & kedelai di sawah.
Satu hal yang aku kagum pada sosok pemuda yang satu ini, dia tidak pernah tertinggal sholat lima waktu. Bahkan dilakukannya di tepi sawah saat dia mencari rumput, apabila suara Adzan sudah terdengar. Sering pula dengan berjamaah di Surau milik Pak Lebe (Lebay/Ustadz).
Satu-satunya pendidikan yang dia dapat hanyalah mengaji di Surau Pak Lebe. Walau dia hanya belajar mengaji melalui pendengaran (lagi-lagi karena Al Qur’an dengan huruf Braile pasti sulit di dapat) tetapi dia cukup hafal surat-surat di Juz Amma, mungkin karena tak pernah absen mengaji dan berkat sholat Subuh berjamaah rutin yang di adakan Pak Lebe di Suraunya, sehingga Kang Slamet banyak mendengar surat-surat yang dibacakan dalam pengajian dan sholat. Tidak jarang Kang Slamet menjadi Imam bila kami anak2 dan remaja sholat berjamaah. Suaranya cukup merdu dan enak di dengar telinga.
Suatu hari, Kang Slamet mendapat kebahagiaan yang tak terperi. Pak Trunosemito, penduduk desa yang punya sedikit kelebihan harta, memberikan cempe (seekor anak kambing) jantan padanya, sebagai ucapan terima kasih atas rumput yang selalu dicarikan kang Slamet untuk kambing-kambing peliharaan. Mata “buta”nya tak dapat menutupi kebahagiaan yang terpancar menyala-nyala dari wajah.
“ Ya Gusti Alloh, syukur Alhamdulillah, nek cempene wis gedhe kulo iso melu Qurban, (Syukur Alhamdulillah, kalau anak kambingnya sudah besar, saya bisa ikut Qurban)” dengan keyakinan penuh dia berucap saat kami tanya akan di apakan anak kambing itu.
“ Lho........ apa ora eman-eman, koe iso ngingu, nek wis gedhe iso di dhol neng pasar. Duite iso di tabung (apa tidak sayang, kamu bisa memeliharanya, nanti kalau sudah besar bisa dijual di pasar. Uangnya bisa ditabung)” kami yang berkumpul mendengarkan ucapannya ikut sumbang saran.
“ He he he, ora opo opo, nggo Qurban wae (tidak apa-apa, untuk Qurban saja)” sambil tertawa lucu, kang Slamet tetap pada pendiriannya.
Waktu berlalu, kami semua melewatinya dengan rutinitas seperti biasa. Hingga suatu hari tiba musim kemarau yang amat panjang, lain seperti kemarau-kemarau sebelumnya. Sumur milik warga desa satu persatu mulai kering. Semakin jauh saja kami mendapatkan air bersih untuk memasak dan minum. Air di sungai Serayu yang mulai dangkal, meski tampak bening, hanya bisa kami gunakan untuk mandi dan mencuci saja.
Begitu pula tanaman di sawah. Tak satupun yang dapat tumbuh dan mengalahkan teriknya matahari. Para petani di desa kami hanya mengandalkan pengairan dari air hujan (sawah tadah hujan). Semua terkena dampak dari musim paceklik saat itu. Tidak terkecuali Kang Slamet, semakin jauh saja dia “ngangsu” dan “ngarit”, mencari rumput pakan ternak. Melewati jalan setapak yang baru pertama kali di rambah, tentulah bukan hal yang mudah untuk seorang tuna netra. Masih beruntung bila bisa bertemu orang lewat yang bisa di mintai tolong menunjukkan arah menuju sumur yang tidak kering. Keadaan sulit itu semakin sulit saja bagi kang Slamet, kadang hingga Maghrib dia baru bisa pulang ke rumah dengan badan luluh lantak karena seharian memikul air dan rumput yang tidak seberapa banyak, tetapi jarak yang di tempuh cukup untuk mengitari seluruh desa.
Kang Slamet juga manusia, tak selamanya fisiknya dapat tetap bugar melawan putaran perubahan alam. Akhirnya dia tumbang juga, jatuh sakit. Hampir satu minggu dia tidak muncul melakukan rutinitas seperti biasa. Tugas “ngangsu” sementara digantikan oleh sang Bapak yang mulai renta.
Setelah lewat satu minggu, kesehatan kang Slamet belumlah pulih benar, kembali cobaan menghampirinya. Anak kambing peliharaannya yang mulai besar, tiba-tiba mati. Mungkin tertular penyakit hewan musiman, atau bisa jadi mati kekurangan pakan karena memang sudah lebih seminggu ini tak ada yang memperhatikan.
Anak malang itu sedih bukan alang kepalang. Harta satu-satunya yang dia punya diambil oleh Yang Maha Memiliki. Sirna sudah harapan kang Slamet untuk dapat ber-Qurban.
Beberapa hari setelah berita kematian kambingnya, kami melihat kang Slamet terpekur bersimpuh di sudut Surau. Air bening meleleh deras di kedua pipinya.
Kami tak sampai hati untuk menegurnya ataupun mengucapkan sekedar salam. Hingga datang pak Lebe ke Surau saat Ashar tiba. Melihat yang terjadi, dengan tenang beliau menghampiri bocah yang sedang dirundung nestapa itu.
“ Ono opo tho Met ? Cah lanang koq nangis ? (Ada apa Met ? Anak laki-laki koq nangis ?)” dengan lembut dan seolah-olah tak tahu kejadian yang terjadi, pak Lebe menepuk pundak kang Slamet.
Kang Slamet tak langsung menjawab, tangan kekarnya berusaha menutupi air mata yang mengalir. Dengan sisa sesenggukan yang ada dia berkata, “ Kulo ora iso Qurban pak, sak umur-umur uripku, wedhus iku sing dhadhi karepku nggo tak persembahke ke Gusti Alloh.(Saya tidak bisa ber-Qurban pak, seumur hidupku, kambing itu yang jadi harapan untuk dipersembahkan pada Gusti Allah)”
“ mmmm......... Gusti Alloh ngerti kekuatan hamba-hambaNya. Ndak mungkin Gusti Alloh mekso-mekso (memaksa) yen (kalau) hambaNya ndak sanggup.”dengan sangat tenang dan teduh pak Lebe mengobati kesedihan kang Slamet.
“ Jalaran keikhlasan....wedhuse wis ngenteni awakmu ning Syurgo, kanggo tungganganmu ngesuk ning akherat (Karena keikhlasan.....kambingnya sudah menantimu di Surga, untuk kendaraanmu kelak di akhirat)” kalimat terakhir pak Lebe ini yang tidak bisa ku lupa hingga detik ini.
Kini, aku tidak tahu lagi keberadaan dan kabar kang Slamet, hampir dua puluh sembilan tahun yang lalu peristiwa ini terjadi, aku belum bisa menghilangkan rasa “iri”ku pada sosok pemuda tuna netra dengan keikhlasan yang tanpa batas, menembus akal sehat orang yang bekerja di kota besar seperti diriku saat ini. Yang akan sangat berat melepas sebagian hartanya untuk di qurbankan di jalan Allah, apalagi mempersembahkan seluruh harta yang di miliki untuk Allah sang Pemilik Sesungguhnya seluruh alam dan isinya. Kami pekerja kantoran, yang tidak perlu “ngangsu” beratus-ratus meter dengan telanjang kaki hanya untuk mendapatkan dua ember air, dan tak perlu bertahun-tahun “ngarit” hanya untuk seekor anak kambing, tidak mempunyai keikhlasan yang penuh untuk ber-Qurban di jalanNya.
Kami yang mencari rizqi di tempat luar biasa mewah, di atas gedung tinggi menghujam langit, dengan suasana nyaman, duduk di kursi empuk, lebih memilih membeli hewan Qurban “patungan” sumbangan perusahaan dari pada menyediakan sendiri Qurban-nya dari harta yang banyak tersimpan.
Kang Slamet pemuda tuna netra dan miskin, seperti kata pak Lebe, sudah memiliki sendiri kendaraan yang akan digunakannya kelak di akhirat. Sedangkan kami yang berkecukupan hanya menyediakan se-ekor sapi untuk kami tunggangi bersama-sama ratusan orang satu kantor.

dari lantai sebelas sebuah gedung tinggi di Sudirman, 06 November 2008(dipersembahkan untuk Kang Slamet, teman satu desa yang kini entah berada di mana) Aku sangat iri padamu Kang.

Sumber : www.eramuslim.com


Tuesday, November 4, 2008

Anakku Aisya

Alhamdulillah, anakku tumbuh semakin besar. Di usianya yang 3 bulan lebih 24 hari ini, dia tumbuh sehat.

Letak Keutamaan Insan Menurut Imam Al-Ghazali

Sahabat…
Untuk dapat mensyukuri kondisi diri kita, ada baiknya kita merenungkan kata-kata bijak nan sarat hikmah dari Imam Al-Ghazali berikut, semoga Allah menolong kita agar mampu berbuat sebagaimana potensi kita yang Dia Kehendaki…amien.
Ilmu (al-‘ilm) yang paling utama ialah mengetahui akan Allah, sifat-sifat-Nya dan tindakan-tindakan-Nya. Disinilah terletak kesempurnaan manusia. Dan pada kesempurnaan inilah bergantung bagian dan kebaikan manusia di hadapan Tuhan Yang Agung dan Sempurna.
Jasad (raga) itu kendaraan dari an-Nafs (jiwa). An-Nafs itu tempat ilmu dan ilmu itulah tujuan manusia dan hakikat dirinya, yang untuk itulah manusia diciptakan. …….
Manusia dipandang dari segi bahwa ia makan dan berketurunan—maka ia sama dengan tumbuh-tumbuhan.
Dipandang dari segi bahwa ia merasa dan bergerak dengan ikhtiarnya sendiri, sama dengan binatang.
Dipandang dari rupa dan bentuknya, ia sama dengan gambar yang dilukis pada dinding.
Letak keistimewaan manusia ialah karena ia dapat mengetahui hakikat segala sesuatu.
Barangsiapa mempergunakan semua anggota dan kekuatannya ke arah membantu mendapatkan ilmu dan mengamalkannya, maka ia serupa dengan malaikat; atau dengan kata lain ia menyusul martabat malaikat dan patutlah ia disebut malak. Sebagaimana firman-Nya: “Ini bukanlah seorang basyar, melainkan ia seorang malak yang mulia” (QS Yusuf [12]: 31).

Sumber:Kitab Keajaiban Hati halman 21-22

Dikutip dari www.serambitashawwuf.blogsome.com

Allah itu ....

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

“Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jamaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...