Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Thursday, September 11, 2008

Kantin Kejujuran

Orang bilang, korupsi terjadi karena dua unsur, yakni adanya kesempatan dan kemauan. Keduanya tak bisa berdiri sendiri karena saling melengkapi. Dan para siswa di SMP Negeri 1 dan SMA Negeri 1, keduanya di Bekasi, kini menghadapi uji mental atas dua hal tersebut.

Sejak seminggu lalu, di dua sekolah unggulan itu didirikan "kantin kejujuran". Berbeda dari kantin pada umumnya, kantin kejujuran adalah tempat semuanya serba self service alias melayani diri sendiri. Tidak ada penjaga, tidak ada yang akan menerima dan menghitung uang kembalian jika ada. Semuanya dilakukan sendiri.

Di situlah tantangannya. Kesempatan untuk mengambil makanan dan minuman tanpa membayar terbuka lebar karena tidak ada yang menjaga. Para siswa dituntut jujur pada dirinya sendiri untuk membayar makanan dan minuman yang dibelinya.

Pukul 10 pagi itu, misalnya. Usai pelajaran olahraga, Muhammad Dendy Burhan dan teman-temannya dari kelas VII-7 SMPN 1 berkerumun untuk mengambil minuman kotak dan botol dari lemari es di kantin kejujuran. Mereka kemudian mencomot kudapan, seperti donat keju, roti cokelat, dan martabak yang terpajang di etalase.

Bukannya langsung melahap makanan yang sudah ada di tangan, mereka malah antre untuk menulis barang-barang pembelian mereka itu pada sebuah buku besar. Lalu mereka itu pada sebuah buku besar. Lalu mereka memasukkan uang ribuan ke dalam kaleng yang disediakan di atas meja. "Aku kurang kembalian Rp500, nggak ada disini, pake duitmu dulu yah," ujar Dendy kepada seorang temannya.

Dendy, bocah berpostur kecil kelahiran 12 tahun laulu itu tampak bersemangat ketika berceloteh tentang kantin kejujuran. "Asik malah, kita jadi latihan buat jujur. Dari dulu kan nggak ada kayak ginian," katanya. Menurut dia, kantin itu selalu penuh sesak.

Ide kantin kejujuran ini bermula dari Komisi Pemberantas Korupsi. Penyakit korupsi yang mencapai titik kronis di Indonesia cukup membuat puyeng para penegak hukum yang masih punya hati nurani. Pendidikan anti-korupsi tak tepat lagi diberikan kepada orang-orang yang telah menikmati jabatan atau mencicipi kekuasaan. Makin dini pendidikan moral diberikan, diharapkan makin tergerus juga keinginan untuk melakukan korupsi.

Ide inilah yang kemudian diwujudkan beberapa pemerintah daerah, termasuk Bekasi. Wali kota Mochtar Mohammad membuat nota kesepahaman dengan kejaksaan negeri, kecamatan, karang taruna, dan dua sekolah, yakni SMAN 1 dan SMPN 1, sebagai pilot project. Peresmian secara simbolis kantin kejujuran ini dilakukan di SMAN 1 Bekasi, sehari sebelum tahun ajaran baru dilaksanakan, pertengahan Juli lalu.

Karena bersifat self service dan tak ada yang mengawasi, selain kejujuran, menulis makanan dan minuman yang dibeli adalah wajib. Uniknya, di kantin kejujuran sekolah ini, para siswa atau guru yang "lupa" membayar diberi kesempatan membayar esok harinya. "Itu untuk menunjukkan bahwa kami tidak mau men-judge (menghakimi) siapapun yang hari ini belum membayar. Dia diberi kesempatan untuk membenahi diri," tutur Henny Widhaningsih, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Bekasi.

Dendy dan Dimas pernah menjumpai teman-teman mereka yang memanfaatkan kesempatan untuk mengambil makanan tanpa membayar. "Pernah kami tegur juga sih, tapi kadang males juga karena malah bikin keributan," kata Dimas.

Indikator berhasil tidaknya program ini adalah dari modal. "Kalau bertambah, berarti kami berhasil. Tetapi, kalau rugi, itu artinya masih banyak yang tidak jujur alias tidak membayar," kata Henny.

Selain untuk melatih kejujuran, kantin kejujuran juga mendatangkan manfaat lai. "Kami jadi belajar berwira usaha. Meski kecil-kecilan, kami jadi tahun bagaimana pencatatan dan penghitungan setiap pembelian dan penjualan," kata Muhammad Ghany Iskandar, Ketua OSIS SMPN 1 Bekasi.

Kantin Kejujuran memang tidak menjamin seseorang bisa bersih dari korupsi. Namun, meski kesempatan itu ada, bila kemauan untuk menilap itu tak ada, bolehlah kita berharap bangsa ini agak tersembuhkan dari penyakit kronis itu.

Sumber: Gatra No. 39 Tahun XIV ... Agustus 2008

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...