Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Tuesday, September 30, 2008

FW: [InspirasiIndonesia] Daily Article : Paradigma Career Security

----- Original Message -----
Subject:[InspirasiIndonesia] Daily Article : Paradigma Career Security
Date:Thu, 25 Sep 2008 8:14:33
From:Mohamad Yunus, Mr <
yunus@widatra.com>
To:Milis_InspirasiIndonesia <
InspirasiIndonesia@yahoogroups.com>,Milis HROpenSource <HROpenSources@yahoogroups.com>

Paradigma Career
Security
Oleh Ubaydillah, AN

Dari penggunaan yang lazim istilah
paradigma sering diartikan sebagai pola / model tertentu yang kita anut.
Paradigma berpikir tertentu akan mempengaruhi
sikap, tindakan dan kebiasaann
tertentu. Paradigma dengan kata lain sering tidak disadari
menjadi 'hukum' dan kita semua adalah anak dari hukum itu. Oleh
sebab itu logislah kalau dikatakan,
salah satu syarat untuk maju adalah mengganti (baca: menyempurnakan) paradigma
lama dengan paradigma baru yang
lebih unggul.


Dalam hal pekerjaan / karir,
sedikitnya ada dua paradigma yang berkembang yaitu job security
dan career security. Job security merujuk pada keamanan
atas pekerjaan yang dimiliki atau
diberikan oleh pihak perusahaan (external), sementara career security merujuk
pada keamanan atas bidang karir atau
pekerjaan yang dipilih oleh diri
sendiri (internal). Dalam paradigma job security maka kesalahan terbesar
adalah munculnya keyakinan bahwa kita bekerja untuk
orang lain. Tentu saja pandangan
seperti ini sudah kadaluwarsa sebab pijakan perkembangan karir haruslah
diciptakan dari diri individu. Pekerjaan memang
bisa saja milik perusahaan
tetapi karir adalah milik anda". Pola berpikir yang mengedepankan job security
seringkali justru menjadi "pembunuh" bagi
sumberdaya terbesar yang anda miliki.
Adakah yang salah dari paradigma
job security itu sampai dijuluki sebagai "pembunuh" sumberdaya individu?
Kalau dikatakan salah, haruskah semua orang
meninggalkan kantor untuk mendirikan
perusahaan sendiri, menjadi business owner, self-employment atau investor
seperti yang digambarkan dalam 'paradigm
shift' ala Robert Kiyosaki dalam
"Cash flow Quadrant" ? Jawabannya tentu tidak mutlak harus demikian.

Posisi dan Misi

Perbedaan arti job security
dan career security akan membentuk pemahaman irrational yang mandul
kalau diartikan secara posisi tetapi akan 'klop' kalau
diartikan secara misi. Artinya,
untuk memahami career security maka anda harus melepaskan diri dari apa
pun posisi anda (karyawan, professional, pemilik
usaha) dan hanya berpegang pada
misi bahwa diri andalah yang menjadi sumber segalanya bagi kelangsungan
karir anda. Dengan kata lain, career security
adalah ajaran mentalitas berupa
The enterprising mental attitude - mentalitas pengusaha. Lagi - lagi
kita terjebak dalam arti posisi dengan kalimat pengusaha
karena istilah ini sudah dikramatkan
sedemikian rupa selama bertahun-tahun sehingga membuat kebanyakan orang
takut untuk menyebut dirinya pengusaha,
padahal suka atau tidak suka, semua
orang adalah pengusaha, pejuang gagasannya. Inilah inti dari paradigma
career security.
Agar tidak terlalu banyak menghadapi
jebakan idiom, maka perubahan paradigma dari job security ke career security
harus diatur dengan tata letak (realisasi
misi) yang tidak saling berlawanan.
Hal itu mengingat bahwa setiap paradigma mengandung nilai plus-minus. Tugas
kita adalah mengambil plus dari paradigma
lama untuk dijadikan lebih plus
dengan paradigma baru. Paradigma job security yang telah menyelimuti
kultur kita mewariskan kepercayaan bahwa modal
untuk membeli keamanan atas pekerjaan
adalah loyalitas dan kerja keras. Pada batas yang terlalu jauh, mentalitas
demikian akan 'membutakan' penglihatan
terhadap adanya 'gold mine' di dalam
diri yang menunggu sentuhan 'gold mind'.
Hal lain yang perlu diingat lagi
adalah bahwa paradigma merupakan materi ajaran mentalitas yang dimaksudkan
untuk mengubah konstruksi pola pikir dan tidak
perlu mengubah bentuk tatanan
fisik kalau memang secara riil belum mampu dan tidak diperlukan. Paradigma
career security mengajarkan perubahan mindset
(pola pikir) dari bekerja dengan
cemeti perintah menuju ke bekerja atas keinginan untuk memperbaiki diri
atau dorongan berprestasi di tempat kerja. Cemeti
perintah akan menciptakan karakter
'asking for' dalam arti 'low bargain' yang membuat banyak orang melihat
tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan
sebagai beban hidup. Sementara
career security akan menciptakan karakter mental sebagai 'giver'.
Tangan "giving" bagaimana pun akan lebih mulia di
banding tangan "asking".
Hal terakhir yang harus diingat juga
adalah bahwa perubahan paradigma sebenarnya merupakan jembatan peradaban
dari level rendah ke level yang lebih
tinggi. Kalau orang sudah berpegang
pada paradigma lebih positif maka kemungkinan besar dapat dikatakan bahwa
ia punya potensi lebih besar untuk
menciptakan perilaku yang
lebih positif dalam merespon keadaan. Sebab keadaan yang sebenarnya terjadi,
meskipun kita menganut paradigma job security,
tetapi toh kita bisa mudah kehilangan
pekerjaan karena keputusan orang lain, kebijakan lembaga, atau bahkan perubahan
negara lain. Kalau dikaji
untung-ruginya, career security
lebih mendorong pada upaya menciptakan persiapan di dalam untuk menghadapi
perubahan keadaan di luar sementara job
security tidak mendorong demikian
atau lebih cenderung pasrah. Artinya perubahan paradigma dari job security
ke career security melambangkan tangga
peradaban yang lebih atas
/ lebih untung.
Dengan sedikit pertimbangan di atas,
rasanya tidak ada ruginya atau bahkan tidak mengandung resiko ancaman
keamanan apapun kalau kita sudah bisa
menyambut baik ajakan untuk
mengganti paradigma kerja dari job security ke career security. Alasan
rational dan faktual yang dapat kita jadikan pijakan
untuk mengganti paradigma itu adalah
kenyataan bahwa pekerjaan tidak lagi menyisakan ruang 'comfort zone'
atau paling tidak ukurannya makin sempit .
Penyempitan itu bisa disebabkan
oleh banyak faktor, mulai dari persaingan, peristiwa eksternal, dan perubahan
kebijakan.
Persaingan yang oleh para ahli diistilahkan
sudah mencapai tingkat hyper menuntut kualitas pengecualian. Kualitas
rata-rata sudah semakin jauh dari
perhitungan. Kalau ada perusahaan
membutuhkan - misalnya saja - tenaga accounting dengan kualifikasi S1,
tentu semua orang mengatakan mudah. Tetapi
kalau ditambah kualifikasinya harus
bisa bahasa Inggris, sudah berkurang yang berani mengatakan mudah. Apalagi
kalau ditambah dengan pengusaan job skill
yang memang dibutuhkan untuk melaksanakan
pekerjaan riil di lapangan, misalnya saja harus menguasai program MYOB,
peraturan perpajakan, Brevet A / B,
maka dipastikan tidak semua orang
mengatakan mudah. Lebih-lebih kalau ditambah embel-embel harus berpenampilan
'menarik'.

Ketrampilan

Paradigma career security
bertumpu pada kekuatan ketrampilan, yaitu mengeluarkan semua sumberdaya
internal, keunggulan, dan bakat di tempat kerja
agar bisa lebih mendatangkan manfaat
dan prestasi bagi diri kita dan bagi orang lain. Ketrampilan diartikan
sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu
dengan tepat dan mahir (Skill is
the ability to do something expertly). Arah pengembangan ketrampilan
bisa mengacu pada formula yang sudah lazim dengan
sedikit penyempurnaan.
Di antara formula yang dapat disebutkan di sini adalah:

1. Ketrampilan dan
Sikap

Ketrampilan
kerja (job skill) dipahami sebagai kemampuan untuk mengerjakan suatu pekerjaan.
Kalau dielaborasi keterkaitannnya dengan aneka ragam
'human capital' maka job skill
lebih banyak diperankan oleh IQ (Intellectual Quotient). Mental skill mengacu
pada pengertian leadership skill yaitu kemampuan
menyelesaikan urusan benda hidup
atau sering disebut software skill seperti misalnya menangani persoalan
hubungan dengan manusia. Mental skill lebih
banyak diperankan oleh EQ (Emotional
Quotient).
Dengan paradigma kerja baru maka
fokus pengembangan tidak lagi perlu diarahkan pada wilayah dikhotomistik
tetapi merebut keduanya dengan menempuh
cara belajar melewati garis pembatas
definitif itu. Tidak lagi menggunakan jarum jam tetapi sudah saatnya menggunakan
kompas. Tidak lagi menganut
paradigma mesin tetapi manusia yang
benar-benar manusia dengan segala kemampuan untuk memilih yang lebih baik
dan tidak lagi berbicara mana yang lebih
penting antara job skill dan mental
skill.

2. Pikiran dan Tindakan

Rasanya
sudah tidak asing kalau kita sering membuat definisi tentang kemampuan
orang di mana ada orang yang cuma bisa mengerjakan tetapi tidak bisa
membuat konsep. Paradigma lama itu
tak terasa menjebak kita ke dalam pembatas kemampuan yang menyempitkan.
Lebih-lebih kalau sudah disikapi secara
perang. Si A hanya fasih dengan
konsepnya, 'omong-doang' dan sebaliknya si B hanya bisa bekerja tetapi
tidak bisa berpikir kritis..
Paradima kerja baru membutuhkan pengalihan
focus untuk memperluas batas definitif kemampuan yang tidak lagi hanya
bisa mengerjakan atau hanya berpikir
melainkan mengasah keduanya. "Jika
Morita menciptakan kerajaan Sony tanpa menggunakan jasa konsultan atau
Sam Walton yang tak bergelar MBA sukses
membangun Wal Mart, maka jawabnya:
mereka bukan sekedar people of action tetapi sekaligus people of thought
- pemikir yang kritis.

3. Belajar

Keahlian
ini bertumpu pada keahlian unutk "belajar bagaimana belajar yang sesungguhnya" ,
bukan sekedar 'kesediaan diajar'. Sama sekali bukan sebuah
sikap untuk menafikan makna 'kesediaan
diajar' yang telah membuat kita menjadi tahu akan tetapi ketika sudah berbicara
kunci utama pengembangan manusia
(individu / organisasi) maka kunci
itu adalah menjadi 'learner'. Dengan menjadi learner, gap yang diciptakan
oleh pemahaman dikhotomistik dari sekian acuan
pengembangan skill dapat dijembatani.
Bahkan sebetulnya fakta alamiyah telah lebih dulu menjelaskan bahwa
semua 'gained quality' tidak bisa dilepaskan dari
unsur learning di dalamnya termasuk
bagaimana cara berjalan kaki bagi bayi.
Supaya bisa menjadi learner lagi
seperti bayi, maka syarat yang harus dipenuhi adalah kesediaan menjadi
'beginner' yang selalu dapat melihat materi/objek
dengan lensa baru (creative) dan
tanda tanya (curiosity). "You can learn new things at any time in your
life if you're willing to be a beginner. If you actually
learn to like being a beginner,
the whole world opens up to you." Kata Barbara Sher. Ada kalanya 'block
mental' terjadi bukan karena kita tidak tahu tetapi
justru karena kita sudah tahu. (jp)

Have a positive day!
Salam Inspirasi,
Mohamad Yunus
HRD & General Services Manager
PT Widatra Bhakti
Moderator I2
www.inspirasiindone
sia.com
"You
CREATE your OWN REALITY"

__._,_.___

Messages in this topic ( 2 )

Reply (via web post)

Start a new topic

Messages

>> Jadi MASTER PRAKTISI NLP tahun ini juga! Awali tahun 2009 dengan level pikiran dan perilaku yang dahsyat! I2 dan NLP INDONESIA membuka dua kelas Master Praktisi di penghujung tahun ini! Anda bisa lebih fleksibel MEMILIH yang sesuai dengan Anda!
Bagi yang belum menjadi Praktisi, kesempatan untuk menjadi Master Praktisi terbuka dengan sebuah paket di penghujung tahun. Kelas ketiga, atas permintaan peminat, dibuka di bulan November 2008.
SEKARANG! Giliran Anda untuk menjadi praktisi ber-LISENSI resmi dari Dr. Richard Bandler! Hubungi Sdri. Desty/Tina di 021-64700221/64700422 untuk informasi lebih lanjut.

Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest Switch format to Traditional

Visit Your Group

Yahoo! Groups Terms of Use

Unsubscribe

Recent Activity

30
New Members

Visit Your Group

Share Photos
Put your favorite
photos and
more online.

Moderator Central
Yahoo! Groups
Join and receive
produce updates.

All-Bran
10 Day Challenge
Join the club and
feel the benefits.

.

__,_._,___


___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...