Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Thursday, September 18, 2008

Di antara dua pilihan

[- Demak, 18 Ramadhan, 11.45 -]

Dilematis. Itulah sepertinya yang dirasakan istri saya saat ini. Semalam dia ditelpon oleh kawan sekantornya. "Gimana mbak, kapan rencana masuk kantornya. Teman-teman pada nanyain nih. Yang ngerjain pajak mau diklat prajabatan." Dia pun kaget lantaran tak menyangka kalau kemarin adalah hari cuti terakhirnya. Mungkin karena terlalu fokus pada si kecil sehingga amanahnya di kantor pun terlupakan.

Sudah lama niat istri saya untuk mengajukan pindah ke Semarang dengan alasan ikut suami. Sejak awal-awal pernikahan kami tentunya. Namun semuanya terbentur pada pilar pertama prosedur perusahaan, ijin dari manager. "Restu" beliau lah yang pertama kali harus dikantongi. Dan ternyata beliau masih belum rela kehilangan seorang bawahannya. Mungkin karena keterbasan SDM, dan banyaknya volume pekerjaan waktu itu. Bahkan beliau minta menunggu nanti saja kalau ada pergantian manager. Dan minta ijin saja pada manager yang baru. Saat itulah ujian kesabaran dimulai. Dan sejak saat itu pula kami menjalani kehidupan rumah tangga long distance Semarang-Gresik. Sebuah kehidupan yang kurang sehat menurutku.

Kurang lebih setahun setengah kemudian, tepatnya bulan Juli yang lalu, tibalah jua saat yang ditunggu-tunggu itu. Ada pergantian manager. Tentu ini secercah harapan buat kami. Namun yang membuat istri saya ketar-ketir waktu itu adalah, ternyata timing sertijabnya bersamaan dengan hari terakhir istri saya masuk kantor sebelum cuti melahirkan. Praktis kondisi ini memaksanya untuk sedikit bermuka tembok, memohon agar manager yang baru mau mengijinkan permohonannya. Bayangkan, perkenalan saja belum...

Beruntung manager yang baru orangnya baik. Dan beruntung pula, sebelum dipindah ke Gresik domisili beliau ada di Semarang. Sehingga memudahkan kami untuk bersilaturahmi ke rumahnya selama masa cuti. Inilah kemudahan yang Allah berikan kepada kami.

Sesuai prosedur, ijin rekomendasi dari manager akan dijadikan dasar bagi GM untuk mengajukan permohonan ke kantor pusat. Alhamdulilah, GM melalui ibu manager personalia sangat begitu merespon permohonan istri saya. Bahkan beliau lah yang dengan aktif memastikan ketersediaan tempat di Semarang. Lagi-lagi Allah memudahkan urusan kami.

Namun kemudahan Allah tak berhenti di situ. Istri saya mendapat info dari kawan dekatnya di kantor pusat, bahwa di saat yang sama, Semarang sedang mengajukan permohonan penambahan karyawan. Dan kebetulan posisi yang dibutuhkan sama dengan posisi istri di Gresik. Allahu Akbar..!

Singkat cerita, dengan bantuan ibu manager personalia yang baik itu, semua prosedur formal telah dipenuhi. Meski harus melalui beberapa kali revisi.

"Suratnya sudah dikirim ke kantor pusat. Maaf agak telat. Semoga Allah memberikan yang terbaik buat mbak Ifa." Begitulah kira-kira sms ibu manager kepada istri saya. Sejak saat itulah, dia tak berani lagi menelpon atau hanya sekedar sms menanyakan perkembangannya. Sungkan, sudah terlalu banyak merepotkan katanya.

Hal yang membuat istri saya dilematis adalah masa cuti telah selesai, namun sampai saat ini belum ada jawaban apapun dari kantor pusat. Dia pun sepertinya enggan berpisah dari si kecil. Tekad untuk memberinya asi eksklusif baginya tak bisa ditawar lagi. Dua amanah yang menuntut untuk dipenuhi sekaligus, keluarga dan pekerjaan. Dilematis memang.

Berdasarkan info dari kawan-kawannya, keputusan itu biasanya memakan waktu tiga sampai empat bulan. Itu pun tak ada kepastian permohonannya diterima. Namun melihat Semarang yang sedang butuh penambahan staf, sepertinya bisa lebih cepat.

Setelah kami berdiskusi, ada beberapa opsi yang akan kita ambil kalau sampai lebaran nanti belum ada keputusan apapun. Pertama, saya dan istri saya datang menghadap GM untuk mengajukan pengunduran diri, berterima kasih kepada manager personalia yang telah berupaya maksimal, dan berpamitan kepada teman-teman sekantornya. Kedua, istri saya mengajak serta si kecil ke Gresik dan menunggu sampai keputusan turun. Dengan catatan, apabila sampai tiga bulan belum juga ada jawaban, atau kalaupun ada ternyata tak diijinkan, dengan terpaksa istri saya memohon undur diri. Sebuah pilihan harus diambil, antara keluarga atau pekerjaan.

Setelah meminta saran dari orang tua, sahabat, teman sekantor, dan tentunya hasil dari istikharah kami, opsi kedua lah yang akhirnya kami pilih. Semoga Allah memberikan yang terbaik.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...