Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Monday, September 8, 2008

Belajar dari Semut

Dan Sulaiman telah mewarisi Nabi Daud. Kemudian dia berkata, ''Hai manusia kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu, sesungguhnya ini benar-benar karunia yang nyata dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentara dari jin, manusia, dan burung lalu mereka itu diatur dengan tetib.'' (QS An Naml [27]: 16-17).

Alkisah suatu hari Nabi Sulaiman AS memperhatikan dengan seksama aktivitas semut yang sedang sibuk mengumpulkan biji-biji gandum. Satu sama lain terlihat akrab, sesekali mereka saling tegur sapa. Akhirnya, terjadilah dialog Nabi Sulaiman dengan seekor semut.

''Wahai semut saya lihat kalian sangat rajin bergotong royong untuk mencari makan.'' ''Begitulah yang mulia, sebab hamba yang lemah dan kecil ini tidak sanggup bekerja sendirian, hamba harus selalu bekerja sama untuk mengangkut biji-bijian yang besarnya melebihi tubuh hamba,'' jawab semut.

''Sesungguhnya berapa kebutuhan seekor semut pertahunnya terhadap biji gandum?'' tanya Nabi Sulaiman penuh selidik. Sang semut menjawab bahwa bagi dirinya cukup enam biji gandum saja setahunnya.Lalu, diambilnya seekor semut dan diberi bekal enam biji gandum, kemudian dimasukan ke dalam kotak kecil dan dibiarkan semut itu tidak diusik sama sekali.

Setelah setahun penuh, barulah kotak yang berisi seekor semut dan enam biji gandum tadi dibuka. Alangkah kagetnya nabi Sulaiman, sebab dikotak tersebut sang semut masih menyisakan tiga biji gandum. ''Wahai semut,'' tanya Sulaiman, ''Sudah setahun lewat tapi kenapa kamu hanya memakan tiga biji gandum saja dan menyisakan yang lainya?''

''Begini yang mulia, di alam bebas di mana hamba bebas mencari makan sendiri, memang hamba menghabiskan enam biji gandum pertahunnya. Namun, bagaimana dengan keadaan hamba yang dibelenggu saat ini. Lagi pula siapa yang dapat menjamin bahwa dalam waktu satu tahun, tuan tidak lupa membuka kotak ini. Untuk itu hamba sengaja makan separuhnya dan menyisakan lagi separuhnya untuk berjaga-jaga,'' jawab sang semut.

Kisah ini menggambarkan sikap gotong royong, toleransi, dan kesederhaan semut dalam kehidupannya. Semut tidak serakah, tidak sombong terhadap semut lainnya, dan selalu bekerja sama dalam menyelesaikan berbagai urusannya. Andai kata kita bisa mengambil pelajaran dari kisah semut ini, tentulah akan menjadikan akhlak kita semakin baik. Wallahu a'lam bish-shawab.

Sumber : DSHnet

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...