Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Thursday, September 18, 2008

Abu Panas dari Amerika


[NofieIman.com] Amerika—-kalau boleh saya ibaratkan—-seperti Emak-nya Bajuri. Emak sebenarnya tak punya apa-apa, kecuali akal licik dan gertakan yang bisa bikin setiap orang kalang-kabut. Ketika Emak bikin ulah, satu kampung pasti kena abu panasnya. Itu juga yang kurang-lebih terjadi pada Amerika dan perekonomian dunia saat sekarang.

Resesi di Amerika nampaknya masih akan terus berlanjut. Setelah gonjang-ganjing subprime mortgage, JP Morgan dan The Fed kembali harus nombokin Bear Sterns. Belum lagi harga minyak dunia yang tak terkendali dan pelemahan nilai USD terhadap EUR makin memerparah perekonomian Amerika. Namun hal yang sebenarnya membuat resesi berkepanjangan adalah defisit anggaran yang membuat tekanan kebijakan fiskal dan stabilitas ekonomi mereka.

Sewaktu PD II, Inggris hanya punya sedikit emas dan uang untuk membiayai perang selama beberapa bulan ke depan. Mereka kemudian meminta Amerika untuk membantu pembiayaan perang. Hal ini dianggap sebagai titik akhir kedigdayaan Inggris yang sebelumnya selalu mendominasi percaturan di tingkat dunia.
Hal serupa kurang-lebih terjadi juga pada Amerika. Saat ini, Amerika membiayai "perang" mereka melalui penerbitan surat utang (treasury bonds) yang mayoritas dibeli oleh China dan Jepang. Belakangan, para emir ikut-ikutan memborong karena kelebihan kas akibat naiknya harga minyak. Sejarah terus berulang. Barangkali inilah titik kulminasi kejayaan Amerika? Wallau 'alam.

Tahun ini, pemerintah federal menderita defisit US$ 410 miliar dengan saving rate yang hampir nol. Itu artinya, mereka tak cuma tergantung pada orang lain untuk membiayai perang, tetapi juga menggantungkan orang lain untuk memenuhi belanja dalam negerinya sendiri. Boleh jadi, sebagian gaji yang diterima Presiden Bush dan stafnya, dibayar dengan JPY dan RMB.

Selama ini, kekayaan Amerika lari ke Iraq dan Afghanistan—-kira-kira sekitar US$ 500 miliar. Itu belum termasuk biaya-biaya lain seperti penggantian peralatan yang rusak, menafkahi veteran perang, biaya bunga yang musti dibayar, dan opportunity cost atas GDP yang dialokasikan ke pos perang. Kalau ditotal, konon biayanya sebesar US$ 3 triliun, namun laporan GAO menyebutkan utang Amerika sebenarnya sekitar US$ 53 triliun per 30 September 2007.

Noam Chomsky bilang bahwa pemerintahan Amerika berpikir bahwa negaranya bisa menguasai dunia. Padahal, masa depan Amerika bergantung pada kemurahan hati negara-negara kreditur. Tahun 2007, impor Amerika sudah 14% dari GDP sementara produksinya hanya 12%. Namun, dengan kondisi perekonomian dalam negeri yang carut marut dan kebijakan yang semrawut, mana ada sih yang mau memberi Amerika utang?

Per Maret 2008, 1 CHF sudah di atas 1 USD, padahal di tahun 1970 1 USD sama dengan 4,2 CHF. Saat itu, 1 USD sama dengan 360 JPY, sekarang 1 USD kurang dari 100 JPY. Saat Bush terpilih, 1 EUR setara dengan 0.94 USD dan harga emas cuma US$ 266 per ons. Saat ini, 1 EUR sudah sekitar 1.5 USD dan harga emas sudah naik di atas US$ 1,000. Artinya, Amerika tak lagi mendapat kepercayaan di mata dunia.
Ronald Reagan, di masanya, sudah memerkirakan kemungkinan semacam ini akan terjadi. Saat itu, negara industri baru berkembang sementara ekspor Amerika malah kian menyusut karena tiap negara sudah bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Di sisi lain, biaya tenaga kerja makin meningkat sehingga Amerika sendiri justru mengimpor talenta dari negara lain atau melakukan outsourcing dan relokasi agar tetap kompetitif. Pada akhirnya, golongan aristokrat di Amerika kian bertambah dan justru tidak memiliki kontribusi produksi secara langsung.

Lebih parah lagi, mayoritas warga menengah Amerika terbiasa menggunakan utang dan kartu kredit untuk memenuhi kebutuhan mendasar seperti sandang, pangan, dan papan. Padahal sejatinya, pinjaman seharusnya digunakan untuk kegiatan yang produktif atau investasi sehingga mendapatkan nilai tambah—-bukan untuk konsumsi. Orang Amerika sendiri rata-rata menabung di bawah 2%, dibandingkan Asia yang 20% per bulan. Jam kerja mereka juga jauh lebih rendah daripada saudaranya di Asia.
Entah apa yang ada di benak George W. Bush saat ini. Saya cuma berdoa semoga masalah-masalah yang mendera Amerika bisa memberikan sedikit angin segar bagi mereka yang ada di Palestina, Iraq, Afghanistan, Iran, dan negara-negara dunia ketiga lainnya.
Amiin.


Sumber : www.nofieiman.com

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...