Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Wednesday, August 27, 2008

Keberkahan Rizqi

[- Demak, Rabu, 27 Agustus 2008, 13.00 -]

Berapa gaji per bulan anda? Satu juta? Dua juta? Lima juta? Tujuh juta? Berapun itu, yakinlah, itu sekali-kali tidak akan pernah menjamin kebutuhan anda. Berapa banyak pengusaha dengan omset milyaran per bulan berakhir miskin karena dilanda krisis. Berapa banyak orang kaya yang disita harta bendanya karena tak mampu membayar hutang. Berapa banyak karyawan bergaji jutaan masih ngutang sana-sini, karena hampir tiga perempat dari jumlah gajinya ia gunakan untuk mencicil mobil.

Di sisi lain Si Fulan terlihat bahagia dengan empat anak di rumah kontrakannya. Meski dia hanya seorang penjual martabak. Apa yang menjadi penyebab dua keadaan kontras di atas? Tak lain dan tak bukan adalah, keberkahan rizki. Ini pula yang membuat Si Fulan tak pernah kekurangan, meski rata-rata penghasilan bersih per harinya tak lebih dari lima puluh ribu. Namun baginya, entah kenapa, setiap ada kebutuhan, selalu ada saja rizki untuknya.

Awalnya saya tak terlalu menhgiraukan akan keberkahan rizki ini. Hingga peristiwa demi peristiwa yang saya hadapi telah membuat saya yakin seyakin-yakinnya. Yakin bahwa Allah akan memberi rizki untuk hambanya. Yakin, kalau kita mau benar-benar memohon, Allah pasti memberinya dari arah yang tak disangka-sangka.

Saya pernah mengalami saat-saat dimana saya butuh uang sesegera mungkin. Dan ini bisa jadi di alami siapa saja. Jujur, saat istri akan melahirkan bulan Juli lalu, saya sempat bingung. Entah kenapa kebutuhan saya banyak sekali bulan itu. Tabungan untuk persiapan melahirkan terpaksa kami gunakan untuk kepentingan yang lebih mendesak. Perkiraan kami, impres dari kantor akan cair awal bulan Juli. Hingga saat itulah, hampir tiap malam saya memohon kecukupan dan keberkahan rizqi. Khawatir kalau kalau rencana saya tak sesuai dengan kenyataan. Dan benar saja, sampai Hari Perkiraan Lahir (7/7/2008) pun, tak ada tanda-tanda uang itu akan cair. Masya Allah... gimana nih. Saya mencoba bertahan untuk tidak pinjam ke teman atau saudara. Biarlah hanya saya dan istri saya saja yang tahu. Bahkan hingga istri melahirkan pun (10/7/2008) saya sama sekali belum mendapatkan uang. Hanya sahabat dekat saya yang saya hubungi, itu pun belum bisa dipastikan. Saya mencoba memaksa diri untuk yakin akan pertolongan Allah. Saya pikir inilah saat yang tepat untuk membuktikan hal yang selama ini saya abaikan. Dua hari setelah anak pertama saya lahir (Jumat, 11/7/2008) saya di telpon salah satu cabang perusahaan tempat istri bekerja yang ada di Semarang melalui line Rumah Sakit. Seseorang yang mengaku sebagai asisten manager personalia itu meminta saya untuk mengambil surat rujukan perusahaan di kantor cabang Semarang, agar seluruh biaya Rumah Sakit bisa ditanggung oleh perusahaan. Allahu Akbar. Benar-benar diluar dugaan. Sejak itulah, saya semakin yakin akan pertolongan Allah.

Saudaraku, seberapa banyak gaji anda, seberapa kaya diri anda, jangan pernah berhenti memohon agar diberikan keberkahan rizki oleh Allah SWT.
.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...