Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Sunday, August 31, 2008

Maafkan...

[- Semarang, Ahad 31 Agustus 2008, 12.12 -]

Tak terasa waktu begitu cepat. Sya`ban akan berpamitan.
Dan Ramadhan pun akan segera menjelang. Agar tenang hati ini dalam beribadah, kusampaikan maafku kepada,

1. Ayah bunda tercinta dan adik-adikku
2. Istri dan anakku
3. Keluarga di Pedurungan
4. Mbah di Kuningan dan Ponorogo
5. Sahabat sahabatku di Madiun, Gresik, Surabaya,.Semarang, Demak
6. Orang-orang yang pernah tersakiti oleh sikap, perbuatan, dan lisanku


Sungguh, keikhlasan kalian akan menjauhkanku dari murka Allah.
Semoga Ramadhan tahun ini lebih BERKUALITAS.


___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Friday, August 29, 2008

Pagi yang Cerah

[- Demak, Jumat, 29 Agustus 2008, 08.35 -]

Dengarlah..kicau burung-burung bernyanyi
Menyambut mentari pagi...
Indah dan berseri

Sbagai tanda...syukur pada yang kuasa
Atas nikmat alam raya
Untuk kita semua

Syukurku, penuh pasrah kupanjatkan
Penuh doa ku haturkan
Hanya kepad-Mu Tuhan

Yaa Ilahi Robbi...
Tuntun dan Bimbinglah kami...
Agar dapat menikmati
Indah alam ini...

.........
Itulah sebagian dari lirik nasyid SNADA yang menggambarkan cerahnya suasana pagi. Bagaimana kabar anda hari ini ? Pagi yang "cerah" bukan ? Semoga saja demikian.

Hati siapa yang tak bahagia bisa menapaki hari-hari dengan kesyukuran.
Hati siapa yang tak tenang bisa melalui setiap kerikil kehidupan dengan keyakinan akan pertolongan-Nya.
Hati siapa yang tak berbunga-bunga bila Sang Kekasih Abadi selalu menemani.
Itulah kecerahan yang saya maksud. Semoga kita bisa merasakannya pagi ini.
Dan seterusnya.

Amin.


Thursday, August 28, 2008

Ya Allah ..!!



{Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-Nya. Setiap waktu

Dia dalam kesibukan.} (QS. Ar-Rahman: 29)

Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup

kencang menerjang, semua penumpang kapal akan panik dan menyeru:

"Ya Allah!"

Ketika seseorang tersesat di tengah gurun pasir, kendaraan menyimpang

jauh dari jalurnya, dan para kafilah bingung menentukan arah perjalanannya,

mereka akan menyeru:

"Ya Allah!"

Ketika musibah menimpa, bencana melanda, dan tragedi terjadi,

mereka yang tertimpa akan selalu berseru:

"Ya Allah!"

Ketika pintu-pintu permintaan telah tertutup, dan tabir-tabir

permohonan digeraikan, orang-orang mendesah:

"Ya Allah!"

Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa

menyempit, harapan terputus, dan semua jalan pintas membuntu, mereka

pun menyeru:

"Ya Allah!"

Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup,

dan jiwa serasa tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus Anda pikul,

menyerulah:

"Ya Allah!"

Kuingat Engkau saat alam begitu gelap gulita,

dan wajah zaman berlumuran debu hitam

Kusebut nama-Mu dengan lantang di saat fajar menjelang,

dan fajar pun merekah seraya menebar senyuman indah

Setiap ucapan baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air mata yang

menetes penuh keikhlasan, dan semua keluhan yang menggundahgulanakan

hati adalah hanya pantas ditujukan ke hadirat-Nya.

Setiap dini hari menjelang, tengadahkan kedua telapak tangan,

julurkan lengan penuh harap, dan arahkan terus tatapan matamu ke arah-

Nya untuk memohon pertolongan! Ketika lidah bergerak, tak lain hanya

untuk menyebut, mengingat dan berdzikir dengan nama-Nya. Dengan begitu,

hati akan tenang, jiwa akan damai, syaraf tak lagi menegang, dan iman

kembali berkobar-kobar. Demikianlah, dengan selalu menyebut nama-Nya,

keyakinan akan semakin kokoh. Karena,

{Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya.}

(QS. Asy-Syura: 19)

...........................................................................

Dr. 'Aidh al-Qarni

Wednesday, August 27, 2008

Pantang Mengeluh

Tahan Ngantuk

Ramah

Percaya Diri

Ekspresif

Bijaksana

Keberkahan Rizqi

[- Demak, Rabu, 27 Agustus 2008, 13.00 -]

Berapa gaji per bulan anda? Satu juta? Dua juta? Lima juta? Tujuh juta? Berapun itu, yakinlah, itu sekali-kali tidak akan pernah menjamin kebutuhan anda. Berapa banyak pengusaha dengan omset milyaran per bulan berakhir miskin karena dilanda krisis. Berapa banyak orang kaya yang disita harta bendanya karena tak mampu membayar hutang. Berapa banyak karyawan bergaji jutaan masih ngutang sana-sini, karena hampir tiga perempat dari jumlah gajinya ia gunakan untuk mencicil mobil.

Di sisi lain Si Fulan terlihat bahagia dengan empat anak di rumah kontrakannya. Meski dia hanya seorang penjual martabak. Apa yang menjadi penyebab dua keadaan kontras di atas? Tak lain dan tak bukan adalah, keberkahan rizki. Ini pula yang membuat Si Fulan tak pernah kekurangan, meski rata-rata penghasilan bersih per harinya tak lebih dari lima puluh ribu. Namun baginya, entah kenapa, setiap ada kebutuhan, selalu ada saja rizki untuknya.

Awalnya saya tak terlalu menhgiraukan akan keberkahan rizki ini. Hingga peristiwa demi peristiwa yang saya hadapi telah membuat saya yakin seyakin-yakinnya. Yakin bahwa Allah akan memberi rizki untuk hambanya. Yakin, kalau kita mau benar-benar memohon, Allah pasti memberinya dari arah yang tak disangka-sangka.

Saya pernah mengalami saat-saat dimana saya butuh uang sesegera mungkin. Dan ini bisa jadi di alami siapa saja. Jujur, saat istri akan melahirkan bulan Juli lalu, saya sempat bingung. Entah kenapa kebutuhan saya banyak sekali bulan itu. Tabungan untuk persiapan melahirkan terpaksa kami gunakan untuk kepentingan yang lebih mendesak. Perkiraan kami, impres dari kantor akan cair awal bulan Juli. Hingga saat itulah, hampir tiap malam saya memohon kecukupan dan keberkahan rizqi. Khawatir kalau kalau rencana saya tak sesuai dengan kenyataan. Dan benar saja, sampai Hari Perkiraan Lahir (7/7/2008) pun, tak ada tanda-tanda uang itu akan cair. Masya Allah... gimana nih. Saya mencoba bertahan untuk tidak pinjam ke teman atau saudara. Biarlah hanya saya dan istri saya saja yang tahu. Bahkan hingga istri melahirkan pun (10/7/2008) saya sama sekali belum mendapatkan uang. Hanya sahabat dekat saya yang saya hubungi, itu pun belum bisa dipastikan. Saya mencoba memaksa diri untuk yakin akan pertolongan Allah. Saya pikir inilah saat yang tepat untuk membuktikan hal yang selama ini saya abaikan. Dua hari setelah anak pertama saya lahir (Jumat, 11/7/2008) saya di telpon salah satu cabang perusahaan tempat istri bekerja yang ada di Semarang melalui line Rumah Sakit. Seseorang yang mengaku sebagai asisten manager personalia itu meminta saya untuk mengambil surat rujukan perusahaan di kantor cabang Semarang, agar seluruh biaya Rumah Sakit bisa ditanggung oleh perusahaan. Allahu Akbar. Benar-benar diluar dugaan. Sejak itulah, saya semakin yakin akan pertolongan Allah.

Saudaraku, seberapa banyak gaji anda, seberapa kaya diri anda, jangan pernah berhenti memohon agar diberikan keberkahan rizki oleh Allah SWT.
.

Nikmat Allah

Oleh: D Iskandar

''Sesungguhnya, pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.'' (QS Al Israa [17]: 27).

Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk hidup hemat, yaitu membelanjakan uangnya selaras dengan kebutuhan dan tidak (berlebihan) mengikuti ''selera'' nafsunya. Hemat berarti tidak boros, irit, sangat hati-hati dalam mengeluarkan/membelanjakan uang. Dengan hidup hemat, seorang Muslim menjadi bersahaja dalam menjalani kehidupan karena merasa cukup dengan kenikmatan yang dimiliki, yang pada gilirannya membentuk pribadi yang bersyukur dan tawadu.

Pada sisi lain, Islam mengajarkan kepada pemeluknya jangan bakhil. Karena, orang yang bakhil menghalangi dirinya (terasa berat) untuk bersedekah, yang membuat dirinya menjadi tamak dan rakus.

Biasanya, orang yang boros akan menghabiskan uangnya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Bahkan, sering kali ditujukan untuk maksud-maksud yang lain, pamer diri.

Nabi SAW merupakan suri teladan bagi manusia (umat Islam). Dalam menjalani hidupnya, beliau sangat sederhana. Pernah sahabat Umar Ibnu Khatab RA datang menemui Nabi SAW dan sangat sedih melihat beliau tidur beralaskan tikar sehingga tanda guratan tikar berbekas di tubuh beliau.

Umar RA menawarkan permadani untuk alas tidurnya, tapi Nabi Muhammad SAW menolak. Begitu juga ketika makan, beliau memakan hidangannya hingga butir terakhir.

Suatu ketika Nabi SAW datang bergilir kepada Aisyah. Beliau melihat sepotong pecahan kue lalu beliau mengambilnya, mengusapnya, dan memakannya. Kemudian, beliau bersabda, ''Berlaku baiklah kalian kepada serpihan nikmat-nikmat Allah. Jangan kalian menyia-nyiakannya. Jika ia hampir hilang dari suatu kaum, ia kembali kepada mereka.'' (HR Al Baihaqi dari Anas bin Malik).

Hadis di atas menganjurkan agar kita berlaku baik terhadap serpihan nikmat-nikmat Allah dengan cara memeliharanya dan mensyukurinya. Sebagaimana firman Allah, ''Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'' (QS Ibrahim [14]: 7).

Mensyukuri nikmat dengan cara berbuat baik kepada karib kerabat, kepada orang-orang yang membutuhkan, dan memelihara harta kekayaan untuk tidak digunakan terhadap hal-hal yang tidak ada faedahnya. Al Ghazali berkata, ''Perkara yang sangat berat adalah menghina memuliakan, berpisah setelah bertemu, dan hilangnya nikmat dari suatu kaum lantaran mereka tidak berlaku baik terhadap serpihan nikmat kemudian mereka harapkan nikmat itu kembali kepada mereka.'' Barakallahu fikum.

Sumber: republika, 25 Agustus 2008

Tuesday, August 26, 2008

Tarhib Ramadan

Oleh Ihsan Tandjung

Istilah Tarhib Ramadhan sudah menjadi akrab di hati ummat Islam Indonesia. Setiap tahun menjelang datangnya bulan suci Ramadhan ummat menghadiri kegiatan bernama Tarhib Ramadhan. Kata tarhib berasal dari akar kata yang sama yang membentuk kata Marhaban. Sedangkan marhaban artinya selamat datang atau welcome. Maka Tarhib Ramadhan berarti Selamat Datang Ramadhan atau Welcome Ramadhan.

Seorang muslim perlu membangun sikap positif dalam menyambut kedatangan bulan istimewa Ramadhan. Bahkan berdasarkan sebuah hadits Nabi Muhammad shollallahu 'alaih wa sallam biasanya sejak dua bulan sebelum datang Ramadhan sudah mengajukan doa kepada Allah ta'aala dalam rangka Tarhib Ramadhan atau welcoming Ramadhan.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ

Adalah Nabi Muhammad shollallahu 'alaih wa sallam apabila memasuki bulan Rajab berdoa: "Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan berkahilah kami di bulan Ramadhan." (HR Ahmad 2228)

Rajab, Sya'ban dan Ramadhan merupakan bulan ketujuh, kedelapan dan kesembilan dari sistem kalender Hijriyah Ummat Islam. Hadits di atas seolah mengisyaratkan bahwa Nabi shollallahu 'alaih wa sallam punya kebiasaan menyambut kedatangan Ramadhan bahkan dua bulan sebelum ia tiba. Artinya, Nabi shollallahu 'alaih wa sallam ingin menggambarkan betapa istimewanya Ramadhan sehingga dua bulan sebelumnya sepatutnya seorang Muslim sudah mulai mengkondisikan diri menyambut Ramadhan lewat do'a seperti di atas.

Mengapa Ramadhan dipandang sebagai bulan istimewa? Coba perhatikan beberapa hadits di bawah ini:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu katanya: Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam bersabda: "Apabila tiba bulan Ramadan, dibuka pintu-pintu Syurga dan ditutup pintu-pintu Neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu." (HR Muslim 1793)
Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata: "Ada kemungkinan yang dimaksud adalah makna yang sebenarnya, dan yang demikian itu merupakan tanda bagi para malaikat akan masuknya bulan Ramadhan, penghormatan terhadapnya serta dicegahnya syetan untuk mengganggu kaum muslimin. Ada pula kemungkinan ini merupakan isyarat akan banyaknya pahala serta pengampunan dan berkurangnya gangguan syetan, sehingga mereka seperti orang-orang yang terbelenggu."

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah melanjutkan bahwa kemungkinan yang dimaksud dengan "pintu-pintu surga dibuka" adalah ungkapan bentuk-bentuk ketaatan yang Allah ta'aala buka untuk hamba-hambaNya, dan yang demikian itu merupakan sebab-sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Sedangkan yang dimaksud dengan "pintu-pintu nerkaka ditutup" adalah ungkapan akan dipalingkannya keinginan untuk mengerjakan kemaksiatan yang menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka.

Adapun kalimat "syetan dibelenggu" merupakan ungkapan ketidakmampuan mereka untuk membuat tipu daya dan menghiasi syahwat."
Jika demikian, mengapa kita masih melihat kejahatan dan maksiat di bulan Ramadhan? Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan: "…kemaksiatan itu disebabkan oleh sejumlah faktor selain syetan: seperti jiwa yang buruk, kebiasaan tidak baik dan syetan dari jenis manusia."

Oleh karenanya, seberapa besar kebaikan akan diperoleh seseorang sangat bergantung kepada bagaimana orang itu sendiri menyikapi dan menyambut kedatangan Ramadhan. Bila ia sikapi dan sambut Ramadhan dengan suka cita, insyaAllah Ramadhan akan menjadi pembuka rahmat Allah ta'aala dan pintu surga baginya.

Namun sebaliknya bila ia masih saja tidak peduli dengan kesucian Ramadhan maka jangan harap ia akan bisa memperoleh kebaikan darinya. Sangat mungkin ia malah menjadi orang yang penuh kegusaran di bulan Ramadhan. Sebuah rasa gusar yang menghasilkan penyesalan di saat api neraka sudah terlihat di depan matanya.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ
صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ
مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ
يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

Bersabda Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam: "Bila tiba malam pertama bulan Ramadhan para syaithan dibelenggu, maksudnya jin. Dan pintu-pintu neraka ditutup dan tak satupun yang dibuka dan pintu-pintu surga dibuka dan tak satupun yang ditutup. Lalu ada penyeru yang menyerukan: "Wahai para pencari kebaikan, sambutlah (songsonglah) dan wahai para pencari kejahatan, tolaklah (hindarilah)." Dan Allah ta'aala memiliki perisai dari api neraka. Dan yang demikian terjadi setiap malam." (HR Tirmidzi 618)

Saudaraku, marilah kita memohon kepada Allah ta'aala agar memasukkan kita ke dalam golongan para pencari kebaikan di dalam bulan Ramadhan, bahkan sepanjang hayat. Marilah kita berdoa semoga Allah ta'aala jauhkan kita dari masuk ke dalam golongan pencari kejahatan di bulan Ramadhan apalagi seumur hidup. "Ya Allah, berkahilah kami dalam sisa bulan Sya'ban ini dan berkahilah kami di bulan Ramadhan." Amin, ya Rabb.-

Sumber : www.eramuslim.com

Monday, August 25, 2008

Merdeka ...!!!

[- Demak, Selasa, 19 Agustus 2008, 08.30 -]

Mulai beberapa hari yang lalu bahkan mungkin hingga saat ini, di mal-mal hingga lapak-lapak penjual CD/VCD bajakan, di alun-alun kota hingga pelosok kampung, deretan lagu-lagu perjuangan terdengar akrab di telinga kita. Itu pula yang mengingatkan saya akan syair-syair perjuangan yang saat masih di bangku SD begitu familiar di telinga saya. Mulai dari Sorak-sorak Bergembira, Maju Tak Gentar, Hari Merdeka, hingga Rayuan Pulau Kelapa. Maklum saja, hampir setiap hari lagu-lagu itu kami nyanyikan di pelataran sekolah kala itu.

Dan mulai saat itulah spirit perjuangan secara perlahan terbentuk. Rasa bangga menjadi bangsa Indonesia meluap-luap. Bahkan mungkin cenderung berlebihan. Pernah suatu ketika, dan ini masih saya ingat betul. Kalau tidak salah, saat itu usia saya masih 4-5 tahunan. Saya menangis dan merasakan kerisauan yang amat sangat lantaran bendera merah putih yang ada di depan rumah kami terjatuh karena di tiup angin. Hingga membuat saya merasa harus membangunkan "paksa" ibu yang sedang tidur siang waktu itu. Pernah juga waktu liburan di rumah nenek. Saya menggambar sebuah bendera di atas kertas kecil dengan pensil. Lalu gambar itu saya gunting sedemikian rupa dan saya tempelkan di sepeda paman. Saya pun membawanya berkeliling kampung. Dan saya masih ingat betul saat paman berkomentar, "Wih....bbeendeera...indoonessiia...merdekkaa" sambil membaca tulisan di bawah gambar yang saya buat.

Kini, kebersikapan saya terhadap Kemerdekaan telah berubah. Merdeka tidak lagi saya luapkan dengan fanatisme simbol. Merdeka tidak juga saya artikan "BEBAS, BEBAS BEREKSPRESI" sebagaimana pendapat seorang artis saat diwawancarai wartawan beberapa waktu yang lalu. Namun bagi saya, Merdeka adalah saat kita BERSYUKUR. Bersyukur karena berkat kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu bangsa, saya bisa menikmati manisnya hidangan Iman dalam ber-Islam. Dan dengan dasar Spirit ber-Islam secara kaaffah, hati ini tergerak untuk berupaya maksimal menjadi anfa'ahum linnaas, bermanfaat bagi orang lain untuk mengisi kemerdekaan ini. Merdeka ...!!!

Tuesday, August 19, 2008

Optimalkah Celoteh Batita Anda?

Bagi sebagian besar anak, berubahnya kata-kata menjadi omongan bermakna jelas terjadi pada tahun kedua. Memang ada anak yang sudah pandai bicara beberapa bulan sebelum ulang tahun keduanya.

Penulis buku Childhood Speech, Language and Listening Problems: What Every Parents Should Know, Patricia McAleer Hamaguchi mengatakan, pada masa dua tahun pertama anak merekam semua informasi dari sekelilingnya.

Menginjak usia kedua, baru anak-anak bisa mengungkapkan secara aktif. Seiring makin matangnya otak dan otot, mereka mulai bisa mengekspresikan hasrat dan keinginannya dengan bicara.

The American Academy of Pediatrics membuat sebuah batasan mengenai tahapan bicara anak di lima tahun pertamanya. Di akhir tahun kedua, anak batita (bawah tiga tahun) harus bisa mengucapkan kalimat yang terdiri dari dua atau tiga kata. Dia juga bisa mengikuti instruksi sederhana dan mengulang kata-kata yang didengarnya saat orangtuanya berbicara.

Di akhir tahun ketiga, anak sudah harus bisa mengikuti instruksi dengan dua atau tiga langkah. Dia bisa mengenali dan engidentifikasi benda-benda umum atau gambar sederhana serta mengerti apa yang dikatakan orang kepadanya.

Selain itu, dia juga sudah bisa berbicara dengan baik dan jelas dengan orang yang berada di luar keluarganya. Di akhir tahun keempat, anak sudah harus melemparkan pertanyaan abstrak seperti mengapa. Si kecil sudah mengerti konsep sama dengan berbeda. Serta bisa menyusun kalimat dengan tata bahasa yang benar.

Kadang meski di usia 4 tahun anak sudah bicara jelas, namun tak jarang mereka salah mengucapkan sebuah kata.

Di akhir tahun kelima, anak sudah harus bisa menceritakan kembali sebuah cerita dengan kalimatnya sendiri. Mereka pun harus pandai merangkai kalimat yang terdiri dari lima kata.

Penulis buku The Late Talker : What to Do If Your Child Isn't Talking Yet, Marilyn Agin MD menjelaskan, secara tipikal seorang anak yang terlambat bicara akan dapat menyusul kemampuan anak seusianya.

Namun, studi yang dilakukan baru-baru ini mengungkap, sekitar 7% dari anak berusia lima tahun tidak dapat melakukan hal tersebut.

"Gangguan yang terlambat terdeteksi seringkali dihubungkan dengan rendahnya kemampuan membaca dan akademik serta masalah emosional. Saya melihat anak-anak berusia tiga tahun yang mempunyai masalah berbicara sangat pemalu, yang dapat mengakibatkan rendahnya percaya diri," jelas Marilyn.

Marilyn mencatat, keterlambatan berbicara bisa terjadi karena beberapa hal. Infeksi telinga merupakan salah satu penyebab keterlambatan bicara. Infeksi yang mempengaruhi telinga pada akhirnya punya kontribusi pada keterlambatan bicara. Hal itu dapat terjadi karena anak bergaul dengan sebayanya di taman bermain, di rumah atau di tempat penitipan anak.

Kemudian, penyebab lainnya ialah perkembangan otot mulut yang tak sempurna juga mempengaruhi kemampuan bicara. Anak-anak yang masih memakan makanan semi padat, kerap memuntahkan makanan saat makan, sering "ngeces", atau sering bernafas lewat mulut, biasanya juga mengalami keterlambatan bicara.

Anak-anak yang sulit memahami permintaan kompleks atau sama sekali tak peduli dengan kebisingan di sekitarnya, mungkin bakal mengalami keterlambatan bicara. Tanpa bantuan, anak-anak yang mengalami keterlambatan bicara akan mengalami frustasi.

Namun, dia menegaskan orangtua ialah pengambil keputusan yang terbaik dari anaknya. Jika jawaban dari dokter tidak memuaskan, orangtua dapat berkonsultasi dengan ahli terapi bicara.

"Jika keterlambatan bicara pada anak anda hanya merupakan bagian dari perkembangannya maka ia akan segera mengejar ketinggalannya. Orangtua jangan terlalu khawatir. Disisi lain, jika benar anak Anda memiliki masalah, maka terapi yang dilakukan secepatnya akan lebih menguntungkan," tegas Marilyn. (child.com/rin)



Sumber: www.republika.co.id , 15 Agustus 2008

Untuk Aisya Anakku

[- Demak, Selasa, 19 Agustus 2008, 08.55 -]

Aisya anakku. Saat ini usiamu sudah 1 bulan sepuluh hari, nak. Engkau pun kini semakin tumbuh lebih sempurna. Kini Abi sudah bisa melihatmu tersenyum. Matamu terlihat sudah mulai bisa menangkap obyek di depannya. Ocehan-ocehan kecilmu terkadang mengejutkan. Dan ekspresi wajahmu sudah bervariasi.

Bersyukurlah pada Allah, nak. Dia yang telah mengabulkan pinta Abi dan Ummimu. Dia yang menjadikanmu sehat. Dia yang menjadikanmu lucu dan menggemaskan. Dia yang menganugerahkan semuanya keindahan itu untukmu. Saat kau besar nanti, pandai-pandailah bersyukur. Sekecil apapun itu. Karena syukur bisa menghilangkan sifat ujub dan sombong dalam diri kita. Karena syukur bisa mendatangkan tawadhu'. Karena syukur bisa mengundang nikmat Allah yang lebih banyak lagi.




Wednesday, August 13, 2008

Tronton Terjungkal

Kurang lebih seratus meter menjelang pertigaan lampu merah Genuk-Semarang, Selasa (12/8), sebuah truk tronton yang bermuatan kayu gelondong terbalik. Diduga tidak ada korban dari kejadian tersebut.

Alhamdulillah...untung waktu kejadian, saya tidak ada di sebelahnya.

Monday, August 11, 2008

Insya Allah 22 hari Ramadhan. Are You Ready .....!!!

Ayo Bapak Ibu, Mas Mbakyu, ndang di persiapke Romadhone...
Sing mempeng sholat wengine, sing ajeg nderes Qur'ane ...

Friday, August 8, 2008

Insya Allah 25 hari lagi Ramadhan. Are You Ready ......!!!

Oleh: Ulis Tofa, Lc

Apa yang dirasakan oleh juara Euro 2008, Tim Spanyol, ketika ia dipastikan menjadi juara dalam event besar itu? Tentu luapan kegembiraan dan suka cita menyatu dalam diri mereka. Tidak hanya pemain, pelatih, dan tim saja, bahkan semua warga negara Spanyol menyatu dalam kegembiraan itu. Dunia memujinya, publik menyanjungnya. Spanyol jadi buah bibir.

Keberhasilan itu hasil jerih perjuangan panjang dan melelahkan. Penantian selama empat puluh tiga tahun untuk merebut kembali predikat sang juara. Penuh kesungguhan dan kedisiplinan.

Bagaimana jika piala itu datangnya dari Tuhannya manusia?. Bagaimana jika predikat juara itu disematkan oleh Pemilik alam raya ini?. Bagaimana jika yang menyanjung itu adalah Penentu kehidupan semua makhluk?.

Secara fitriyah dan imaniyah, pasti orang akan berebut piala dan predikat juara dari Tuhannya. Tentu jauh lebih mulia, istimewa dibandingkan dengan sanjungan manusia.

Ya, itulah peraih sukses Ramadhan. Orang yang mampu melewati event besar ini sampai finish dengan kesungguhan. Ia meraih predikat taqwa, sebagai identitas tertinggi manusia. Ia meraih piala Ar Royyan, surga spesial bagi shaaimin dan shaaimat.

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al Baqarah: 183).

"Sesungguhnya didalam surga ada pintu bernama Royyan, tidak ada yang memasukinya kecuali mereka yang shaum Ramadhan." (Muttafaq alaih)

Bahkan tidak hanya itu, orang yang sukses Ramadhan, mengisinya dengan kesungguhan, akan meraih berbagai keistimewaan dan kemuliaan.

Karena Ramadhan menjanjikan: Kelipatan pahala, pengkabulan do'a, pemudahan amal shaleh, penghapusan dosa, surga dibuka lebar-lebar, neraka ditutup rapat-rapat, setan-setan dibelenggu. Dan di dalamnya ada malam lailatul qadar, malam lebih baik dari seribu bulan. Kebaikan senilai usia rata-rata manusia, bagi yang meraihnya. Subhanallah!

Nabi saw. bersabda: "Bila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, sementara setan-setan diikat." (HR. Bukhari-Muslim).

"Setiap amal anak Adam -selama Ramadhan- dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, Allah swt. berfirman: Puasa itu untuk-Ku, dan Aku langsung yang akan memberikan pahala untuknya." (HR. Muslim).

"Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan kesadaran iman dan penuh harapan ridha Allah, akan diampuni semua dosa-dosa yang lalu." (HR. Bukhari-Muslim).

"Orang yang berpuasa doanya tidak ditolak, terutama menjelang berbuka." (HR. Ibn Majah, sanad hadits ini sahih).

Yang lebih penting untuk diperhatikan di sini adalah, persiapan dan pengkondisian sebelum Ramadhan datang.

Seperti Tim Spanyol, yang harus berjibaku sepanjang waktu mempersiapkan diri menghadapi musim pertandingan.

Begitu juga dengan persiapan Ramadhan. Apa yang perlu dipersiapkan?

Persiapan fikriyah atau pemahaman tentang Ramadhan. Persiapan ruhiyah atau ibadah ritual. Persiapan maddiyah atau fisik dan material.

Bulan Sya'ban telah menjelang. Bulan di mana Rasulullah saw. meningkatkan aktivitas ibadah. Bahkan diriwayatkan beliau hampir-hampir shaum sunnah sebulan penuh.

Imam al-Nasa'i dan Abu Dawud meriwayatkan, disahihkan oleh Ibnu Huzaimah. Usamah berkata pada Nabi saw.

"Wahai Rasulullah, saya tidak melihat Engkau melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Engkau lakukan dalam bulan Sya'ban.' Rasul menjawab: 'Bulan Sya'ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan oleh kebanyakan orang. Di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa."

Dari Aisyah r.a. beliau berkata: "Rasulullah s.a.w. berpuasa hingga kita mengatakan tidak pernah tidak puasa, dan beliau berbuka (tidak puasa) hingga kita mengatakan tidak puasa, tapi aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali pada bulan Sya'ban." Imam Bukhari.

Subhanallah, kondisi ruhiyah, fikriyah dan maddiyah sudah dipersiapkan sebulan, bahkan dua bulan sebelum Ramadhan menjelang. Sehingga ketika Ramadhan datang, kita sudah terbiasa, terkondisikan dengan kesungguhan dan ketaatan. Dan karena itu kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan Ramadhan akan dapat diraih. Keluar Ramadhan meraih predikat muttaqin dan piala Jannatur Rayyan, insya Allah. Allahu a'lam

Sumber: dakwatuna, 6/8/2008 | 03 Syaban 1429 H

Thursday, August 7, 2008

Kampusku

[- Demak, Kamis, 7 Agustus 2008, 17.00 -]

"STAN tuh anaknya lugu-lugu ya ?" celetuk seorang kawan suatu hari. Dia adalah kawanku satu seksi di KPP Gresik dulu. Salah satu karyawan hasil rekruitmen Departemen Keuangan lulusan UGM.
Komentarnya tentang lulusan STAN tentu bukan tanpa alasan. Entah kenapa, kebanyakan lulusan STAN fresh graduate, yang baru ngantor pertama kali, selalu berpenampilan polos dan lugu dalam berpakaian. Dari kemeja putih yang kepanjangan, sampai sepatu hitam yang jarang di semir. Termasuk saya kala itu. (He..he..ngaku juga akhirnya)

Saya pikir wajar lah. Waktu jamannya saya, (nggak tahu kalau sekarang), anak-anak yang keterima STAN tuh mayoritas dari kalangan pas-pasan yang nyari kampus gratisan. Dan kebanyakan dari mereka berasal dari daerah. Termasuk saya (ngaku lagi). Otomatis tidak segaul anak-anak kampus lainnya. Tapi jangan remehkan otak dan kepribadiannya. Tidak sedikit dari mereka yang hingga kini masih konsisten menjaga komitmen. Khairiansyah Salman, mantan auditor BPK, sang wisthle Blower kasus mega korupsi di tubuh KPU contohnya.

Insya Allah 26 hari lagi Ramadhan. Are You Ready ...!!!




[- Demak, Kamis, 7 Agustus 2008, 07.30 -]

Waktu semakin dekat. Mari persiapkan segala sesuatunya. Agar kelak tak menyesal...

Wednesday, August 6, 2008

Insya Allah 27 hari lagi Ramadhan. Are You Ready ..........!!!

[- Demak, Rabu, 6 Agustus 2008, 07.30 -]

Insya Allah Ramadhan kurang 27 hari lagi. Bagaimana persiapan anda ? Mampukah "mesin" anda melewati setiap lap dalam "lintasan" Ramadhan ? Mari kita latih mulai dari sekarang...

Tuesday, August 5, 2008

Insya Allah 28 hari lagi Ramadhan. Are You Ready......!!!

[- Demak, Selasa, 5 Agustus 2008, 15.30 -]

Insya Allah 28 hari lagi Ramadhan menjelang. Akankah kita bisa menyapanya? Wallahu A'lam. Setidaknya kita masih bisa berharap dan berdoa, agar tarikan nafas ini tak terhenti di tengah jalan. Sebelum saya lanjutkan lebih jauh tulisan ini. Mari kita bertanya dalam hati kita masing-masing. Sampai detik ini, bagaimana respon hati kita tatkala mendengar kata Ramadhan disebut? Tertekan - karena membayangkan perihnya menahan lapar, masa bodoh- karena menganggap Ramadhan tak ada bedanya dengan bulan lainnya, ataukah terhenyak- karena setelah sekian lama menanti akhirnya datang juga ? Mari kita jawab dengan hati yang jujur.

Dan sekarang mari kita coba mengingat kembali Ramadhan kita tahun lalu. Dua tahun, tiga tahun, bahkan belasan tahun yang lalu. Bagaimana kualitasnya? Apakah cukup membanggakan? Bagaimana pun itu, saya mengajak saya dan anda untuk membuang jauh-jauh memori itu dari ingatan kita.

Dan sekarang bayangkan, anda adalah seorang terpidana mati yang siap menunggu eksekusi dua bulan lagi. Lebih tepatnya tanggal 1 Oktober 2008 (hari pertama Idhul Fitri) nanti, regu tembak akan menjemput anda.

Saya kira tidak sulit untuk melakukannya. Anda tinggal buka koran hari ini. Baca berita tentang Rio Alex Bulo (terpidana mati yang tinggal menghitung hari menjelang eksekusi) yang akhirnya bertemu dengan istrinya sebagaimana permintaan terakhirnya. Coba kita lihat kira-kira apa yang ia rasakan sekarang...

Atau mungkin kita bisa mengeksplorasi dari media bagaimana ketakutan-ketakutan yang dialami oleh Rian "Si Jagal dari Jombang" yang kabarnya menjadi penyebab gagalnya upaya penyidik saat menguji fakta melalui Lie Detector.

Sekali lagi, seandainya kita adalah mereka, apa yang akan kita perbuat selama kurang lebih dua bulan ini?
Dan seandainya kita yakin seyakin-yakinnya bahwa Ramadhan adalah sebaik-baik momen bertaubat.
Apa rencana kita untuk Ramadhan?

Sebelum memasuki garis start, seorang Valentino Rossi pastinya tak akan pernah menyia-nyiakan waktu untuk memanasi mesin motornya. Anda pun pasti tahu apa sebabnya. Begitulah seharusnya kita dalam menjemput Ramadhan ini. Memasuki bulan Sya'ban, kita harus memanasi "mesin" kita. Bahkan belum cukup sampai di situ. "Ramadhankan" bulan Sya'ban anda. Artinya, kerahkan semua potensi anda untuk memulai membiasakan amalan-amalan Ramadhan di bulan Sya'ban ini. Tambahlah porsi tilawah Al Quran anda menjadi satu juz per hari, agar saat Ramadhan nanti bisa meningkat menjadi dua juz sehari. Bangunlah setiap malam dan tunaikan Qiyamullail setiap hari, agar tak kaget dengan Tarawih. Perbanyaklah shaum, agar lambung cepat beradaptasi.

Insya Allah, "mesin" kita akan lebih siap di "garis start", melaju dengan "top speed" di sepanjang lap, dan menjadi "jawara" di akhir Ramadhan. Berani mencoba?

Monday, August 4, 2008

Yang Dirindukan Surga

Oleh: Muhtadi kadi

Usai shalat jamaah di masjid, Umar bin Qahthan kembali ke rumah dan di sambut hangat oleh istrinya, Siti Hamdah. Ia tidak hanya berwajah cantik, namun juga berakhlak mulia dan pernah menjadi bunga desa di kampungnya. Perlu diketahui, Umar bin Qahthan berperawakan pendek, gendut, dan tak begitu tampan.

Setiap kali memandang sang istri, Umar selalu mendapatinya semakin bertambah cantik. Hingga suatu saat, dia tidak dapat memalingkan pandangannya. Sang istri lalu bertanya, ''Kenapa kamu ini, Umar?''
''Sungguh, kamu semakin lama bertambah cantik saja,'' jawab Umar sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Sang istri kembali berkata, ''Aku beri tahu kamu tentang kabar gembira bahwa kita akan masuk surga.'' Umar bertanya, ''Dari mana kamu tahu?''

Istrinya menjawab, ''Kamu dikaruniai istri seperti aku, lalu kamu bersyukur. Dan, aku dikaruniai suami seperti kamu, lalu aku bersabar. Sedangkan, orang yang bersyukur dan orang yang bersabar akan masuk surga.'' Umar tersenyum plus malu dan meminta istrinya agar tidak mengulangi ungkapan seperti itu lagi.

Istri yang baik bak matahari. Karena, dia selalu memberikan cahaya kedamaian dalam keluarga, menyulut sinar kekuatan dan keimanan dalam hati suami, tidak malu atas kekurangan suami, tidak mengeluh atas rezeki yang ada, dan menjaga kehormatan diri serta keluarga ketika ditinggal pergi.

Ketika salah satu sahabat bertanya kepada Nabi tentang istri yang paling baik, Rasulullah menjawab, ''Yang mendamaikan hati suami ketika dipandang, yang mematuhi suami ketika diperintah, dan tidak menyakiti hati suami.''

Oleh karena itu, Rasulullah SAW menjamin istri yang shalehah dengan surga. Hal ini ditegaskan dalam hadisnya, ''Di antara istri kalian yang termasuk ahli surga adalah mereka yang pengasih dan penyayang, memberikan keturunan yang banyak, dan memberikan kedamaian di hati suaminya. Jika suaminya marah, dia bersegera datang dengan menggenggam tangan suaminya sambil berkata, 'Sunggguh, aku tidak bisa tidur sebelum kanda memaafkanku'.'' (Muttafaq 'Alaih).

Emas berlian dan intan permata adalah perhiasan dunia yang terkadang membutakan mata terhadap kebenaran dan menutup hati dari keimanan. Namun, istri shalehah adalah perhiasan dunia yang melapangkan jalan kebenaran, mendamaikan hati, dan mengantarkan keluarga ke gerbang pintu surga.

Sumber: republika, 2008-08-01

Bermegah-megahan

Oleh Okrisal Eka Putra

''Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke liang kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan, janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.'' (QS Altakasur [102]: 1-4).

Dalam surat di atas, Allah menjelaskan bahwa perbuatan bermegah-megahan di dunia merupakan sifat jelek dan harus dijauhi. Sebaliknya, Islam mengajarkan sifat zuhud. Zuhud bukan berarti kita meninggalkan dunia, tetapi memiliki harta dunia hanya sesuai kebutuhan. Kalau kita memiliki harta di luar kebutuhan, ini bisa digolongkan dengan bermegah-megahan atau takasur .

Salah satu fenomena atau contoh yang membawa sifat bermewah-mewah adalah hobi memiliki kendaraan mewah di tengah kondisi masyarakat yang sulit serta dilanda berbagai bencana alam, kemiskinan, dan kelaparan. Kendaraan yang harganya ratusan hingga miliaran rupiah itu kalau dilihat dari fungsinya sama dengan kendaraan yang harganya mungkin 10 kali lebih murah.

Belum lagi, ketika kita memakai kendaraan tersebut di jalan raya, sifat mutakabbir (sombong) akan muncul. Tak jarang, mereka juga tidak mengindahkan hak-hak pengendara lain. Allah SWT sangat tidak suka dengan hamba-Nya yang takabur. Rasulullah SAW yang merupakan manusia pilihan dan kekasih-Nya saja hidup dengan sederhana dan jauh dari sikap itu. Maka, sudah sepatutnya kita menjauhi perilaku sombong atau membanggakan diri.

Dalam surat tersebut, dijelaskan bahwa sifat takasur hanya bisa dihentikan dengan dua hal. Pertama, dengan jalan tobat. Kedua adalah liang kubur (kematian). Bila liang kubur yang menghentikan kita, kita akan celaka di akhirat kelak karena kita akan dimurkai Allah SWT dengan hanya memikirkan kemegahan diri sendiri dan tidak peduli dengan orang lain. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW, ''Barang siapa yang di dalam hatinya ada perasaan sombong walaupun sebesar biji zarrah , dia tidak akan masuk surga.'' (Muttafaq 'Alaih).

Sekaranglah waktunya untuk merenungi kekeliruan kita dalam menyikapi harta dunia. Kalau kita diberi kelebihan harta oleh Allah SWT, bukan berarti kita bebas menggunakannya sesuai dengan hawa nafsu dunia. Lihatlah sekitar kita, adakah anak-anak yang tidak bisa meneruskan sekolah karena ayahnya kehilangan pekerjaan? Adakah anak-anak dengan derita kurang gizi karena penghasilan orang tuanya tak mampu untuk membeli makanan yang layak?

Sumber: republika, 2008-08-02

Kayalah Lalu Masuk Surga!

Oleh: Rikza Maulan, M.Ag

Dari Abi 'Abdillah Tsauban Bin Bujdad bahwa Rasulullah saw. Bersabda, "Dinar yang paling utama yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk kendaraannya di jalan Allah, dan dinar yang ia infakkan untuk rekan-rekannya (yang tengah berjuang) di jalan Allah." (Muslim)

Dalam kitab Nuzhatul-Muttaqin (syarah Riyadush-Shalihin karya Imam An-Nawawi) disebutkan, hadits itu menjelaskan peringkat keutamaan pengeluaran harta (infak) bahwa memberi nafkah kepada keluarga merupakan infak yang paling mulia. Dalam hadits lain disebutkan:

"Dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk (mememerdekakan) hamba sahaya, dinar yang engkau infakkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau infakkan untuk keluarga, yang paling utama di antara semua itu adalah dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu." (Muslim)

Ke manapun alokasinya, yang jelas seseorang tidak mungkin dapat berinfak jika tidak memiliki harta. Lebih-lebih jika kita mencermati ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan kita terlibat dalam jihad. Selalu saja disandingkan antara kewajiban berjihad dengan jiwa dengan kewajiban berjihad dengan harta. Bahkan dari semua ayat yang memerintahkan kita berjihad dengan harta dan jiwa, berjihad dengan harta selalu didahulukan kecuali pada satu ayat saja yakni ayat 111 surah At-Taubah, yang maknanya:

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka dengan mendapatkan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh."

Selebihnya, hartalah yang disebut terdahulu. Perhatikan ayat-ayat berikut:

"Wahai orang-orang yang beriman, inginkah kalian aku tunjukkan pada suatu perniagaan yang menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih. Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kalian berjihad di jalan Allah denganh harta dan jiwa kalian." (Ash-Shaf: 10-11)

Ini diperkuat dengan adanya kewajiban zakat. Dalam urusan yang satu ini memang ada kesalahan persepsi pada sebagian kaum muslimin. Kewajiban zakat sering dipahami begini: kalau punya harta, zakatlah; kalau tidak punya, tidak usah mengeluarkan zakat. Secara fiqih, pemahaman itu sangat benar. Tapi semangatnya bukanlah semangat kepasrahan pada keadaan. Semangat perintah zakat harusnya dipahami: carilah uang, kumpulkanlah harta agar dapat melaksanakan perintah Allah yang bernama zakat. Seharusnya kita membawa semangat shalat untuk diterapkan pada zakat. Kita selalu berpikir kita harus bisa melaksanakan shalat dengan segala perjuangan yang menjadi konsekuensinya. Dari mulai mencari penutup aurat, mencari tempat shalat, menentukan arah kiblat, mensucikan diri, dan seterusnya.

Itu semua mematahkan anggapan yang masih dianut sebagian orang bahwa kesalihan dan ketakwaan identik dengan kepapaan, kemelaratan, kesengsaraan, dan ketertindasan. Seolah-olah hanya orang miskin, jelata, dan tertindaslah yang layak menghuni surga. Sebaliknya orang kaya dan orang yang punya jabatan tidak punya tempat di surga. Ini diperparah dengan sering disitirnya hadits-hadits dha'if (lemah) atau bahkan maudhu' (palsu) yang memberikan pesan untuk menjauhi dunia sejauh-juahnya demi mencapai ketakwaan dan kesucian jiwa. Atau mungkin juga menyitir hadits shahih tentang zuhud dengan pemahaman yang salah.

Zuhud tidaklah identik dengan melarat. Zuhud adalah kepuasaan hati dengan apa yang diberikan Allah swt. Zuhud adalah ketiadaan ikatan hati kepada kekayaan. Bahwa sambil merasa puas dengan apa yang Allah berikan dan sambil meniadakan ikatan hati dengan harta seseorang memiliki harta dan jabatan, tidaklah menafikan sifat zuhud.

Utsman Bin 'Affan adalah konglomerat dan kaya raya. Beliau termasuk sahabat Nabi saw. yang dijamin masuk sorga. Demikian pula halnya dengan 'Abdurrahman Bin 'Auf. Beliau sukses dalam bisnis dan menjadi saudagar kaya raya. Toh beliau juga termasuk yang dijamin masuk surga. Umar Bin 'Abdul-'Aziz, khalifah yang kaya raya. Tapi justeru dia termasuk orang zuhud.

Posisi harta dalam Islam sama dengan posisi kemiskinan: sebagai ujian bagi manusia. Dengan kekayaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kekayaan pula orang bisa masuk neraka. Dengan kepapaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kepapaan pula orang bisa masuk neraka. Semuanya ujian! Allah swt. menegaskan:

"Dan Kami coba kalian dengan keburukan dan kebaikan, (semuanya) sebagai ujian." (Al-Anbiya: 35)

Rasulullah saw. bersabda:

"Sesungguhnya dunia itu manis dan menghijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya untuk melihat (menguji) bagaimana kalian bekerja. Maka berhati-hatilah dengan dunia dan berhati-hatilah dengan wanita. Karena sesungguhnya fitnah Bani Israil adalah pada wanita." (Riwayat Muslim)

Jadi, orang yang saleh bukanlah orang memilih meninggalkan harta melainkan yang lulus dalam ujian mengelola harta itu. Seseorang dianggap lulus ujian dalam urusan harta manakala:
Hanya menempuh cara halal untuk memperoleh harta.

Pada hari kiamat, setiap orang akan diminta pertanggungjawaban terkait dengan hartanya, dari manakah ia memperolehnya dan dengan cara apa? Ini batu ujian pertama. Rasulullah saw. bersabda:

Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman seperti yang diperintahkan kepada para rasul. Dia berfirman, 'Wahai para rasul, makanlah dari yang baik dan beramal salehlah karena sessungguhnya Aku mengetahui apa yang kamlian lakukan'. Dia juga berfirman, 'Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik dari yang Kami rezekikan kepada kalian'." Lalu Rasulullah saw. menerangkan tentang orang yang mengadakan perjalanan panjang, kusut masai dan berdebu. Ia mengadakahkan kedua tangannya (berdoa) ke langit (sambil mengatakan): Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dari yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan." (Muslim)
Harta itu tidak menyebabkan sombong

Orang yang suksus mengelola harta adalah orang yang dengan hartanya justeru semakin rendah hati dan menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan atau amanah dari Allah. Abdurrahman bin 'Auf yang padahal termasuk orang yang dijamin masuk surga pernah berlinang air mata saat dirinya siap menyantap hidangan lezat yang ada di hadapannya. Ketika ditanya penyebab ia menangis, ia menjawab, "Aku takut hanya yang kunikmati di dunia inilah yang menjadi ganjaranku dari Allah."
Menjadi fasilitas untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda, "Sebaik-baik harta yang saleh adalah yang ada pada orang saleh." Beliau juga memerintahkan kepada kita, "Jauhkanlah dirimu dari neraka walau dengan hanya sebelah kurma."
Menjadi fasilitas untuk silaturahim.

Infaq adalah baik. Dan infaq kepada kerabat adalah lebih baik lagi. Karena selain bernilai taqarrub, perbauatan itu juga merupakan upaya silaturahim. Rasulullah saw. bersabda, "Shadaqah kepada orang misikin adalah satu shadaqah dan shadaqah kepada orang yang punya hubungan rahim (kerabat) adalah dua shadaqah: shadaqah dan shilah (menyambungkan)." (At-Tirmidzi)
Menjadi fasilitas untuk perjuangan.

Perjuangan Islam jelas tidak mungkin tanpa dukungan finansial. Kekuatan orang-orang kafir harus dihadapi dengan kekuatan optimal kaum muslimin. Dan ini tentu saja salah kekutan itu adalah kekuatan maliyyah (finansial).

Itulah sebagian ajaran Islam yang terkait dengan kekayaan. Jadi, menjadi orang kaya, siapa takut? Allahu a'lam.

Sumber: dakwatuna, 26/7/2008 | 23 Rajab 1429 H

Pondasi Itu Bernama Keluarga

Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA

"Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar" (Al-Anfal: 28)

Kehidupan keluarga disamping menjadi salah satu dari sekian banyak tanda-tanda kebesaran Allah, juga merupakan nikmat yang patut disyukuri dan dijadikan sarana meraih kebaikan dan pahala yang besar di sisi Allah. Allah swt berfirman:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir". (Ar-Rum: 21). Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

"Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?". (Al-Isra': 72).

Untuk itu, harga mahal keberlangsungan sebuah rumah tangga mutlak dipertaruhkan karena memang dari sebuah institusi yang baik akan lahir alumni generasi yang baik pula. Allah berpesan untuk terlebih dahulu mempertahankan institusi ini:

"Dan bergaullah dengan mereka(istri-istri) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak". (An-Nisa': 19)

Menurut Sayyid Quthb ayat ini merupakan sentuhan jiwa yang menenangkan hati dari gejolak amarah dan akan mampu memadamkan api kebencian sehingga mengembalikan kehidupan rumah tangga kepada ketenangan dan kedamaiannya semula seperti yang dicita-citakan oleh Islam. Ayat ini juga secara implisit mengisyaratkan bahwa merupakan hal yang lumrah terjadi suatu saat secara emosional perasaan benci dan sebagainya yang terkadang turut memperkeruh suasana rumah tangga, namun keutuhan sebuah rumah tangga merupakan kata kunci yang tidak bisa ditolerir untuk membangun kehidupan keluarga yang baik.

Mustahil akan lahir anggota keluarga yang baik dari institusi rumah tangga yang rusak dan tidak mampu mempertahankannya.

Dalam bahasa Ibnu Asyur, Keluarga selain bisa menjadi Asbabul Ujur (peluang dan sarana mendapatkan pahala), ia juga bisa menjadi Asbabul A'tsam (peluang dan sarana menerima dosa) jika terjadi pengabaian akan tugas dan tanggung jawab masing-masing dalam kehidupan keluarga. Untuk itu, institusi ini termasuk yang mendapat perhatian besar Al-Qur'an.

Tercatat wanti-wanti Al-Qur'an tentang keberadaan keluarga, yaitu tentang anak dan istri yang bisa menjadi fitnah dalam arti ujian dan cobaan. Allah swt berfirman tentang kenyataan ini yang diawali oleh ayat di atas yang redaksinya mirip dengan surah At-Taghabun: 15 dan surah Al-Munafiqun: 9. Bahkan keberadaan mereka dalam keluarga bisa menjadi musuh yang menghalangi seseorang dari mentaati perintah Allah swt:

"Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya di antara Isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (At-Taghabun: 14)

Tentu agar keberadaan keluarga tersebut menjadi pundi kebaikan dan pahala dari Allah, maka 'tarbiyah' dalam arti yang luas merupakan pondasi dasar yang harus senantiasa ditingkatkan dan dipertahankan dalam keadaan bagaimanapun. Begitulah urgensi pesan Ya'qub terhadap keadaan keberagamaan keluarganya pasca ketiadaannya nanti:

"Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia Berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami Hanya tunduk patuh kepada-Nya". (Al-Baqarah: 133).

Justru kegundahan dan perhatian Ya'qub terhadap anak keturunannya adalah bagaimana sikap keberagamaan mereka pasca kewafatannya kelak. Kekhawatiran beliau tidak tentang kehidupan ekonomi mereka dan lain sebagainya -meskipun ini juga merupakan bagian dari isyarat pesan Allah dalam firman-Nya:

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak keturunan yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar". (An-Nisa': 9) Namun tentang suatu yang sangat vital dalam kehidupan manusia, yaitu tentang sikap dan pengamalan mereka akan 'Ubudiyah' kepada Allah dalam dimensinya yang luas yang tercermin dalam perjalanan tarbiyah atau pendidikan dalam kehidupan keluarga.

Dalam konteks ini, keluarga 'tarbiyah' harus punya perhatian yang serius tentang program penjagaan dan perawatan diri dan seluruh anggota keluarga dari jilatan api neraka.

Inilah program inti dan unggulan dari sebuah rumah tangga yang dibangun di atas dasar iman. Karena hanya keluarga yang beriman yang memiliki kepedulian tentang aspek ini seperti yang difahami dari mafhum khitab ayat:

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan". (At-Tahrim: 6).

Ibnu Mas'ud ra memahami ayat yang diawali dengan khitab khusus untuk orang yang beriman sebagai sebuah ujian akan komitmennya dengan segenap perintah dan larangan Allah swt. Beliau merumuskan satu kaidah yang bijak tentang ayat yang diawali dengan seruan 'Hai orang-orang yang beriman':

"Jika kalian membaca atau mendengar ayat Al-Qur'an yang diawali dengan ungkapan 'Hai orang-orang yang beriman' maka perhatikanlah betul-betul pesan Allah setelahnya. Karena tidak ada kalimat setelahnya melainkan sebuah kebaikan yang diperintahkan untuk kita melakukannya maupun sebuah keburukan yang Allah cegah kita darinya".

Ayat ini jelas memerintahkan agar objek kepedulian itu diarahkan secara prioritas tentang keberagamaan dan tarbiyah dalam keluarga, tentang program yang mendekatkan mereka ke dalam syurga dan menjauhkannya dari neraka. Inilah keluarga ideal dan sukses pada kacamata surah At-Tahrim yang menurut Sayyid Quthb sarat dengan penjelasan tentang keadaan keluarga Rasulullah saw. sebagai teladan keluarga sepanjang zaman.

Demikianlah program unggulan keluarga Ya'qub as. seperti yang difahami dari pesan beliau kepada seluruh anak-anaknya: "Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (Al-Baqarah: 133).

Juga perhatian Ibrahim terhadap keluarganya seperti yang tersebut dalam salah satu doanya yang diabadikan oleh Allah dalam firmanNya: "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku". (Ibrahim: 40).

Jelas nabi Ibrahim dan nabi Ya'qub sangat faham bahwa kebaikan individu dalam keluarga sangat ditentukan oleh peran seluruh anggotanya. Demikian juga anggota keluarga turut memberi pengaruh pada keburukan dan kesalahan yang dilakukan oleh salah seorang individu dari mereka.

Keteladanan Muhammad dalam hal ini jelas turut disuport dan didukung oleh keteladanan seluruh anggota keluarganya; dari istri-istrinya, mertua dan menantunya serta anak dan cucunya, bahkan sahabat yang menyertai kehidupan beliau, sehingga beliau layak tampil sebagai uswah hasanah (teladan yang paripurna) yang diabadikan oleh Al-Qur'an dalam seluruh dimensi kehidupan tanpa cacat dan cela sedikitpun, "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah teladan yang paripurna bagi kamu sekalian". (Al-Ahzab: 21)

Secara redaksional, ungkapan 'peliharalah dirimu dan keluargamu' mengindikasikan satu bentuk pencegahan sebelum terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan, seperti terumus dalam pepatah 'Al-Wiqayatu Khairun Minal 'Ilaj' : 'Mencegah itu jelas jauh lebih baik daripada mengobati'. Tarbiyah itulah bentuk 'wiqayah' yang paling efektif untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan penyelewengan perilaku anggota keluarga. Pencegahan juga harus diawali dari orang tua yang menjadi cermin keluarga 'peliharalah dirimu', yang kemudian akan berlanjut pada pembinaan anggota keluarga yang menjadi tanggung jawab mereka.

Sungguh kita masih punya banyak waktu dan kesempatan di dalam rumah tangga kita untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas pembinaan. Hanya dengan prinsip-prinsip tarbiyah Islamiyah itulah kita mampu membangun sebuah peradaban luhur dalam sebuah bangunan rumah tangga yang diidam-idamkan sebagai institusi terkecil yang akan turut mewarnai dan memberi pengaruh pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam skala yang lebih besar.

Mudah-mudahan setiap kita akan lebih menfokuskan diri pada pembinaan anggota keluarga secara lebih prioritas yang akan berdampak pada pembinaan masyarat dan umat nantinya. Amin. Allahu a'lam

Sumber: dakwatuna, 31/7/2008 | 28 Rajab 1429 H

Rona-rona Aisya


Friday, August 1, 2008

Obsesi Pak Bondan

Kematian

Berbekallah untuk hari yang sudah pasti
Sungguh kematian adalah muara manusia

Relakah dirimu, menyertai segolongan orang
Mereka membawa bekal sedangkan tanganmu hampa

Rasulullah bersabda, Perbanyaklah mengingat
akan pemusnah segala kenikmatan dunia

Itulah kematian, yang kan pasti datang
Kita tak tahu kapan waktunya kan menjelang

Menangislah hai sahabat karna takut kan Allah
Niscaya engkau kan berada dalam naungannya

Di hari kiamat, di saat tiada
Naungan untuk manusia selain naungannya
* Nasyid Suara Persaudaraan

13 Sifat Bisnisman Yang Tidak Disukai Mitra

Oleh: DR. Amir Faishol Fath

Tidak ada bisniman yang ingin rugi. Semua bisnisman berjuang untuk mencapai keuntungan. Tetapi ingat bahwa keuntungan yang harus dicapai harus melalui cara-cara yang baik. Bukan dengan cara-cara yang kejam dan menghancurkan kemanusiaan. Allah swt. Sang Pencipta sangat menjaga kelestarian ciptaan-Nya. Dan untuk itu Allah swt. menurunkan tuntunan hidup yang baik bagi manusia termasuk tuntunan dalam wilayah bisnis. Manusialah memang yang mendapatkan mandat untuk mengurus kehidupan di muka bumi ini.

Khusus mengenai bisnis, ada minimal tiga belas sifat yang harus dihindari seorang bisnisman dalam menjalankan roda usahanya. Trutama sifat yang berkaitan langsung dengan mitra. Sebab bagaimanapun sukses seorang bisnisman sangat tergantung kepada kesetiaan mitranya. Bila diteliti secara mendalam semua sifat tersebut sangat tidak disukai oleh mitra, lebih dari itu sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.

Pertama, Pembohong

Sikap bohong bukan ciri seorang beriman. Rasulullah saw. ketika ditanya apakah ada seorang yang beriman berbohong, kata Nabi tidak ada. Ini menunjukkan bahwa tindakan berbohong adalah bertentangan dengan keimanan. Dengan kata lain tidak terbayang seorang yang mengaku beriman kepada Allah dan yakin bahwa Allah mengetahui segala perbuatannya, ia berbohong. Dengan demikian ketika seseorang berbohong dalam transaksi bisnisnya berarti ia di saat yang sama telah melepaskan keimanannya kepada Allah swt.

Lebih jauh, bahwa tidak ada manusia di dunia yang ingin dibohongi. Dengan demikian tindak kebohongan adalah bertentangan dengan fitrah manusia. Karena itu tidak seorang istri yang merasa aman di samping seorang suami pembohong. Tidak ada seorang anak yang merasa aman di tengah orang tua pembohong. Begitu juga tidak ada seorang pembeli yang merasa aman bertransaksi dengan seorang pembohong. Maka seorang pedagang berbohong ia telah merusak harga dirinya, lebih dari itu ia merusak masa depan bisnisnya sendiri.

Boleh jadi seorang beruntung sejenak dalam bisnisnya ketika membohongi orang. Tetapi setelah itu seumur hidup tidak akan ada orang yang percaya kepadanya. Maka dengan melakukan kebohongan dalam berbisnis, seseorang telah mengorbankan kelanjutan perniagaannya hanya demi keuntungan sesaat. Itulah mengapa Allah dan Rasul-Nya sangat benci terhadap perbuatan bohong.

Kedua, Penipu

Seorang penipu cenderung menyembunyikan aib atau cacat barang dagangannya kepada para pembeli. Jika itu berupa makanan yang sudah expired, diam-diam ia mengubah tanggalnya. Tidak peduli apakah makanan itu bakal menimbulkan bahaya bagi pembeli, yang penting ia untung. Jika barang dagangan itu berupa barang, ia tidak memberitahukan kerusakan yang ada di dalamnya. Ia berusaha untuk menunjukkan bahwa barang itu masih baik. Banyak orang yang menjual kendaraan misalnya yang pernah tertabrak, lalu disembunyikan bekas tabrakannya. Bahkan ia memberitahukan kepada orang lain bahwa kendaraan itu masih asli, tanpa sedikitpun cacat. Tidak sedikit orang yang tertipu karenanya. Tidak sedikit orang yang merasa dirugikan karena tindakan semacam ini.

Siapapun tidak mau ditipu. Rasulullah saw. pernah menegur seorang penjual di pasar yang melakukan penipuan. Allah swt. memgancam orang-orang yang menipu dalam timbangan. Allah berfirman: "Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi." (QS. Al Muthaffifiin:1-3). Kata al muthaffifiin (orang-orang yang curang)di ambil dari kata thaffafa artinya mengambil sedikit. Ini menunjukkan bahwa segala bentuk penipuan sekalipun sedikit, ancamannya neraka. Allah swt. tidak ingin manusia main-main dalam hal ini. Sebab bagaimanapun ini menyangkut hak manusia, yang tidak bisa tidak harus dipenuhi. Bila ia tidak dipenuhi di dunia Allah tidak akan mengampuni sampai hak itu diberikan.

Rasulullah saw. pernah menceritakan contoh manusia yang bangkrut (al muflis), bahwa itu bukan orang yang tidak punya uang dan harta, melainkan dialah orang yang datang di hari Kiamat dengan pahala shalat dan puasanya, sementara ia selama di dunia sering bertindak dzalim dengan menipu dan mengambil hak orang lain, lalu dipanggillah kelak orang-orang yang didzalimi itu, untuk menangih. Karena ia tidak punya, maka diambillah pahala shalat dan puasanya sampai habis. Perhatikan betapa besar ancaman bagi para penipu dalam dagangannya. Ia pasti tidak akan berkah hidupnya di dunia karena tidak ada orang yang mempercayainya dan rugi di akhirat karena Allah swt. melaknatnya.

Ketiga, Pelaku riba

Allah swt. berfirman: wa ahallallhul bay'a wa harramar ribaa (Allah menghalalkan perdagangan dan mengharamkan riba) (QS. Al Baqarah: 275). Ayat ini menggambarkan bahwa sistem riba sering kali digunakan sebagai perdagangan, padahal itu bukan jalan untuk memperoleh penghasilan. Di dalam Islam masalah hutang piutang tidak termasuk bab bisnis melainkan bab tolong menolong. Karena itu tidak dibenarkan secara syariat mencari penghasilan dalam pinjam meminjam. Para pelaku riba dalam bisnis telah mencekik banyak orang yang membutuhkan bantuan. Allah swt. tidak ingin mereka yang lemah semakin tertindas karena sistem riba. Itulah rahasianya mengapa dengan tegas Allah swt. mengharamkan riba. Bahkan para pelaku riba dianggap oleh Allah swt. sebagai orang-orang yang dengan terang-terangan mengajak perang dengan-Nya. (lihat QS. Al Baqarah 279).

Dengan ini jelas bahaya riba dalam hidup manusia. Bahwa Allah swt. tidak ingin manusia menjadi hamba harta. Riba telah membuat banyak orang menjadi dzalim. Perhatikan, ketika seseorang pinjam uang ke bank untuk modal bisnis dengan jalan riba, tidak bisa tidak ia harus menaikkan harga dagangannya untuk bisa menutupi bunga yang harus ia bayar. Maka dengan menaikkan harga, banyak orang yang berekonomi lemah terjepit. Hancurnya ekonomi dunia saat ini seperti yang kita saksikan adalah karena terlalu merebaknya sistem riba. Akibatnya kemanusiaan harus menjadi korban. Kejahatan terjadi di mana-mana. Orang-orang semakin jauh dari Allah swt., karena yang dikonsumsi setiap hari barang haram dari hasil riba. Bila ini yang terjadi, Allah swt. pasti akan mencabut keberkahan sebuah negeri. Bila sebuah negeri tidak ada keberkahannya, manusia pasti akan terus menerus dilanda malapetaka.

Allah swt. tidak ingin manusia menderita, berpecah belah, saling bermusuhan dan saling menghancurkan. Karenanya segala bentuk kedzaliman dalam segala dimensinya Allahswt. haramkan. Termasuk kedzaliman dalam dunia bisnis, seperti sistem riba yang hanya memenangkan para pemilik modal dan menghancurkan ekonomi lemah.

Keempat, Mempersulit Mitra

Di halalkannya jual beli bukan untuk saling mempersulit melainkan untuk saling meringankan. Saya sering menemukan seorang pedagang yang tidak segera melayani pembeli. Akibatnya banyak waktu terbuang di depan toko hanya karena menunggu layanan, padahal seandainya segera dilayani ia bisa menyelesaikan pekerjaan lainnya. Perhatikan betapa pedagang yang tidak bersungguh-sungguh melayani pembeli telah merugikan waktu mereka. Mungkin di antara mereka ada yang anaknya atau istrinya sakit. Atau mungkin ia harus segera berangkat dalam perjalanan jauh dan lain sebagainya. Yang jelas bersikap abai terhadap pembeli bukan hanya merugikan orang lain, malainkan ia juga tindakan yang sangat tidak disukai.

Kepada seorang tamu saja, Rasulullah saw. mengajarkan agar kita selalu menghormatinya. Bahwa kata Nabi: "Tidak sempurna iman seseorang yang tidak menghormati tamu." Apa lagi melayani seorang pembeli dengan sungguh-sungguh, itu tidak saja menghormati orang lain seperti menghormati seorang tamu, melainkan lebih dari itu ia akan memperoleh keuntungan duniawi. Banyak orang yang tidak mau berbelanja di sebuah toko karena jeleknya pelayanannya. Dan banyak orang yang suka berbelanja di sebuah toko karena servisnya yang baik dan memuaskan. Sebuah tempat penyucian mobil dengan ruang tunggu berAC jauh lebih disukai orang dari pada tempat lainnya yang tanpa ruang tunggu. Di antara pilar bisnis profesional yang diajarkan Rasulullah saw. adalah bagaimana membuat para pembeli nyaman, senang dan merasa aman.

Sampai-sampai dikatakan dalam sebuah pepatah bisnis "pembeli adalah raja" ini maksudnya adalah bahwa pembeli harus dilayani dengan sungguh-sungguh. Bahwa pembeli harus benar-benar dibikin nyaman dan senang. Bahwa pembeli benar-benar disambut dengan wajah ceria dan senyum yang indah. Bukan malah dipersulit apalagi disakiti atau ditipu. Sungguh sutau tindakan yang merugikan bila seorang pedagang bertindak cuek dan acuh terhadap pelangganya.

Kelima, Tidak Menepati Janji

Sekali seorang pedagang tidak menepati janji, para pembeli akan lari darinya. Karenanya jangan mudah berjanji jika tidak bisa memenuhinya. Islam mengajarkan bahwa janji harus dipenuhi. Rasulullah saw. pernah berjanji dengan salah seorang sahabatnya untuk bertemu di sebuah tempat. Tiba-tiba orang tersebut lupa. Setelah tiga hari ia baru ingat. Ia segera mendatangi tempat tersebut. Ternyata di sana ia masih melihat Nabi menunggu. Nabi menegurnya: Ada di mana engkau selama ini wahai laki-laki. Perhatikan betapa luar biasa Rasulullah saw. dalam menepati janji. Sampai tiga hari ia berkorban perasaan menunggu di tempat yang disepakati.

Untuk menepati janji dibutuhkan kemauan yang kuat. Karena itu Nabi Adam as. ketika melanggar, Allah swt. menggambarkan ia lupa dan tidak mempunyai kemauan yang keras.(lihat QS. Thaha:15). Banyak para pedagang yang begitu mudah melanggar janji. Dan banyak para bos yang tidak menepati janji bagi karyawannya. Ingat bahwa setiap janji ada catatannya di sisi Allah swt. Maka siapapun yang melanggarnya tidak saja ia telah kehilangan kepercayaan dari mitranya melainkan juga dapat ancaman dari Allah swt.

Keenam, Tidak Transparan

Seorang pedagang yang baik ia pasti tidak mau membuat penbelinya rugi. Banyak para pembeli rugi karena sikap pedagang yang tidak transparan. Tidak transparan maksudnya tidak terus terang mengenai kualitas barang yang ia jual. Banyak barang yang secara kualitas di level dua misalnya, tetapi dipasaran dijual setara dengan level satu. Di antara keistimewaan ajaran Islam adalah al wuduuh (transparan). Tidak ada ajaran dalam Islam yang harus disembunyikan. Karena itu dalam dunia perdagangan seorang pedagang harus jelas apa yang ia jual. Banyak kejadian seorang penjual bakso misalnya yang biasanya menggunakan daging halal, diam-diam ia menggunakan daging haram, dengan tanpa memberitahukan secara terus terang kepada pembeli. Akibatnya setelah ketahuan, banyak pembeli yang mengutuknya. Banyak pembeli yang tidak percaya. Karena mereka merasa dirugikan, maka tidak ada lagi orang membeli lagi darinya.

Seorang pedagang sejati ia tahu apa yang ia jual. Dan ia tahu bahwa tidak ada seseorang yang mau dirugikan. Oleh karena itu harus memasang brand yang jelas, bukan yang remang-remang. Sebab setiap yang remang-remang adalah syuhbhat. Dan setiap yang syubhat bukan hanya hukumnya haram tetapi juga merugikan orang lain. Karena Nabi melarang bay'ul gharar (menjual barang yang tidak jelas). Seperti menjual buah-buahan yang masih belum muncul dipohonnya. Atau menjaul anak unta yang masih dalam kandungan ibunya dan lain sebagainya.

Ketujuh, Suka Menunda Pembayaran

Banyak perusahaan besar menunda pembayaran terhadap mitra usaha kecil. Akibatnya banyak mitra usaha kecil yang terseok-seok dan tidak sedikit yang gulung tikar karena tidak punya modal untuk menjalankannya. Tindakan seperti ini bukan hanya merugikan melainkan juga mematikan mitra usaha kecil. Ingat bahwa prinsip utama dalam bisnis menurut Islam adalah saling menghidupkan bukan saling membunuh. Allah swt. berfirman: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS. AlMaidah:2).

Karena itu setiap usaha yang mematikan usaha lain sehingga menyebabkan banyak orang menderita, itu bukan cara yang Allah swt. ajarkan. Allah swt. tidak suka kepada orang-orang yang dzalim, dengan menunda pembayaran terhadap mitra usahanya, padahal ia mampu membayarnya. Rasulullah saw. menekankan pentingnya pembayaran upah sebelum keringat karyawan itu kering. Maka sungguh tidak Islami dan mempersulit orang lain, pedagang yang main menangnya sendiri. Barang dagangan mitra dijual sementara pembayarannya ditunda, sehingga sang mitra menderita. Ini namanya pedagang yang ingin menang sendiri di atas penderitaan orang lain. Cara-cara seperti ini jelas bukan hanya menyiksa mitra tetapi juga akan mencabut keberkahan bisnisnya. Ingat bahwa yang paling menentukan sukses sebuah bisnis bukan banyaknya keuntungan melainkan turunnya keberkahan. Banyak bisnisman yang mampu mengeruk keuntungan tetapi karena tidak ada keberkahan di dalamnya, semua keuntungan itu malah menyeretnya ke dalam kesengsaraan tanpa batas.

Kedelapan, Menjual Di Atas Harga Pasar

Setiap pembeli ingin membeli barang yang sesuai dengan harga umum di pasar. Pedagang yang suka menaikkan harga di atas harga pasar, pasti akan dijauhi pembeli. Ingat bahwa hidup matinya sebuah usaha tergantung kepuasan mitra. Di antara yang paling dicari oleh mitra atau pembeli adalah kualitas barang dengan harga yang standar. Ingat bahwa prinsip dibolehkannya jual beli dalam Islam adalah dalam rangka at ta'aawun (tolong menolong) bukan saling mempersulit. Menentukan harga barang di atas harga standar di pasar adalah tindakan mencekik pembeli. Itulah rahasia mengapa al ihtikaar (monopoli) dilarang. Sebab dengan monopoli seseorang yang dzalim bisa menaikkan harga seenaknya tanpa memperhatikan harga pasar. Baginya ketika seseorang butuh ia pasti membeli berapapun harganya. Beginya tak perduli orang-orang menderita yang penting untung sebanyak-banyaknya. Itulah juga sebabnya mengapa Nabi saw. melarang seseorang mencegat pedagang di tengah jalan sebelum masuk ke pasar, dengan tujuan untuk mendapatkan harga lebih rendah di bawah harga pasar. Jadi Islam melarang seseorang menaikkan harga di atas harga pasar atau mengambil dagangan di bawah harga pasar. Mengapa? Supaya fair, tidak ada yang dirugikan dan supaya dipahami bahwa tujuan berbisnis adalah untuk saling menyelamatkan kemanusiaan bukan untuk saling menjatuhkan.

Seorang pedagang yang kejam dengan mempermainkan harga di luar harga pasar jelas sangat dibenci oleh mitra atau pembeli. Dan bila anda seorang bisnisman lalu anda bertindak demikian, anda tidak akan sukses, karena bukan hanya masyarakat yang mengutuk anda melainkan Allah swt. dan seluruh penduduk langit malaknat anda.

Kesembilan, Menjual Barang Haram

Mitra yang baik dan beriman pasti tidak suka membeli barang-barang haram. Saya pernah bertemu dengan seseorang yang melarang saya untuk membeli makanan di sebuh toko. Saya tanya mengapa? Ia menjawab: Orang itu menjual daging babi. Benar sebuah toko yang menjual barang haram akan menjadi sasaran dibenci banyak orang. Lebih dari itu ia dibenci oleh Allah swt. Sebab dengan perbuatannya itu, ia telah tolong menolong dalam dosa. Allah melarang dengan tegas dalam firmannya: walaa ta'awanuu bil itsmi wal 'udwaan (dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan).

Ayat ini menggandeng antara dosa dengan permusuhan, artinya bahwa setiap perbuatan dosa akan selalu mengantarkan kepada permusuhan. Karena itu tidak akan bahagia seseorang yang menjual barang-barang yang diharamkan Allah swt.

Kesepuluh, Terlalu Materialistis

Pandangan hidup materialistis cendrung menyebabkan banyak penyakit: (a) Kikir, banyak pedagang yang terlalu ketat materialistis, menjadi kikir dan tidak mau bersedekah dan bahkan tidak pernah membayar zakatnya. Sebab ia menganggap bahwa sedekah itu mengurangi total keuntungan yang ia dapatkan. Sudah pasti bahwa orang-orang kikir dibenci oleh mitra. (b) Kaku dan serba perhitungan yang bertele-tele. Akibatnya banyak mitra yang tersiksa setiap bekerja sama dengannya. Sudah pasti pedagang seperti ini akan dijauhi oleh mitranya. (c) Terlalu ngebet mengejar keuntungan, sehingga cendrung bertindak dzalim atau bahkan kadang-kadang menghalalkan cara-cara yang jelas haram. Akibatnya banyak pihak dari mitra yang dirugikan. Sudah pasti bahwa pedagang seperti ini akan menjadi musuh yang selalu mengancam mitra.

Allah swt. selalu menekankan dalam Al Qur'an pentingnya meningkatkan ketakwaan. Mengapa? Supaya manusia tidak menjadi mahluk yang semata materialistik. Bahwa manusia mempunyai dimensi ruhani. Bahwa kebahagiaan tidak mungkin dicapai semasih seseorang mengkotakkan dirinya dalam dinding meterialisme. Karena itu seorang pedagang haruslah benar-benar berjuang untuk menjadikan prinsip atata'aawun fil birri wat taqwaa sebagai tujuan hidupnya. Dengan prinsip ini perniagaannya bukan beruntung melainkan lebih dari itu ia akan berkah.

Kesebelas, Monopoli

Monopoli adalah tindakan ingin untung sendiri dalam dunia bisnis. Tidak perduli orang lain menderita. Rasulullah saw. mengancam orang-orang yang monopoli dengan ancaman yang sangat mengerikan. Bahwa orang melakukan tindak monopoli dalam perdagangannya ia telah memutuskan hubungan dengan Allah swt. dan Allah swt. memutuskan hubungan dengannya. Ini menunjukkan bahwa Allah swt. tidak suka manusia yang hanya ingin kaya sendiri, atau menang sendiri. Allah swt. mengajarkan agar manusia saling tolong menolong. Bahwa bukan ajaran Islam setiap cara-cara bisnis yang membuat orang lain tercekik. Karenanya riba diharamkan, karena ia pasti akan mencekik mereka yang lemah. Begitu juga monopoli diharamkan karena ia pasti mencekik banyak mitra yang tidak punya modal dan bahkan mencekik para pembeli yang berekonomi lemah.

Pokoknya, bahwa setiap tindakan mempersulit orang lain, Islam pasti melarangnya. Termasuk dalam urusan bisnis dan jual beli. Itulah rahasia mengapa riba, monopoli dan bentuk-bentuk praktek yang semisalnya diharamkan. Itu tidak lain karena mencekik dan mempersulit orang lain.

Keduabelas, Tidak Manusiawi

Benar, Allah swt. menghalalkan juali beli, tetapi bukan untuk maksud memeras orang lain. Dalam Al Qur'an Allah swt. sangat menjunjung tinggi manusia dan kemanusiaan. Segala tindakan yang menyengsarakan manusia sangat di haramkan. Seorang pedagang yang kejam, dan hanya mementingkan keuntungan materi semata, tanpa melihat kemanusiaan, pasti sangat dibenci.

Saya pernah melihat bagaimana orang-orang menjauhi seorang pengusaha yang kejam. Ia suka mengambil barang dari orang lain dengan harga yang sangat murah, lalu menjual kepada orang lain dengan harga yang sangat mahal di luar kemapuan rata-rata. Saya benar-benar menyaksikan bahwa tidak sedikit orang yang menderita kerena perilaku pedagang yang kejam dan tidak manusiawi. Ingat bahwa tujuan berbisnis bukan semata mengeruk keuntungan, melainkan lebih dari itu untuk saling meringankan dan besinergi. Ingat bahwa seorang pengusaha, tidak bisa berdiri sendiri, melainkan ia juga tergantung kapada orang lain. Ada sebuah prinsip menarik dalam dunia bisnis dan telah membuat banyak orang mencapai sukses: "Tidak apa-apa keuntungan sedikit tetapi terus menerus." Ini sungguh lebih baik dari pada keuntungan banyak dengan cara mencekik tetapi hanya sekali setelah itu usahanya mati dan tidak berlanjut lagi.

Ketigabelas, Bermain Sogok

Sogok menyogok adalah penyakit sosial yang sangat merugikan. Karena itu Allah swt. melaknat segala bentuk sogok menyogok. Rasululah saw. bersabda: la'natullahi alar raasyi wal murtasyii (Allah melaknat orang-orang yang menyogok dan yang diberi sogok). Ini menunjukkan bahwa tidak mungkin berkah hidup pengusaha yang suka bermain sogok, hanya untuk memudahkan jalan bisnisnya. Di antara rahasia mengapa Allah melaknat mereka:

Pertama, karena permainan sogok akan mempersulit jalan bisnis orang lain yang bersih dan menjauhi sogok menyogok. Tidak sedikit penguasaha yang gulung tikar, usahanya dipersulit karena tidak mau membayar sogok yang jumlahnya tidak sedikit. Kedua, bahwa sogok menyogok bukan jalan untuk mendapatkan penghasilan, melainkan benalu yang dipaksakan dalam dunia bisnis. Akibatnya banyak para pedagang yang terpaksa menaikkan harga barang karena harus menutupi uang sogok yang dibayarkan. Perhatikan betapa sogok dampaknya bukan harus ditanggung oleh sang pengusaha saja, melainkan harus juga ditanggung oleh masayarakat secara luas.

Jika demikian, maka tidak mustahil dari kebiasaan sogok menyogok akan menyebar kerusakan multi dimensional dalam kahidupan sosial. Suatu contoh misalnya, dimudahkannya penjualan barang haram dan praktek-praktek haram yang merusak moral masyarakat, karena menggunakan pelicin yang disebut sogok. Perhatikan bila apa saja bisa diperdagangkan asal membayar sogok, tentu yang paling pertama kali akan menjadi korban adalah kemanusiaan. Karenanya Allah swt. dan Rasul-Nya sangat mengutuk praktek sogok menyogok tidak hanya dalam dunis bisnis saja melainkan dalam lapangan kehidupan yang lain. Allahu a'lam

Sumber: dakwatuna, 24/7/2008 | 21 Rajab 1429 H

Abii.. Ummi.. Aicha cenam pagi dulu yaa ... Tuk wak, tuk wak..

Hari ini usiamu baru 21 hari, Nak. Kehadiranmu telah membawa warna tersendiri dalam hidupku. Jeritan tengah malam mu, rengekanmu, serta wajah polosmu, kini menghiasi hari-hariku. Engkau bagaikan malaikat yang Allah kirimkan bagiku.

Di sisi lain, kau adalah amanah. Jadi apapun engkau nanti, aku akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Sang Penciptamu. Aku sadar, amal baikku tak akan sanggup menutupi seluruh dosa-dosaku. Hanya satu pintaku, Nak. Antarkan aku ke syurga-Nya kelak. Agar kita bisa berkumpul bersama di sana.

Abimu.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...