Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Tuesday, June 10, 2008

CEO Republik Indonesia

diambil dari nofieiman.com


Sewaktu hendak membersihkan file-file yang berserakan di hardisk, saya menemukan foto di atas. Ia adalah dosen dengan PhD bidang rekayasa dan perencanaan transportasi (1987). Ia diangkat menjadi walikota Teheran pada tanggal 3 Mei 2003. Sejak 3 Agustus 2005 ia terpilih sebagai pemimpin Iran. Penampilannya santai tapi berkharisma. Ia cerdas, berani, tegas, namun tetap santun. Mike Wallace dari CBS sampai mengatakan, "He's an impressive fellow, this guy. He really is. He's obviously smart as hell."

Saya mulai ngeh dengan sosoknya ketika upacara tanfiz (installation ceremony) dilakukan antara Khatami dengan Ahmadinejad. Selesai acara tersebut, Khatami menggandeng tangan Ahmadinejad menuju kantor kepresidenan. Setelah dilantik, press release pertama Ahmadinejad adalah himbauan bagi semua pihak untuk tidak memasang ucapan selamat di surat kabar dan larangan agar kantor-kantor tidak memasang fotonya.

Selain kedua tokoh itu, Akbar Hashemi-Rafsanjani yang kalah Pemilu dari Ahmadinejad juga hadir dalam upacara tersebut. Rafsanjani sendiri tokoh yang juga tak kalah menarik. Walaupun ia kalah, Rafsanjani tetap melaksanakan tugas untuk memberi khotbah Jum'at dan menyerukan pada rakyat untuk bersatu mendukung presiden baru. Bandingkan dengan Megawati yang menonton pelantikan Presiden SBY dari televisi pun ogah.

Jujur saja, sosok Mahmoud Ahmadinejad sedikit banyak menginspirasi saya—-terutama sifatnya yang sederhana, rendah hati, dan bersahaja. Ketika Ahmadinejad mengunjungi Indonesia, misalnya, tak terlihat persiapan khusus. Ia juga mengunjungi Muhammadiyah, PBNU, dan media massa dengan pengawalan seadanya. Ketika mengunjungi kampus-kampus, ia menyalami mahasiswa dengan hangat—-tanpa protokol dan pengawalan berbelit.

Bandingkan ketika Bush datang ke Indonesia. Enam kontainer yang entah apa isinya didatangkan jauh-jauh hari ke Hotel Salak. Konon, Rp 6 miliar anggaran Kota Bogor habis untuk menyambut kedatangannya yang hanya kurang dari 6 jam. Jalanan Bogor ditutup, sekolah dan perkantoran diliburkan, sinyal komunikasi juga diacak ketika Bush datang.

Dua F-16 didatangkan dari Madiun plus 6 F-16 yang menyertai Air Force One. USS Enterprise juga siaga di Laut Jawa. Sejumlah 15 ribu personel TNI Kodam Jaya dan Kodam Siliwangi diturunkan—-belum termasuk intel BIN dan CIA. Sialnya, kita semua dikelabui oleh Bush. Helipad di Kebun Raya Bogor yang mahal urung digunakan karena rombongan Bush malah mendarat di GOR Padjajaran.

Biarpun menjadi orang pertama di Iran, Ahmadinejad tetap tinggal di rumah jelek warisan orang tuanya di Teheran Timur sejak 40 tahun lalu. Perlu diketahui bahwa kawasan Teheran Timur merupakan daerah miskin selain Teheran selatan. Rumahnya tak dilengkapi AC. Ia juga tidur hanya beralas karpet. Karena rumahnya berada di jalan buntu, petugas keamanan akhirnya hanya membuat posko keamanan di ujung jalan dan mendata tetangga dan sanak famili untuk memonitor.

Ahmadinejad juga sosok yang berkomitmen tinggi. Ketika ditanyai Fox News tahun lalu, "Saat Anda melihat kaca di pagi hari, apa yang Anda katakan buat diri Anda sendiri?" Jawab Ahmadinejad, "Saya melihat orang di dalam kaca dan mengatakan kepadaku: 'Ingat, kamu tak lebih dari sekedar pembantu biasa, hari-harimu harus kau isi dengan tugas berat, yakni melayani masyarakat, bangsa dan Negara Iran'."

Ahmadinejad punya reputasi sebagai presiden yang selalu datang paling awal. Dia membawa tasnya sendiri dan berbekal roti mentega yang disiapkan istrinya setiap pagi. Ia juga hanya mengendarai Peugeot 504 tahun 1977 dan konon tak punya uang tabungan berlebih. Saat sholat berjamaah, ia juga tak pernah meminta untuk disiapkan tempat khusus di shaf depan.

Kantor Ahmadinejad juga hanya bangunan kecil yang terjebak di kepadatan Teheran. Halamannya hanya cukup untuk beberapa mobil. Ia berpendapat bahwa pemerintahannya terlalu boros. Ia juga memotong sejumlah pengeluaran seperti dalam menerima tamu VIP hingga mengganti ruangan dengan perabot yang sederhana. Para menteri yang ia angkat selalu ditekankan untuk peduli rakyat miskin. Semua account menteri dan sanak saudaranya dipantau setiap saat. Ahmadinejad berharap para menterinya kelak meninggalkan jabatan secara mulia tanpa mengambil keuntungan.

Biarpun dipandang sebelah mata oleh masyarakat dunia, Ahmadinejad bukan sosok yang kerdil dan inferior. Ketika diwawancara Fox News soal nuklir di negerinya yang ditentang Amerika, ia menjawab, "How come you have that right and we don't have it?" Hal serupa juga ia kemukakan ketika datang ke Jakarta, "Jika nuklir ini dinilai jelek dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya, mengapa kalian sebagai adikuasa memilikinya? Sebaliknya, jika teknonuklir ini baik bagi kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya?"

Berulang kali ia mengeluarkan pernyataan panas seperti, "The West claims that more than 6 million Jews were killed in WW II and to compensate for that they established and support Israel. If it is true that the Jews were killed in Europe, why should Israel be established in the East, in Palestine?" Ia juga "menantang" terbuka, "Do you think you are dealing with a 4-year-old child to whom you can give some walnuts and chocolates and get gold from him?" Ketika diundang ke Columbia University, ia bahkan berani meledek, "In Iran we don't have homosexuals like in your country." Wah, kalau sampai Bush berani datang ke Iran dengan pengawalan minim dan mengkritik Ahmadinejad di Iran, gue kawin sama mon***.

Ahmadinejad memang tokoh kontroversial. Ia adalah salah satu pemimpin yang paling ditakuti Amerika. Konon, kepalanya dihargai jutaan dollar oleh Israel. Ada yang fanatik, ada yang membenci setengah mati. Dalam tayangan Doha Debate di BBC bahkan terlihat seorang perempuan Iran berkomentar, "I do not agree with the idea of my president, his political statement about other contries!" Well, terlepas dari segala kontroversinya, komitmen, kesederhanaan, serta kerendahan hatinya tetap perlu dijadikan contoh.

Saya malah bermimpi bila suatu saat kelak bila UUD kita memungkinkan, kita bisa merekrut orang-orang seperti Ahmadinejad sebagai CEO Republik Indonesia. Mengapa tidak? Urusan nyawa (kesehatan), kita berani meng-outsource ke dokter dan rumah sakit. Urusan keuangan, kita juga berani meng-outsource ke bankir dan penasihat keuangan kita. Mengapa urusan bernegara kita nggak berani meng-outsource presiden? Apalagi bila ada jaminan bahwa kinerjanya lebih bagus?

Saya menghitung secara kasar, bila Ahmadinejad memimpin negeri ini, setidaknya bisa menghemat anggaran Rp 120-150 triliun per tahun. Saya tidak berbicara soal nasionalisasi perusahaan asing, tapi setidaknya kontrak-kontrak karya yang merugikan negeri ini bisa di-cut. Birokrasi pemerintahan akan lebih ramping, efektif, dan efisien. Belum lagi peluang untuk melakukan KKN yang sudah pasti akan diberangusnya habis-habisan.

Gimana menurut Anda?

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...