Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Monday, February 11, 2008

Catatan untuk (calon) anakku (2)

Jumat malam kemarin, abi sama ummimu kontrol lagi ke dokter. Sehari sebelumnya nelpon dulu ke Bunda. Dapat nomor antrian 13. Dokter Siti prakteknya mulai jam 7. Jadi kira-kira jam 9-an lah dapat giliran.

Akhirnya abi bonceng ummi naik motornya mbah. Ummi ngga mau naik "mogan"nya abi. Katanya jok belakangnya terlalu nungging. Takut dedek kejepit. Memang sejak usia dedek masuk bulan ke empat, perut ummi jadi tambah maju. Tidur pun harus miring. Kalau mlumah katanya bikin tegang.

Kata mbah putri, dedek nanti cewek. Mbah yakin sekali. Abi nggak tahu dari mana yakinnya. Kalo ummi nebaknya cowok. Soalnya ummi sekarang jadi malas dandan. Kata orang kalo jarang dandan waktu hamil berarti calon anaknya cowok. Abi sih nggak terlalu masalah, cowok apa cewek yang penting sehat dan nggak rewel.

Abi kasian sama Ammu Agus. Mas Arfan nangis terus tiap malam. Sampe-sampe matanya merah-merah kalo bangun tidur. Bayangin dek, tiap dua jam bangun. Apa nggak pusing.

Pernah abi nyoba semalam. Pengen tahu gimana rasanya punya adek bayi. Abi "culik" mas Arfan dari kamarnya. Awalnya Mas Arfan nangis terus. Lalu abi sholawatin. Abi elus-elus keningnya. Abi gendong kesana kemari. Ada setengah jam lamanya, sampe bibirnya abi ndower. Tapi abi berhasil "menaklukkan" akhirnya. Abi tidurkan diantara abi dan ummi. Waktu itu ummi nggak tau kalau ada Mas Arfan di sebelahnya. Karena ummi udah bobo duluan. Baru dua jam abi bobo, tiba-tiba, "Cengeerrrr...oweee..oweeek" Mas Arfan nangis sejadi-jadinya. Usut punya usut, bukan karena Mas Arfan mau pipis. Bukan juga karena haus. Tapi karena kesenggol gulingnya ummi. Adduuuhh...

Karena abi masih terkantuk-kantuk, abi ngga mampu lagi bershalawat. Abi menyerah kalah. Akhirnya abi gunakan jurus pamungkas, Abi balikin Mas Arfan sama abi umminya.

Duh dek, berat juga ya jadi abi. Dedek jangan rewel ya nanti ? Nurut sama abi ummi ya.. kalo nangis siang aja, jangan malam-malam ya?

Belum ada setengah perjalanan menuju klinik Bunda, tiba-tiba hujan datang tanpa permisi. Memang Semarang lagi dilanda hujan terus-terusan akhir-akhir ini. Terpaksa abi keluarkan jas hujan kelelawar yang masih basah karena hujan siangnya . Angin malam menambah abi ummi tambah menggigil. Kasian ummi. Rok dan kakinya basah kuyub. Gimana ngga basah kuyub, dek, lha wong jasnya aja buat berdua.

Sampe di Klinik Bunda, sudah ada tiga pasang pasien yang antri. Ummi menggigil menahan dingin karena AC. Abi sih kuat-kuat aja. Abi kan gendhut..he..he..he. Jadi masih ada selimut alaminya.

Setelah registrasi ulang, abi ummi ngambil tempat duduk. Sengaja ambil tempat di pojok. Jauh dari AC. Untuk mengusir jenuh, abi ambil majalah di atas meja. Ummi memilih membuka mushaf di balik tas di atas pangkuannya. Hening sekali malam itu. Hanya obrolan ibu-ibu muda dan pletak-pletok suara sandal anak-anak mereka yang berlarian. Seorang Ibu yang mengenakan sari (pakaian India) nampak duduk termenung bersama suaminya.

***

Lama sekali menunggunya. Sudah hampir tiga jam. Ummi mulai gelisah. Sepertinya ummi menahan mual. Berkali-kali abi memintanya untuk bersabar. Abi besarkan hatinya. Abi kuatkan kembali komitmennya. Untuk sebuah pengorbanan besar. Sebagai seorang ibu. Sebenarnya abi setengah jengkel juga. Masak dari tadi kok nggak dipanggil-panggil. Abi semakin gregetan setelah perawat memanggil pasien yang datang belakangan.

"Nyonya Satria ..." aha..akhirnya suara itu datang juga. Abi ummi segera menyambut dengan langkah cepat. Seorang perawat berpenutup kepala yang sudah sepuh itu tersenyum ramah. Ramah sekali. Setelah memohon maaf atas lamanya antrian, beliau mengantarkan abi ummi ke Dokter Siti. Rupanya tadi Dokter minta untuk mendahulukan pasien yang sakit. Abi jadi nyesel telah suudzon tadi.

"Dok, kenapa ya kok perut saya kadang-kadang senut-senut" tanya ummi.
"Senut-senut...ya ...coba... sekarang kita cari tahu siapa penyebabnya" jawab dokter Siti sambil menggeser-geser alat mirip uleg-uleg di atas perut ummi.

"Nah, ini dia penyebabnya bu. Lihat kakinya nendang-nendang kan?Ibu merasakan ngga?" ujarnya.

"Subhanallah...tadinya nggak ada sekarang jadi ada" ibu perawat sepuh tadi menimpali. Kata-kata itu juga yang abi ummi dengar kira-kira sebulan yang lalu. Waktu pertama kali kontrol di klinik Bunda.

"Mau diprint?" tanya dokter Siti. Ummi pun mengangguk sambil senyam-senyum. Ummi keliatan seneng banget. Rona wajahnya berubah dari pucat menjadi kemerahan.

Waaa dedek difoto...senengnya bukan main abi waktu itu. Abi sekarang punya fotonya dedek. Lucu sekali...

Setelah semuanya cukup, abi ummi pun pamit. Menyelesaikan administrasi, dan pulang.
Ternyata diluar masih hujan. Tapi ummi meminta untuk segera pulang saja. Nggak apa-apa basah sebentar.

Disepanjang jalan abi ummi terdiam. Entah apa yang dipikirkan ummi waktu itu. Abi nggak bisa menangkap mimik mukanya. Yang jelas pikiran abi melayang terbang. Ingat kalo abi akan menjadi seorang abi beneran. Bukan abi bo'ongan. Kalo sekarang kan masih bo'ongan, he..he..he...

Belum lama abi berhayal, tiba tiba abi ingat sesuatu.

"Dek...dek...tadi dokternya kok ngga ngasih tahu dedek cowok atau cewek ya?" tanya abi setengah berteriak karena hujan cukup deras malam itu.

"Yaa..mungkin ada hikmahnya mas. Biarlah kita ngga tahu. Kan jadi surprise.."

Benar juga kata ummi. Jangan minta tahu apa jenis kelaminnya. Biar ikhlas. Cowok, cewek semua adalah titipan Allah yang sama derajatnya.

Malam semakin larut. Melarutkan segala harap, pinta, doa, dan kepasrahan diri. Menjadikan sari pati keikhlasan yang terpatri...

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...