Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Thursday, January 31, 2008

Susahnya Mengubah Persepsi (bagian 2)

[- Ditulis oleh Satria Sudadi, Demak, 31 Januari, 11.00 -]

Seorang pakar psikologi mengungkapakan, peta bukanlah wilayah. Peta disini mewakili pikiran dan persepsi. Dan wilayah adalah realitas dan kenyataan. Lewat ungkapan tersebut dia ingin menegaskan, bahwa antara persepsi dan realitas bisa jadi jauh berbeda.

Persepsi lah yang menjadi salah satu “dasar hukum” bagi kita untuk bersikap dan memutuskan sesuatu. Membuat kita merasa benci dan muak terhadap sesuatu. Atau pun sebaliknya.

Kita bisa mengubah rasa benci menjadi senang. Rasa muak menjadi rasa nyaman. Rasa malas menjadi gairah. Hanya dengan mengubah persepsi.

Seorang ibu pernah mengeluh bahwa dia sangat benci dan jijik dengan tikus. Sampai-sampai, kepalanya bisa langsung pusing hanya dengan melihat gambarnya. Hal itu masih dirasakannya hingga kini.

Kebenciannya berawal sejak dia dipusingkan oleh ulah tikus-tikus yang “menyerang”rumahnya beberapa tahun yang lalu. Banyak perabot rumah yang rusak. Selang elpiji terkoyak. Kabel-kabel terkelupas. Belum lagi kotoran yang berceceran dimana-mana.

Pengalaman itulah yang menghasilkan sebuah persepsi baru baginya, “bahwa tikus adalah binatang yang sangat menjijikkan”.

Seorang psikolog yang juga pakar NLP, Dr Ibrahim Elfiky bertanya padanya.

“Adakah teman atau kerabat Anda yang kalau hanya dengan mengingat wajahnya saja bisa membuat Anda tertawa terbahak-bahak?”

“Ada. Michael. Dia pria terlucu yang pernah kukenal. Teman sekantor” Jawab si ibu tadi.
“Apakah anak anda senang dengan coklat”
“Ya. Dia penggemar berat coklat. Saya selalu menyimpan untuknya di kulkas”

“Oke. Sekarang bayangkan Michel dengan telinga yang melebar dan tubuhnya berlumuran coklat berlari kesana kemari sambil mengatakan “aku Michael-Mouse. Si tikus lucu”

“Dan setiap kali Anda melihat tikus, yakinlah kalau itu si Michael yang sedang menyamar.”

Si Ibu pun tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya. Dan sepertinya kini persepsinya mulai bergeser.

Ternyata persepsi dihasilkan oleh sebuah pola. Dan kita bisa mengubah pola itu untuk menghasilkan persepsi yang berbeda. Semau kita.

Lalu bagaimana mengubah pola persepsi “ewuh pakewuh” seperti apa yang ku alami di bagian pertama tulisan ini? Anda pun pasti bisa melakukannya.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...