Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Saturday, January 26, 2008

Susahnya Mengubah Persepsi (bagian 1)

[- Ditulis oleh Satria Sudadi, Sabtu, 26 Januari 2008, 11.50 -]

Duh, penyakit lamaku kambuh lagi. Kejadiannya kemarin. Waktu makan siang di warung "pink" (warung langganan kami). Suasananya ramai siang itu. Maklumlah, jam makan siang. Hari jumat lagi. Begitu sholat jumat usai, orang-orang langsung datang berduyun-duyun.

Sambil menunggu antrian, aku ambil tempat duduk terlebih dahulu. Tak lama kemudian, muncullah rombongan teman-teman dari seksi lain. Mereka datang berlima. Meski jarang ngobrol, tapi kami sudah saling kenal wajah sebelumnya.

Setelah saling menyapa, mereka pun duduk satu meja denganku. Sesaat kemudian, suasana berubah menjadi kaku. Semua diam. Hanya celoteh komentar singkat yang terdengar. Salah satu diantara mereka berucap lirih "Wah, antri nih". Terdengar juga seorang teman yang ngobrol dengan teman lain disebelahnya. Sesekali mereka diam. Di antara mereka ikut juga kepala seksinya. Namun tak ada sepatah kata pun yang terucap setelah kata sapaan tadi. Sebagai "minoritas" sekaligus junior, aku pun tak berani berinisiatif membuka pembicaraan. Entah kenapa seolah ada sebuah jurang pemisah antara kami. Aku pun hanya menunggu umpan yang mungkin akan mereka lontarkan. Namun yang ditunggu ternyata tak kunjung tiba. Dan suasana kaku pun terus berlangsung hingga aku pamit balik ke kantor.

Lagi-lagi aku tak mampu melawan rasa itu. Rasa yang membuatku minder untuk bicara.
Meski diatas kertas, harusnya beliau sebagai senior yang membuka pembicaraan terlebih dahulu. Namun sebagai orang yang pernah mempelajari NLP, ternyata aku tak mampu mempraktikkan apa yang sudah kupelajari. Aku tak mampu membawa suasana. Aku gagal.

Kata kuncinya adalah bagaimana kita bisa merubah persepsi. Terkadang kita masih memiliki persepsi "ewuh pakewuh" (sungkan) terhadap atasan, senior, atau orang yang derajatnya di atas kita. Sehingga atas dasar itulah kita seolah tak wajib untuk bertanggungjawab dalam membawa suasana. Terkecuali kalau memang karakter dasar kita populer dan ekstrovert. Tentu hal itu bukan menjadi masalah. Namun bagi orang-orang bertipe introvert, pendiam, dan pasif, butuh sebuah terapi khusus untuk berubah. Bagaimana kita mampu mengubah persepsi tersebut, namun masih tetap dalam batasan moral yang dibenarkan.

Kita ketahui, bahwa persepsi sangat dipengaruhi oleh pengalaman kita dimasa lampau yang melibatkan seluruh indera kita. Sehingga keberadaannya tertanam kuat dalam benak kita, dan menjadi dasar dalam bertingkah laku kita. Meskipun dalam konteks yang tidak tepat.

(bersambung)

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...