Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Friday, January 25, 2008

Jalan Dakwah Sang Chaplain

Perasaan gentar seketika menyusup ke lubuk hati Muhammad Joban. Ia tak membayangkan akan bertemu dengan orang-orang berbadan tinggi-besar, tegap, dan berwajah sangar. Para 'raja tega' yang punya kepiawaian menghabisi nyawa orang lain tanpa merasa bersalah.

Mereka adalah gangster dan penjahat kelas kakap penghuni McNeil Island Correction Center (MICC). MICC adalah 'hotel prodeo' bereputasi angker di Negara Bagian Washington, AS. Seperti lembaga pemasyarakatan kelas kakap Nusa Kambangan di Indonesia, MICC berlokasi di sebuah pulau, yaitu Pulau McNeil.

Joban tidak sedang terjebak di sarang penyamun. Dia sengaja terjun ke sana untuk sebuah misi dakwah. ''Pertama bawaannya seram,'' katanya mengawali kisahnya kepada Republika, beberapa waktu lalu. Tapi, ia kemudian meluluhkan hati orang-orang bertampang keras itu. Aktivitas Joban berdakwah di penjara yang tak hanya di MICC tapi berlanjut ke penjara-penjara lain di AS bermula pada 1992 lalu. Ketika itu, Islamic Center Washington State mengumumkan pemerintah negara bagian itu membutuhkan seorang chaplain.

Chaplain adalah pegawai pemerintah yang bertugas melakukan pembinaan rohani. Pemerintah setempat tak hanya merekrut chaplain atau imam atau pembina rohani untuk narapidana Muslim, tapi juga merekrut chaplain untuk narapidana beragama lain. Pengumuman di Islamic Center itu menarik minat Joban. Kendati belum pernah berdakwah di penjara, pria kelahiran Purwakarta, Jawa Barat, Juni 1958, itu mengajukan lamaran ke Washinton State Correction Center. Dia memang telah memutuskan untuk meniti jalan dakwah.

Gayung bersambut. Pemerintah AS memanggilnya. Sejumlah fase seleksi kemudian dia lewati. Akhirnya ia pun diterima sebagai seorang chaplain dan resmi menjadi pegawai Pemerintah AS. Dakwah dari penjara ke penjara pun yang penuh tantangan pun bergulir. Joban pertama kali menjalankan tugasnya di Penjara Monroe, dua jam perjalanan dari Kota Olympia, ibu kota Negara Bagian Washington. Selanjutnya, dia berdakwah di MICC. Paling tidak, tiga jam sehari dia habiskan untuk menyampaikan cahaya Islam di sebuah penjara.

Ada bermacam cara yang dilakoni Joban untuk melakukan pembinaan rohani kepada para narapidana. Antara lain, dalam bentuk kelas, dengan jumlah narapidana hingga 30 orang per kelas. Ada pula cara personal, dengan pertemuan empat mata dengan seorang narapidana. Tak jarang, ceramahnya itu diikuti oleh narapidana non-Muslim. Bahkan, beberapa narapidana yang tersentuh oleh dakwahnya, kemudian memutuskan memeluk Islam.

Pengelola penjara, tutur Joban, umumnya gembira melihat seorang narapidana yang masuk Islam. Sebab, Islam membuat mereka berperilaku lebih baik. ''Islam telah mengubah hidup mereka,'' katanya. Salah seorang yang masuk Islam adalah Smith. Dia narapidana di Penjara Walawala, yang dihuni para pelanggar hukum kelas berat. Semula dia sangat temperamental. Perilakunya kasar. Bila tak suka pada seseorang, dia tak segan-segan memukul. Bila tak suka pada makanan yang disajikan, dia pun bisa langsung membuangnya.

''Namun, setelah dia masuk Islam, perilakunya sangat sopan. Semua orang dibuat heran,'' tutur Joban. Narapidana lainnya yang masuk Islam adalah Lukman. Menurut Joban, Lukman adalah orang yang senang dengan penjelasan mengenai fadilah-fadilah ibadah, termasuk shalat malam. Usai mendengarkan uraian mengenai fadilah shalat malam, hampir setiap malam Lukman bangun tengah malam, menunaikan shalat di selnya.

Teman satu selnya, John, yang selalu memerhatikan gerak-gerik Lukman, terdorong untuk bertanya: olahraga apa yang sering dilakukan Lukman malam-malam, di selnya. Lukman yang sering membaca Alquran di dalam sel, juga sering mendapat pertanyaan dari John: apa yang dibacanya. Lukman pun menjelaskan yang dia lakukan bukanlah olahraga, melainkan shalat --yang juga pernah dilakukan Nabi Isa. Soal yang dibacanya, Lukman mengatakan bahwa itu adalah kitab suci umat Islam. Tak lama kemudian, John pun masuk Islam, dan mengganti namanya menjadi Salman.

Alquran, tutur Joban, memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para narapidana. Narapidana non-Muslim pun tertarik membaca Alquran, kendati tetap membaca Bible. Ketertarikan para narapidana kepada Alquran, kata Joban, sering membuat stok Alquran di penjara berkurang. Setelah belasan tahun berdakwah mencairkan hati para napi di antara dinginnya sel penjara, kini Joban tak begitu intens berdakwah di penjara. Ia mengatakan banyak mantan narapidana binaannya yang telah mengambil alih perannya, sebagai seorang chaplain.

Tahun lalu, Joban meninggalkan Olympia, tempat dia tinggal sejak menjejakkan kakinya di negeri Paman Sam, tahun 1989 lalu. Dia kini menetap di Redmond, tak jauh dari Olympia. Di sana, dia menjadi imam Masjid Ar Rahmah. Tapi, jalan dakwah selalu membawa alumnus Universitas Al Azhar, Kairo, itu kembali ke penjara. ''Sesekali saya masih memberikan pelajaran kepada para narapidana,'' katanya. fer



Sumber: www.republika.co.id , 24 Januari 2008

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...