Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Friday, January 4, 2008

Banjir lagi ...

Ibarat kisah anak Nabi Nuh yang lari ke gunung untuk menghindari air bah, begitulah cara sebagian warga Jakarta menyikapi datangnya banjir. Bukan dengan lari ke gunung, tapi ke loteng. Maklum, lantai satu rumah sudah 'dikontrak' oleh air.

Cara itulah yang dilakoni Irfan (33 tahun), warga RT 16/RW 02 Kel Kampung Melayu, Jakarta Timur. Bahkan, dia punya cadangan dua loteng untuk menghindari banjir, yaitu di lantai dua dan lantai tiga. Air Sungai Ciliwung mulai meluap pada Rabu (2/1) dinihari, sekitar pukul 03.00 WIB, perlahan-lahan naik. Pada Rabu siang, ketinggian air di sekitar tempat tinggal Irfan sudah mencapai atap rumah.

Saat sebagian tetangganya sudah menuju tempat pengungsian, Irfan bersama istri dan dua anaknya mengungsi ke loteng rumahnya. Bahkan, bila air memasuki lantai dua, Irfan akan mengevakuasi diri ke lantai tiga. Kendati selamat, Irfan tetap khawatir pada fluktuasi air yang setiap saat bisa naik. ''Saya akan mencari tempat pengungsian untuk berjaga-jaga jika air bertambah tinggi,'' katanya saat ditemui di sekitar tempat domisilinya, kemarin.

Bukan hanya Irfan yang mengungsi ke loteng rumahnya. Sebagian warga Kampung Melayu yang menjadi langganan banjir, juga menerapkan cara serupa. Tapi, cara tersebut membuat khawatir Lurah Kampung Melayu, Zainal Abidin AS. ''Segera cari tempat aman,'' pintanya, kemarin. Dia mengatakan sudah ada tiga tempat pengungsian yang disediakan, yaitu RSIA Hermina, Gereja Santa Maria, dan Kantor Kel Kampung Melayu.

Banjir baru sehari terjadi. Tapi, sebagian besar kelurahan seluas 44 hektare tersebut telah ditelan air. Di sana ada tujuh rukun warga (RW), enam di antaranya terendam. Hanya satu RW yang benar-benar masih bebas dari banjir, yaitu RW 06. ''Lebih dari setengah warga Kel Kampung Melayu menjadi korban banjir,'' kata Zainal. Kendati banjir di Kampung Melayu dan sejumlah wilayah lain di Jakarta seakan tak punya solusi, sejumlah warga tetap saja betah tinggal berdekatan dengan Sungai Ciliwung. Bukan karena sungai itu adalah sungai legendaris, tapi karena memang tak ada pilihan.

Saadi (70), warga RT 12/RW 10 Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jaksel, bahkan tetap betah tinggal di pinggir kali, kendati saban tahun disinggahi banjir. Pernah rumahnya ditawar orang, tapi dia menolaknya. Sudah 25 tahun dia tinggal di sana. ''Bingung mau pindah ke mana. Dulu sih mau pindah, tapi nggak pernah kesampaian,'' kata pria berputra empat itu, sambil mengelus rambutnya yang mulai beruban.

Hal yang sama diungkapkan Helmi (44), warga Bukit Duri, yang ditemui Republika sedang mengungsi di Kantor Kel Bukit Duri, kemarin. Selama enam tahun ini, dia dan suaminya tinggal di rumah kontrakan, dan setiap tahun juga disapa banjir. Tapi, dia ogah pindah.

Tinggal di tempat kontrakan yang sering banjir dinilainya sepadan dengan 'kemewahan' lain yang bisa dia dapatkan. Antara lain, akses yang dekat ke tempat kerja, dan tempat kontrakan yang murah-meriah di tengah kota. ''Sudah enak di kontrakan. Murah, cuma Rp 350 ribu per bulan. Suami juga kerjanya dekat-dekat sini,'' kata Helmi yang saat ditemui sedang bersama empat anaknya yang masih kecil-kecil, yaitu Ferdiya (3), Devina (5), Pia (9), dan Abil yang masih digendongannya.

Tinggal di pengungsian seperti yang juga dilakoninya tahun-tahun lalu, diakui Helmi sangat menjemukan. Namun, mau apa lagi, petak kontrakan tempat berteduh dari panas dan hujan, kini telah karam. Tak ada pilihan, dia hanya bisa menanti air surut. Lurah Bukit Duri, Mohamad Soleh, mengatakan di Kel Bukit Duri, ada tiga RW yang merupakan langganan banjir. Yaitu RW 10, 11, dan 12. Meski setiap tahun kawasan itu berubah menjadi danau, Soleh mengatakan warga di sana tetap enggan pindah. ''Nekat,'' katanya.

Sudah tahu berumah di tempat banjir, warga cenderung tak terlalu waspada dan antisipatif. Saat banjir baru datang, mereka sudah diberi peringatan. Bahkan, Ketua RW 10, Abdul Karim, mengatakan sejak Selasa (1/1) malam, sekitar pukul 21.00 WIB, warga sudah diberi peringatan. Bahkan, Karim yang dibantu sejumlah sukarelawan, berkeliling door to door untuk meminta warganya segera mengungsi. ''Saya teriak-teriak pakai megaphone, warga lain juga teriak-teriak] melalui musholla dan masjid, tapi yang mematuhi hanya sedikit,'' keluhnya.

Lebih dua jam berkeliling, hanya 150 orang yang mau mengungsi. Seorang ibu bersama bayinya berusia di bawah satu tahun yang diajak Karim mengungsi, menolak ajakan itu mentah-mentah, padahal rumahnya sudah tergenang. Sebagian warga yang enggan mengungsi, kata Karim, berharap banjir itu hanya datang sebentar, kemudian surut seperti pada Ahad lalu. Nyatanya, banjir tak kunjung surut. Bahkan, kemarin, ketinggian air di sana sudah mencapai tiga meter.

Wali Kota Jaksel, Syahrul Effendi, kemarin menetapkan kawasan Bukit Duri termasuk Kelurahan Bukit Duri yang didiami 42 ribu jiwa berstatus Siaga I. Sampai kapan mereka bertahan hidup menjadi pelanggan banjir? Haruskah setiap tahun mereka lari ke loteng dan menjadi pengungsi?

Sumber: www.republika.co.id , 4 Januari 2008

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...