Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Wednesday, December 31, 2008

Arti Sebuah Nyawa Sang Buah Hati


Andai foto di atas adalah foto putra terkasih anda ...
Bagaimana reaksi anda ???
Marah? Frustasi? shock? ....
Dia adalah satu dari ratusan bahkan ribuan bayi tak berdosa yang menjadi korban kebiadaban Israel
Para orang tua di sana sudah terbiasa kehilangan anak-anak terkasih mereka
Bahkan banyak para ibu yang bangga putranya menjemput kesyahidan
Berdasarkan data, tingkat kelahiran bayi di sana justru meningkat di tengah
hingar-bingar perang
Alasannya satu,
Agar lahir para mujahid/mujahidah yang akan menegakkan kehormatan tanah kelahiran, agama, dan bangsanya
Lalu bagaimana dengan Anda ?

TOP 9 (Nine) Karunia Allah di tahun 2008

Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallahu wallahu akbar. Berikut ini 9 karunia Allah yang telah kami terima sepanjang tahun 2008. Semoga Allah SWT memelihara dari sifat riya dan ujub. Hanya sekedar berbagi syukur, betapa besar nikmat Allah atas hambanya yang hina ini.

#1. Pertengahan April, sebuah rumah berukuran mungil (LT:120M2, LB:45M2) telah diserahkan secara resmi dari pihak pengembang kepada kami. Kami sangat bersyukur bisa hidup lebih mandiri. Meski kami tak bisa membelinya secara tunai. (http://ksatriapembelajar.blogspot.com/2008/01/legenda-rumah-mungil.html)

#2. Pertengahan Juni, istri secara resmi mengambil cuti hamil. Inilah pertama kalinya saya ditemani istri di rumah baru. Tak lagi sendirian.

#3. Tanggal 10 Juli 2008, "malaikat kecil" kami telah lahir dengan persalinan normal. Sehat dan cantik. (http://ksatriapembelajar.blogspot.com/2008/07/detik-detik-menjelang-kelahiran-anak_62.html)

#4. Tanggal 18 Juli 2008, Allah memampukan kami untuk menunaikan amanah-Nya, mengaqiqahkan putri kami, sekaligus memberinya nama "Farihana Aisya Putri"
(http://ksatriapembelajar.blogspot.com/2008/07/farihana-aisya-putri.html)

#5. Tanggal 3 Oktober 2008, Allah memberi kesempatan kami untuk bersilaturahmi dengan orang tua dan keluarga di Madiun. Sekaligus memperkenalkan putri pertama kami kepada mereka. Betapa bahagianya saya waku itu.

#6. Pertengahan Nopember 2008, Allah mengijinkan kami untuk membeli sebuah mobil bekas. Isuzu Panther hisporty 1996. Sesuai dengan kemampuan kami tentunya. Di kemudian hari, kendaraan inilah yang menjadi andalan perjalanan rutin kami antara Tembalang-Pedurungan. (http://ksatriapembelajar.blogspot.com/2008/11/my-driving-partner_17.html )

#7. Akhir Nopember 2008, Allah memberi kesempatan kami untuk membantu meringankan beban saudara kami. (http://ksatriapembelajar.blogspot.com/2008/11/bahagia-yang-seperti-apa.html)

#8. Akhir Nopember 2008, setelah sekian lama menunggu, permohonan pindah kantor istri dariGresik ke Semarang dikabulkan. Sejak itulah, (entah sampai kapan), kami tak lagi berjauhan. (http://ksatriapembelajar.blogspot.com/2008/11/syukurku-pada-mu-ya-allah-terima-kasih.html)

#9. Tanggal 8 Desember 2008, sebagai ungkapan syukur atas segala limpahan nikmat yang Allah berikan kepada keluarga kami, untuk kali pertamanya kami bisa berqurban dengan seekor kambing.

Kesembilan nikmat Allah di atas belum termasuk nikmat-nikmat yang lain yang tak bisa saya tuliskan satu per satu.

Sahabat, mari menghitung nikmat Allah selama ini. Meskipun akhirnya kita tak mampu menghitungnya.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?



Tuesday, December 30, 2008

Surat Terbuka bagi Petinggi Israel dan Amerika









HARI INI PALESTINAKU TERBAKAR ...

DETIK INI SATU PER SATU SAUDARAKU TERKAPAR ...



SAKIT HATI INI ...


HARI INI, KALIAN BOLEH TERTAWA, WAHAI (:maaf) SERIGALA ISRAEL ...

DETIK INI KALIAN BOLEH TERSENYUM, WAHAI (:maaf) ANJING AMERIKA ...


TAPI DUNIA AKAN MENYAKSIKAN ...

PEMILIK DUNIA INI PUN AKAN MENYAKSIKAN ...


JIWA-JIWA YANG TAK TAKUT MATI ...

JIWA-JIWA YANG JUSTRU MENJEMPUT MATI ...


MEREKALAH YANG AKAN MEMBUNGKAM KEPONGAHAN KALIAN

MEREKA PULA YANG AKAN MENENGGELAMKAN KECONGKAKAN KALIAN



ATAS IJIN ALLAH SWT




































Wahai .. Para Raja, Presiden, dan Pemimpin Arab!

Di mana hati nuramimu?
Ketika engkau melihat umat Islam di Gaza sudah sekarat, bertahun-tahun menderita, akibat embargo Israel. Engkau tetap menutup pintu perbatasanmu. Tak mau berbelas kasihan terhadap saudaramu. Meskipun, sudah banyak diantara mereka yang mati, akibat sakit dan kelaparan. Bahkan, ketika mereka kelaparan dan mencoba masuk ke wilayah perbatasanmu, engkau usir. Engka menjadi seakan orang-orang yang sudah kehilangan hati nurani dan kecintaan terhadap saudaramu, yang malang muslim Palestina. Engkau lebih mementingkan memelihara hubungan dengan Israel, Amerika, dan Uni Eropa, dibandingkan dengan menyelamatkan saudaramu sesama muslim.
Engkau menyaksikan dengan mata telanjang, ketika pesawat F.16 dan Apache, Israel, menyerang kota-kota Gaza. Engkau melihat bangunan-bangunan luluh-lantak, mayat-mayat berserayakan, bagaikan sampah, dan ada di mana-mana, dan darah mengalir dari setiap tubuh mayat, serta menjadi pemandangan di sudut-sudut kota Gaza, masihkah hati nuranimu tak juga tersentuh? Engkau melihat ratusan muslim Palestina, yang mengerang kesakitan dengan luka-luka di tubuh mereka, dan masihkah engkau berdiam diri? Mengapa wahai Presiden Hosni Mubarak, engkau bertemu dan berjabat tangan Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni, sehari sebelum rejim Zionis-Israel melumatkan kota Gaza?
Engkau menyaksikan setiap hari peristiwa kematian yang dialami muslim Palestina. Engkau setiap hari melihat muslim Palestina yang tak berdaya, dan dihancurkan kehidupan mereka oleh rejim Zionis-Israel. Tapi, engkau malah berkomplot dengan kaum laknat itu, ikut menghancurkan muslim Palestina. Engkau melihat bangunan-bangunan, rumah-rumah, sarana-sarana hidup, dan tanah ladang, kebun, ikut dihancurkan para penjajah, yang biadab, tapi engakau malah tertawa-tawa, sambil menerima utusan pemerintahan rejim Zionis-israel, dan berunding. Engkau melihat kekejaman-kekejaman yang diluar batas perikemanusiaan, dan yang tak pernah dapat tertanggungkan oleh manusia, dan dialami oleh muslim Palestina, yang dilakukan rejim Zionis-Israel, tapi engkau malah membuat perjanjian rahasia dengan musuh kemanusia itu? Di mana hati nuranimu?
Wahai Para Raja , Presiden, Pemimpin Arab!
Kematian akan datang. Kematian akan dialami oleh muslim Palestina, di Gaza. Mereka semuanya akan menyongsong kematian,yang paling terhormat. Mereka akan menghadapi mesin perang rejim Zionis-Israel dengan gagah. Mereka tak akan mundur. Mereka akan menghadapi dengan teguh. Mesin prang yang sudah meluluh-lantakkan kota Gaza itu, pasti akan mereka hadapi. Apa artinya kehidupan dan kemuliaan, bila harus dibawah kekuasaan dan penjajahan Israel? Mereka lebih mencintai kematian, dan tak akan berdamai dengan para musuh Allah Azza Wa Jalla, yaitu Zionis-Israel.
Apa artinya kekuasaan dan kekuatan yang engkau miliki? Bila kekuasaan dan kekuatan itu tak dapat menghapus kemungkaran dan kedzaliman? Apa artinya kekuasaan dan kekuatan yang engkau miliki bila tak mampu menghapus kejahatan yang dilakukan oleh rejim Zionis-Israel. Lebih mulia, mereka yang sudah mati – mati syahid melawan penjajah, dibandingkan dengan kekuasaan dan kekuatan yang engkau miliki, tapi tak mampu membebaskan saudaramu muslim di Gaza.
Selamat berjuang saudaraku muslim di Gaza, jangan mengharapkan pertolongan dari manapun, kecuali dari Allah Rabul Aziz. Semoga engkau mendapatkan kemuliaan dari Allah Azza Wa Jalla. (Mi)/www.eramuslim.com

Hiks...hiks...hiks...

Ikal mayang rambut penari
Jatuh ke pipi terlihat indah
Sungguh malang hatiku ini
Dilanda sepi diterpa gundah

Duduk termenung seorang diri
Di dalam gua untuk bertapa
Aduh bingung diriku ini
Sang mawar diam enggan menyapa

Perahu cadik membawa peti
Si gembala pergi ke tanah lapang
Kalaulah adik relakan hati
Maafkanlah kesalahan abang

Bulu bergidik mikirin hutang
Selepas isya mencari uban
Kalaulah adik menghukum abang
Jangan aisya yang jadi korban

Pergi mudik ke kampung Maling
Pagi-pagi terbang ke Bandar
Kalau lah adik kini berpaling
Kemana lagi abang bersandar




Pagi Yang Cerah








Pagi Yang Cerah
Album : Dari Jakarta Ke Kuala LumpurMunsyid : Snadahttp://liriknasyid.com
[00:16.45]Dengarlah
[00:19.09]kicau burung - burung bernyanyi
[00:22.26]Menyambut mentari pagi
[00:25.60]indah dan berseri
[00:31.66]Sebagai tanda
[00:34.13]puji pada yang kuasa
[00:38.26]Atas nikmat alam raya
[00:41.36]Untuk kita semua
[00:47.37]Syukurku
[00:49.78]Penuh pasrah kupanjatkan
[00:53.85]doa penuh kuhaturkan
[00:57.42]Hanya kepadaMu Tuhan
[01:01.50]Ya Illahi Rabbi
[01:05.22]Tuntun dan bimbinglah kami
[01:09.29]Agar dapat menikmati indah Alam ini


Pengen Maem




[- Demak, 30 Desember 2008, 09.00 -]
Tak terasa usianya kini sudah lima bulan lebih. Tepatnya dua belas hari menuju enam bulan. Ini adalah saat-saat injury time ASI Eksklusif. Alhamdulillah hingga saat ini komitmen kami untuk (hanya) memberikan ASI selama enam bulan penuh tetap terjaga. Meski ujian datang bertubi-tubi. Mulai dari saran dan rayuan teman-teman sekantor istri (agar bayi diberi susu formula saja), bahkan dari orang tua dan mertua. Sampai ribetnya menerapkan managemen ASI bagi ibu kantoran. Mulai memerah, mengemas, menyimpan, sampai menyuapin ASI melalui sendok. Alhamdulillah Allah memudahkan semuanya.
Kini mendekati bulan ke enam, dia mulai tertarik untuk memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Bahkan kalau melihat orang lain makan atau minum, tangannya langsung menjulur seperti mau meminta apa yang dimakan/minum. Semua mainan kini tak laku. Hanya satu yang jadi primadonanya sekarang. Sendok. Mengemut sendok kini menjadi hobi barunya. Igauannya(nggremeng) saat kepala sendok berada di mulutnya, terdengar seperti mbah dukun yang sedang mengucapkan mantra. "Aoooah eoooaoo...pfft...pfftt "


Sunday, December 14, 2008

Allahu Akbar ....!!! Merdeka...!!!


Ayo Abi ...tetap cemangat yaaa...!!!!

Wednesday, December 10, 2008

Jalan terjal menuju Kampung Pidodo



Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan mengunjungi desa Pidodo, Karangtengah, Demak. Cukup terpencil. Jalan yang menghubungkan desa itu pun belum teraspal dan terlihat sudah banyak yang berlubang. Padahal jarak tempuhnya lumayan panjang. Kurang lebih tiga sampai lima kiloan. Di sepanjang perjalanan, tak banyak kendaraan lain yang lewat. Hanya beberapa gerobak kayu yang ditarik kuda. Sisanya sepi. Hanya hamparan sawah luas dan beberapa kelompok petani yang sedang menyiapkan pupuk.


Namun begitu memasuki jalan desa, sebuah jalan beton dengan lebar tak lebih dari 3 meter sedikit melegakan kami. Minimal tak lagi ajrut-ajrutan. Meskipun panther kami hanya menyisakan celah setengah meter untuk sepeda motor yang berpapasan atau menyalip. Untunglah tak ada mobil lain dari depan.



Aisya Usia 4 bulan




"Zxzccvxc xvzxfsgs cxvsg...xzszsssdsf..sasa..xsdga....????"
Om..Tante..udah baca buku lom hali ini? Kalo belum, Ayo..baca ... baca...
Aicah udah lhooo...

Wednesday, December 3, 2008

Folosofi Hidup


Hidup tak boleh sendirian. Harus berjamaah. Karena serigala akan memakan domba yang sendirian .


Beramal tak cukup hanya dengan tangan kosong. Butuh sarana. Kita harus jeli dalam memilih sarana yang tepat dan efektif dalam beramal.


Allah sendiri telah menyediakan banyak sekali sarana beramal di dunia ini. Tinggal sejauh mana kita mau menggalinya.




Berhati-hatilah dalam setiap amalan. Agar tak sia-sia




Jangan pernah bosan dalam beramal. Jangan pernah jenuh dan bersabarlah. Karena Allah akan melihat kesungguhan dan kontinyuitas amal kita.







Sebuah kebahagiaan tersendiri saat kita mampu menghasilkan sebuah amal kebaikan. Meski kita tak pernah tahu apakah Allah berkenan menerimanya.





Terkadang kita mendapatkan sesuatu dari hasil amal kebaikan yang telah kita lakukan. Terimalah ia sebagai anugerah yang harus disyukuri



Jangan lupa, berbagilah dengan yang lain.

Berikan sisanya untuk si kucing.








(Kenangan saat berkunjung ke pemancingan Brubus, Demak.

Meski terakhir kali mancing dulu saat saya masih SD, tapi saya dapat dua. Gurami dan nila.)

Tuesday, December 2, 2008

Bekal (hari esok)


Alhamdulillaahi ath'aamana wa saqaana wa ja'alanaa minal muslimiin
Menu bekal hari ini :
Nasi pecel, bakwan jagung, plus rempeyek teri.
Uenak tenaaaaan ...


Ayo berdoa

[- Demak, 2 Desember 2008, 07.45 -]

Sudah sering kita mendengar nasihat, ceramah atau kajian-kajian yang membahas masalah doa. Bisa jadi sesering kemalasan kita untuk mengamalkannya. Atau minimal kita tidak bisa istiqomah dalam berdoa. Berdoa hanya saat dirundung malang. Begitu malang berganti senang, doa pun lewat. Seolah habis manis sepah dibuang. Kita saja kecewa atau mungkin marah kalau diperlakukan demikian. Apalagi Yang telah menghidupi kita, Yang telah memberi kita rizki, nikmat, kebahagiaan, kedamaian.

Tapi Allah lain dengan kita. Sangat lain. Sayang Allah pada kita, jauh melebihi rasa penghargaan kita kepada orang lain. Bahkan kepada orang yang paling kita cintai sekalipun. Allah malah senang jika kita meminta kepada-Nya. Bahkan Allah lah yang meminta kita untuk hanya meminta kepada-Nya. Dan Dia pun akan menjamin akan memenuhinya. Kurang apa lagi coba ?

Saudaraku, mari kita jadikan doa sebagai kebiasaan baru kita. Saat susah, kita minta kepada Allah untuk menghilangkan kesusahan kita. Saat kita senang, kita minta agar kesenangan itu tak melupakan kita pada yang memberi kesenangan. Mari rubah setiap kata-kata umpatan, keluhan, dan bahkan igauan dengan kata-kata doa yang secara reflek keluar dari mulut kita.


Friday, November 28, 2008

Di rumah ini ...


Di sini
Di rumah ini
Jatuh bangun kami membangun mimpi
Mimpi tentang sebuah pohon Cinta
Yang berbuah Surga
Karena kami sadar
Bila kini kami masih bisa saling berbagi
Bila kini kami masih bisa saling menolong
Bila kini kami masih bisa saling melindungi
Esok pasti kita kan sendiri
Tak ada lagi penolong
Tak ada lagi pelindung
Tak ada lagi tempat bergantung
Tinggallah pohon cinta yang berbuah surga
Yang kan abadi menemani

Aisya in the car




Thursday, November 27, 2008

Pertolongan-Nya adalah teguran-Nya


[- Demak, 27 Nopember 2008, 16.00 -]

Matahari mulai turun saat mobil kami memasuki kota Demak. Deretan mobil yang merayap terlihat melambat dari arah berlawanan. Raut wajah penumpang yang duduk di jok depan kebanyakan terlihat cemberut. Menyiratkan satu isi hati. Bosan.

Kemacetan seperti ini sudah menjadi santapan saya sehari-hari. Seolah menjadi bumbu penyemangat dalam upaya mencari nafkah di kota wali ini. Beruntung hingga kini saya masih istiqomah bersepeda motor dari Semarang. Disamping karena praktis dan anti macet, motor sangat murah meriah, meski cukup beresiko.

Bapak dan ibu mertua yang sudah lama tak berkunjung ke Demak berkali-kali berkomentar tentang perubahan pesat yang mereka lihat di sepanjang jalan Semarang-Demak yang baru saja kami lewati. Sudah lama mereka tak keluar kota. Di samping mungkin karena sudah merasa tak muda lagi, aktivitasnya berjualan di pasar Mranggen yang cukup padat bisa jadi membuat mereka tak sempat kemana-mana.

Memasuki kota Demak, sebuah plang penunjuk arah warna hijau membuat saya harus memilih salah satu di antaranya. Lurus, jika ingin melewati kota Demak. Dan ke kanan, jika ingin langsung melewati ring road. Sekejap saya berpikir, hari sudah mau maghrib, jangan sampai saya kemalaman di jalan. Kalau menjelang maghrib baru sampai Demak, bisa-bisa sampai Gresik tengah malam. Saya paling nggak kuat kalau nyetir malam-malam. Lebih baik ke kanan lewat ring road. Biar bisa tancap gas.

Tapi entah mengapa lintasan pikiran saya yang lain menyerobot. Kalau lewat kota kan bisa lewat Masjid Demak. Bapak pasti juga sudah lama tak kesana, pikirku. Sekalian nunjukin kantor saya dan kantor Om To, famili dari ibu mertua yang kerja di BPN Demak. Saya bingung sesaat. Sejurus kemudian ternyata hati ini memenangkan lintasan pikiran saya yang kedua. Saya memilih lurus. Lewat kota.

"Niki lho, Bu kantore kulo. Yen belok kiri, terus kiri jalan nika kantore Om To."
"Oooo..." jawab ibu sambil mengangguk-angguk. Sedangkan bapak hanya diam.

Memasuki putaran alun-alun, kami melewati masjid Demak di kiri jalan.

"Kok ora ana perubahan yo.." suara bapak memecah keheningan.

Entah apa yang ada di benak Bapak dan Ibu saat ini. Mungkin bayangan-bayangan masa lampau saat mereka berkunjung ke Demak. Ya, kenangan masa lalu yang hanya mereka saja yang tahu.

Laju mobil saya bawa pelan saja. Cukup gigi dua. Itulah keunggulan Panther. Kita bisa membawa mobil sepelan mungkin tanpa menginjak kopling. Cocok kalau kondisi macet seperti ini.

Memasuki pasar Bintoro, saya merasa agak aneh dengan pijakan rem. Kok tambah dalam ya pijakannya. Beberapa detik kemudian makin dalam, sampai mentok. Astaghfirullah. Rem saya blong. Saya panik luar biasa. Untung saja mobil berjalan pelan. Dan tak ada pengguna jalan lain yang berdekatan di depan dan di belakang mobil saya. Syukurlah. Langsung saya tekan lampu hazard, saya tarik hand rem pelan-pelan, sampai mobil berhenti di kiri jalan. Fiuhh…

Saya diam sejenak. Mengatur nafas agar lebih tenang...

*******************************

Singkat cerita, saya ditolong oleh seseorang yang punya kenalan montir yang juga karyawan toko onderdil mobil di daerah Tanubayan. Selang minyak rem saya bocor. Dan perjalanan menuju Gresik pun akhirnya tertunda hampir lima jam.

Setelah kejadian itu saya berpikir. Apa jadinya kalau saya waktu itu memutuskan untuk lewat ring road yang lebar dan bebas hambatan. Mungkin saya langsung ambil kecepatan tinggi. Dan mungkin ... mungkin saya tak bisa menulis kisah ini untuk anda.

Yaa Rabbi... sudah sering Engkau menolongku. Entah ini yang keberapa kalinya.
Namun hingga kini, aku masih tak pandai mensyukurinya.

NB:
Buat Mas Yuli, (karyawan PDAM Bonang) sekeluarga makasih atas bantuannya.
Mas Umat dan Mas (saya lupa namanya) makasih sudah bantuin betulin remnya.
Mas Supardi Isuzu Astra, makasih tawaran astraworld emergency nya.
Mas Budi Wanamukti, makasih atas doanya.







Syukurku pada-Mu ya Allah. Terima kasih semuanya ...

[- Demak, 27 Nopember 2008, 09.00 -]

Puji syukur atas segala nikmat Allah yang melimpah. Setelah tiga hari saya mengambil cuti, hari ini saya merasakan aura kesegaran. Fresh.

Bukan hanya semata-mata karena saya bisa istirahat sejenak di rumah. Namun lebih karena kemurahan Allah yang telah hadir bertubi-tubi. Dia telah memberi kesempatan kepada kami untuk berkumpul dan berbagi kasih sayang (kembali). Dia telah mencukupi semua kebutuhan. Dia pula yang memampukan kami memberi kebahagiaan kepada orang-orang yang kami cintai. Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah.

Jumat kemarin saya mengajak ibu dan bapak mertua serta adik ipar berkunjung ke Gresik. Menjemput anak kedua serta cucu mereka yang juga istri dan anak saya, kembali ke Semarang. Ya, setelah sekian lama kami menanti, akhirnya datang juga. Pengajuan pindah istri ke Semarang telah dikabulkan.

Rasanya seperti tak percaya. Padahal baru tiga bulan surat permohonan itu diajukan. Allahu Akbar.

Buat semua sahabat lamaku di Gresik, khususnya akh Faris, syukron atas bantuan antum selama saya di Gresik. Makasih atas pinjaman mobilnya waktu memeriksakan kandungan istri ke Surabaya. Makasih atas segala saran-saran dan masukan antum. Afwan belum sempat berkunjung.

Buat Pak Kacab, Bu Emy, Pak Budi Satrio, saya tak tahu dengan apa saya harus berterima kasih.

Bu Anis, Bu Anik, Pak Bekti, Pak Yanto, Mbak Dyah Manis dan semua teman-teman di Pelindo Gresik, makasih atas semua bimbingan yang diberikan pada istri saya.

Sahabatku Heny dan Bagus, berkat kalian berdua lah kami bisa "bersama"(kembali).

Dan semua yang tak bisa saya sebutkan satu per satu. Melalui ketulusan dan kepedulian kalianlah, Allah menghadirkan kebahagiaan itu untuk kami.




Thursday, November 20, 2008

Perut muless...

[- Demak, 20 Nopember 2008, 14.00 -]

Hari ini saya merasa tidak fit. Perut rasanya tak nyaman. Bawaannya lemas dan kurang bertenaga. Sebenarnya ini sudah saya rasakan sejak semalam. Saat tengah malam saya terbangun karena perut bergejolak. Tapi saya pikir entar juga sembuh. Makanya saya putuskan untuk tetap berangkat ngantor.

Apa karena durian ya? atau karena seripingnya (sejenis kerang laut yang juga saya makan) ? Atau karena kecapekan trus masuk angin. Maklum Semarang-Demak sering kehujanan. Biasanya saya kalau masuk angin yang diserang perut. Mules-mules disertai mencret.

Tak tahulah. Semoga saja segera normal kembali. Memang benar juga kata nabi. Kita tak boleh berlebih-lebihan dalam makan. Makanlah setelah lapar, dan berhentilah sebelum kenyang. Kalau melanggar akibatnya ya seperti saya ini...



Wednesday, November 19, 2008

Durian Party


[- Demak, 19 Nopember 2008 -]

Untuk kali kedua, saya dan teman-teman satu ruangan berkunjung ke Jepara. Tepatnya di kelurahan Jambu, Kecamatan Mlonggo. Kebetulan sekarang lagi awal-awal musim durian. Jujur saja, saya jarang sekali makan durian. Hanya terkadang mendengarkan perbincangan seru teman-teman sekantor tentang durian.





































Monday, November 17, 2008

Rahasia Do’a Mengatasi Hutang

oleh : Ihsan Tandjung
Abu Said Al-Khudhri radhiyallahu ’anhu bertutur: “Pada suatu hari Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam masuk masjid. Tiba-tiba ada seorang sahabat bernama Abu Umamah radhiyallahu ’anhu sedang duduk di sana. Beliau bertanya: ”Wahai Abu Umamah, kenapa aku melihat kau sedang duduk di luar waktu sholat?” Ia menjawab: ”Aku bingung memikirkan hutangku, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya: ”Maukah aku ajarkan kepadamu sebuah do’a yang apabila kau baca maka Allah ta’aala akan menghilangkan kebingunganmu dan melunasi hutangmu?” Ia menjawab: ”Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda,”Jika kau berada di waktu pagi maupun sore hari, bacalah do’a:


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.” Kata Abu Umamah radhiyallahu ’anhu: ”Setelah membaca do’a tersebut, Allah berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayarkan lunas hutangku.” (HR Abu Dawud 4/353)

Doa ampuh yang diajarkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kepada Abu Umamah radhiyallahu ’anhu merupakan doa untuk mengatasi problem hutang berkepanjangan. Di dalam doa tersebut terdapat beberapa permohonan agar Allah ta’aala lindungi seseorang dari beberapa masalah dalam hidupnya. Dan segenap masalah tersebut ternyata sangat berkorelasi dengan keadaan seseorang yang sedang dililit hutang.

Pertama, ”Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih.” Orang yang sedang berhutang biasanya mudah menjadi bingung dan tenggelam dalam kesedihan. Sebab keadaan dirinya yang berhutang itu sangat potensial menjadikannya hidup dalam ketidakpastian alias bingung dan menjadikannya tidak gembira alias berseduih hati.

Kedua, ”Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas.” Biasanya orang yang berhutang akan cenderung menjadi lemah. Dan biasanya orang yang malas dan tidak kreatif dalam menjalani perjuangan hidup cenderung mudah berfikir untuk menacari pinjaman alias berutangketika sedikit saja menghadapi rintangan dalam hidup. Sedangkan orang yang rajin cenderung tidak berfikir untuk berhutang selagi ia masih punya ide solusi selain berhutang dalam hidupnya. Orang rajin bahkan akan menolak bilamana memperoleh tawaran pinjaman uang karena ia anggap itu sebagai suatu beban yang merepotkan.

Ketiga, ”Aku berlindung kepada Engkau dari sifat pengecut dan kikir.” Biasanya orang yang terlilit hutang menjadi orang yang diliputi rasa takut. Ia cenderung menjadi pengecut. Jauh dari sifat pemberani. Mentalnya jatuh dan tidak mudah memiliki kemantapan batin. Dan orang yang berhutang mudah menjadi kikir jauh dari sifat demawan. Bila kotak amal atau sedekah melintas di depannya ia akan membiarkannya berlalu Hal ini karena ia menggunakan logika ”Bagaimana aku bisa bersedekah, sedangkan hutangku saja belum lunas.”

Keempat, ”Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.” Doa bagian akhir mengandung inti permohonan seorang yang terlilit hutang. Ia serahkan harapannya sepenuhnya kepada Allah ta’aala Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji agar menuntaskan problem hutang yang berkepanjangan membebani hidupnya. Di samping itu ia memohon agar dirinya dilindungi Allah ta’aala dari kesewenang-wenangan manusia.

Kesewenangan dimaksud terutama yang bersumber dari fihak yang berpiutang. Sebab tidak jarang ditemukan bahwa fihak yang berpiutang lantas bertindak zalim kepada yang berhutang. Ia merasa telah menanam jasa dengan meminjamkan uang kepada yang berhutang. Lalu ia merasa berhak untuk berbuat sekehendaknya kepada yang berhutang apalagi jika yang berhutang menunjukkan gejala tidak sanggup melunasi hutangnya dengan segera.

Itulah sebabnya dunia modern dewasa ini banyak diwarnai oleh berbagai tindak kezaliman. Sebab dalam era dunia modern manusia sangat mudah berhutang. Dalam kebanyakan transaksi manusia dianjurkan untuk terlibat dalam hutang alias transaksi yang tidak tunai. Sedikit sedikit kredit. Apalagi skema pelunasan hutangnya melibatkan praktek riba yang termasuk dosa besar. Islam adalah ajaran yang menganjurkan manusia untuk membiasakan diri bertransaksi secara tunai. Ini bukan berarti Islam mengharamkan berhutang. Hanya saja Islam memandang bahwa berhutang merupakan suatu pilihan yang bukan ideal dan utama. Itulah sebabnya ayat terpanjang di dalam Al-Qur’an ialah ayat mengenai berhutang, yaitu surah Al-Baqarah ayat 282.
Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu didatangi anaknya yang hendak meminjam uang. Lalu ia berkata kepadanya ”Nak, aku tidak punya uang.” Lantas anaknya mengusulkan agar ayahnya pinjamkan dari Baitul Maal (Simpanan Kekayaan Negara). Maka Umar-pun menulis memo kepada pemegang kunci Biatul Maal yang isinya: ”Wahai bendahara, tolong keluarkan sekian dinar dari Baitul Maal untuk aku pinjamkan ke anakku. Nanti biar aku cicil dengan potong gajiku tiga bulan ke depan.”

Maka memo tersebut dibawa oleh anaknya dan diserahkan kepada bendahara. Tidak berapa lama iapun kembali menemui ayahnya dengan wajah murung. ”Ayah, aku tidak menerima apa-apa dari bendahara kecuali secarik kertas ini untuk disampaikan kepadamu.” Maka Umar menyuruh anaknya membacakan isi memo balasan itu. Isinya ”Wahai Amirul Mu’minin Umar bin Khattab, bagiku sangatlah mudah untuk mengeluarkan sekian dinar dari Baitul Maal untuk engkau pinjam. Namun aku minta syarat terlebih dahulu darimu. Aku minta agar engkau memberi jaminan kepadaku bahwa tiga bulan ke depan Amirul Mu’minin Umar bin Khattab masih hidup di dunia untuk melunasi hutang tersebut.” Maka Umar langsung beristighfar dan menyuruh anaknya pulang...!
Sumber : www. eramuslim.com


My Driving Partner

Panther varian lama, Hi sporty, Direct Injection 2500 cc. Keluaran pabrik akhir 1996. Meski cukup berumur, namun mesinnya masih tangguh. Konsumsi solarnya pun irit. Rata-rata 1:13 (satu liter solar bisa untuk 13 km). Bahkan untuk perjalanan luar kota bisa sampai 1:15. Ini saya hitung saat perjalanan Semarang- Gresik minggu yang lalu.
........................(bersambung)

Friday, November 14, 2008

Thursday, November 13, 2008

Bersitan hati

[- Semarang, 13 Nopember 2008, 22.00 -]

Bukanlah pengecut, orang yang lari dari kenyataan. Jika sadar, kenyataan yang ada kelak akan membinasakannya selamanya.




Monday, November 10, 2008

Menjadi Pahlawan

[- Demak, 10 Nopember, 14.40 -]

Hari ini tanggal 10 Nopember 2008. Tepat saat republik ini merayakan hari pahlawan. Sebagaimana tahun-tahun kemarin, tahun ini pun diselenggarakan acara penganugerahan gelar pahlawan kepada orang-orang yang dinilai berjasa pada bangsa ini.
Namun sayang, gaungnya tak sedahsyat pemberitaan prosesi pemakaman jenazah trio bom Bali. Kalau kita mau menengok head line koran hari ini, hampir semuanya memasang kisah tamatnya riwayat orang-orang yang oleh sebagian kalangan diberi gelar "pahlawan syuhada" itu. Seolah menjadi gong pamungkas atas rentetan pemberitaan mengenai mereka sebelumnya.
Fenomena ini pun seolah mengabarkan kepada kita bahwa mereka juga layak diberi gelar pahlawan, minimal oleh orang-orang yang sejalan dengan pemahaman mereka. Pahlawan, atas keteguhan mereka menegakkan apa yang diyakininya benar. Pahlawan, atas keberanian mereka menanggung risiko atas apa yang diyakininya benar. Dan pahlawan, atas pengorbanan mereka di depan regu tembak di atas padang nirbaya.

Para pejuang negeri ini, yang dengan taruhan nyawanya mereka bertempur, kisahnya mengisyaratkan kepada kita bahwa mereka memiliki komitmen yang harus diperjuangkan. Tak cukup hanya itu. Mareka juga memiliki keberanian dan juga pengorbanan.
Simak kisahnya. Tanpa komitmen yang kuat, mustahil Jenderal Besar Sudirman mau memimpin pasukannya bergerilya menyusuri hutan dalam keadaan sakit. Tanpa keberanian, tidak mungkin arek-arek Suroboyo yang hanya bersenjatakan bambu berlari menyongsong desingan peluru dan mortir tentara sekutu. Tanpa pengorbanan, mustahil kisah heroik pejuang yang meledakkan dirinya di gudang amunisi Belanda hadir di telinga kita.

Komitmen, keberanian, dan pengorbanan. Menurut saya, itulah sarat minimal yang harus ada dalam diri seorang pahlawan. Nilai-nilai itulah yang membuat nama mereka terus hidup meski jasad mereka telah mati.

Saudaraku, kita bisa menjadi pahlawan. Kita juga tak harus menunggu mati untuk itu. Tinggal kita memilih, pahlawan atas apa? atau bagi siapa ? Inilah pertanyaan yang terlebih dahulu harus kita jawab. Sebelum mengerahkan semua potensi untuk mengejarnya. Seperti mengarahkan anak panah yang siap melesat ke papan sasaran. Sedikit saja kita salah menentukan arah, larinya anak panah akan semakin melenceng jauh dari sasaran. Wallahu a'lam.








Hikmah dibalik Eksekusi Amrozi Cs

[- Demak, 10 Nopember 2008, 12.05 -]

Santernya pemberitaan eksekusi Amrozi, Muklas, dan Imam Samudera di berbagai media membuat kita seolah terlibat di dalamnya. Menghadirkan respon emosi yang beragam. Ada yang tersenyum puas. Ada yang berteriak menghujat. Tak sedikit yang menangis sedih.
Namun tampaknya kemisteriusan masih membalut ragam respon emosi di atas. Ada yang masih ragu apakah pelaksanaan eksekuasi sebagai penerapan UU pemberantasan terorisme sudah benar-benar bebas dari intervensi asing. Ada yang masih bertanya apakah benar bom sedahsyat dan semahal itu adalah hasil "kreasi" mereka (Azahari dkk) semata. Tanpa ada kekuatan lain yang mendompleng aksi mereka? Ada yang masih bimbang apakah mereka bertiga benar-benar syahid di hadapan Allah SWT. Wallahu a'lam. Sebagai seorang muslim yang tidak sepenuhnya sependapat dengan pandangan mereka tentang konsep jihad, saya turut menaruh hormat atas kepergian mereka. Karena bagaimana pun juga masih ada cahaya iman di dalam hati mereka.
Setelah membaca koran Jawa Pos edisi hari ini, hati saya merinding membayangkan saat-saat terakhir yang mereka alami menjelang eksekusi dilaksanakan. Dan inilah pelajaran paling berharga yang bisa saya ambil dari ketiganya. Setelah ketiganya memperolah kepastian kapan eksekusi mati dilaksanakan, tentu mereka berupaya memaksimalkan waktu tanpa sia-sia.
Seperti diberitakan sejumlah media, mereka selalu shalat dan membaca Al quran. Bahkan ketika dijemput tim eksekutor pun, mereka tampak segar karena habis mandi dan memakai wangi-wangian. Bisa jadi kualitas shalat mereka sebagaimana yang diperintahkan nabi "Shalatlah seolah-olah esok engkau mati". Dan sebagai bukti kesiapan dan keikhlasan mereka atas kematian yang segera menjelang, mereka minta untuk tidak ditutup matanya saat terjangan timah panas menembus jantung mereka.
Lantas bagaimana dengan kita ? Siapkah kita menghadapi kematian yang kita tak tahu kapan waktunya ? Bagaimana kondisi kita saat sang "eksekutor" izra'il mencabut ruh kita hingga terlepas dari raganya?













Saturday, November 8, 2008

Aisya kini ...

<- Sabtu, 8 Nopember 2008, 12.00 ->

Saat aku datang, dia sudah tidur. Tampak pulas sekali. Dengusan napasnya terdengar teratur saat kutempelkan hidungku di atas pipinya. Aroma khas bayi membuat hatiku tersenyum. Ah, Aisya anakku, kulihat kau semakin besar. Baru seminggu abi berpisah denganmu, namun rindu abi seolah tak mau kompromi.

Banyak yang harus aku syukuri darinya. Alhamdulillah, memasuki bulan ke empat usianya, belum pernah dia sakit serius. Hanya panas sehari setelah imunisasi kedua, dan gatal-gatal jamur karena tak terbiasa dengan panasnya Gresik. Tidurnya pun jarang merepotkan. Biasanya bangun setiap jam empat pagi. Kata Mbak Tini baby sitterku Aisya termasuk bayi pendiam dan penurut.

Dia juga tak ada masalah dengan Asi Eksklusif. Aku pun semakin yakin akan manfaatnya setelah melihat track record kesehatannya. Hanya beberapa teman-teman istri di kantor yang masih kurang setuju dengan asi eksklusif. Apa ngga kasian...Dikasih susu formula aja ga papa. Begitu mereka menyarankan. Malah ada yang bilang dikasih makanan tambahan aja dikit-dikit. Tapi ternyata istriku tetap kukuh dgn komitmen semula. Penerapan manajemen asi ekslusif. Maksimal sampai usianya 6 bulan. Baru setelahnya di beri makanan tambahan + Asi.

Seperti minggu-minggu sebelumnya, dua hari ini (Sabtu-Ahad) kuhabiskan waktuku dengannya. Bersamanya seolah mengusir semua kepenatan dan kerumitan. Benar-benar sebuah rekreasi yang efektif. Melupakan rasa nyeri di sekitar tulang ekor akibat tujuh jam duduk di dalam bus Semarang-Gresik.

Akhirnya aku dan istriku pun hanya bisa menyimpulkan. Dia adalah "malaikat" pertama yang Allah turunkan untuk melengkapi nikmat-nikmat-Nya atas kami.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ? (QS. Ar Rahman 13)


___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Friday, November 7, 2008

Bahagia yang seperti apa ?

[- Demak, 7 Nopember 2008, 09.45 -]

Bagaimana kabar anda hari ini ? Semoga kebahagiaan selalu menyertai anda. Kebahagiaan yang mampu membuat anda tersenyum. Kebahagiaan yang menginspirasi. Kebahagiaan yang tak berujung duka. Itulah kebahagiaan haqiqi.

Bahagia banyak ragamnya. Sensasi atas rasa bahagia itu pun bermacam-macam. Tergantung apa penyebabnya. Seorang anak yang mendapat hadiah dari ayahnya bahagia. Seorang karyawan yang naik gajinya bahagia. Beli mobil baru sesuai kemampuan dan keinginan bahagia. Mampu membeli rumah bahagia. Mendapatkan anugerah seorang anak setelah menunggu sekian lama bahagia. Bagi anda yang pernah merasakan kebahagiaan di atas, tentu masih ingat betul sensasinya.

Coba bandingkan dengan jenis bahagia yang ini. Saat melihat senyuman bahagia seorang sahabat yang senang akan kehadiran kita. Ketika mendengar luapan kebahagiaan seorang teman yang sangat berterima kasih atas bantuan tulus kita. Atau saat-saat kita dipeluk erat dengan penuh haru oleh orang yang telah kita tolong dengan ikhlas. Meski apa yang kita berikan tak seberapa di banding kemampuan kita untuk memberinya lebih. Sensasi apa yang anda rasakan ?

Sekarang mari kita bandingkan dua kelompok contoh di atas. Kebahagiaan karena kita mendapatkan sesuatu biasanya tak bertahan lama. Dan kita bisa saja merasa bosan dan jenuh setelahnya. Atau tak ada yang bisa menjamin, apa yang kita dapatkan itu tidak menimbulkan petaka atau musibah nantinya

Namun lain halnya kala kita bahagia saat mampu membuat orang lain bahagia. Kebahagiaan itu bisa kita rasakan lebih lama. Karena ada simpul-simpul yang terajut erat antara kita dan orang tersebut. Dan simpul inilah yang akan mengikat hati. Membuat orang selalu ingat, dan serasa tak ingin dipisahkan. Karena itulah mengapa nabi sangat menganjurkan untuk saling memberi hadiah untuk mengikat hati satu sama lain. Memberi hadiah saja mampu mengikat hati, apalagi memberi bantuan kepada orang yang sangat membutuhkan.

Di samping itu, jenis bahagia ini akan memberikan multiple effect kepada kita. Yaitu kita akan menddapatkan kebahagiaan-kebahagiaan lain yang akan mengikuti sesudahnya. Apa sebab ? Pertama karena doa orang yang telah kita bahagiakan. Kedua karena janji Allah yang akan membalas setiap kebaikan dengan kebaikan.

Kebahagiaan ini juga bisa menjadi sumber inspirasi bagi kita. Saat kita terjatuh dan berkubang dalam rasa rendah diri yang hebat. Atau saat diri ini merasa mandul dalam "produksi" kebaikan. Ingatlah senyuman orang-orang yang bahagia karena ketulusan yang pernah kita berikan. Niscaya, kepercayaan diri dan produktifitas kebaikan kita akan bangkit kembali.

Jadi mana yang lebih bermakna, lebih tahan lama, dan lebih menginspirasi? Bahagia karena kita bahagia atau Bahagia karena membuat orang lain bahagia?


Qurban Kang Slamet

oleh : Jojo Wahyudi

Masih jelas teringat di sedikit ruang hatiku, akan ketulusan seorang Tuna Netra bernama “Slamet”. Saat aku masih sekolah tingkat pertama di SMP Banyumas, Jawa Tengah Kala itu aku memutuskan untuk mencoba tinggal dan sekolah jauh dari orang tua yang berada di Jakarta. Aku tinggal bersama Bude di Desa Wogen, Kaliori Banyumas. Desa kami terletak persis di tepi sungai Serayu, yang kadang airnya hijau dan kadang coklat bila hujan turun.
Sudah menjadi kebiasaan warga desa menjadikan sungai sebagai MCK. Bukan karena malas mandi di sumur, tetapi karena keterbatasan kemampuan warganya untuk membuat sumur yang harganya cukup mahal. Hanya beberapa warga saja yang sanggup membuat sumur di rumah, dan warga yang tak mempunyai sumur akan meminta airnya untuk mengisi gentong persediaan minum dan memasak. Sementara untuk mandi, mencuci dan “membuang sisa olah makanan dalam perut” sudah tentu sungai Serayu tempatnya.
Adalah pemandangan umum, bila pagi hari para lelaki dewasa melakukan kegiatan “ngangsu”(mengambil air) dari sumur tetangga yang mampu. Tidak terkecuali Kang Slamet (begitu panggilan akrab kami untuknya) juga mempunyai kegiatan ngangsu tersebut. Meskipun dia belum lagi dewasa benar, mungkin umurnya hanya terpaut dua/tiga tahun denganku. Sungguh sebuah rutinitas cukup berat, meskipun menyehatkan. Apalagi Kang Slamet tidak seberuntung kami yang mempunyai panca indera yang lengkap. Dengan intuisi dan kebiasaan karena rutin dilakukan, dia dapat pulang pergi dari rumah orang tuanya ke sumur terdekat tanpa pernah tersesat.
Pekerjaan itu sudah dilakoninya semenjak dia berumur sembilan tahun, saat anak-anak sebayanya tertawa gembira pergi ke sekolah. Di kampung kami belum tersedia sekolah khusus tuna netra, kalau pun ada belum tentu Kang Slamet dapat ikut mengenyam pendidikan SLB yang biayanya pasti mahal. Tak akan sanggup keluarga Kang Slamet yang hanya petani “kecil” membayar uang buku, karena untuk makan saja mereka hanya mengandalkan hasil tani dari secuil tanah yang mereka miliki.
Selain ngangsu, keseharian Kang Slamet adalah “ngarit”, mencari rumput untuk pakan ternak. Karena ketekunannya, banyak tetangga yang memelihara sapi atau kambing, memakai jasa beliau mencari rumput dan sisa-sisa panen kacang & kedelai di sawah.
Satu hal yang aku kagum pada sosok pemuda yang satu ini, dia tidak pernah tertinggal sholat lima waktu. Bahkan dilakukannya di tepi sawah saat dia mencari rumput, apabila suara Adzan sudah terdengar. Sering pula dengan berjamaah di Surau milik Pak Lebe (Lebay/Ustadz).
Satu-satunya pendidikan yang dia dapat hanyalah mengaji di Surau Pak Lebe. Walau dia hanya belajar mengaji melalui pendengaran (lagi-lagi karena Al Qur’an dengan huruf Braile pasti sulit di dapat) tetapi dia cukup hafal surat-surat di Juz Amma, mungkin karena tak pernah absen mengaji dan berkat sholat Subuh berjamaah rutin yang di adakan Pak Lebe di Suraunya, sehingga Kang Slamet banyak mendengar surat-surat yang dibacakan dalam pengajian dan sholat. Tidak jarang Kang Slamet menjadi Imam bila kami anak2 dan remaja sholat berjamaah. Suaranya cukup merdu dan enak di dengar telinga.
Suatu hari, Kang Slamet mendapat kebahagiaan yang tak terperi. Pak Trunosemito, penduduk desa yang punya sedikit kelebihan harta, memberikan cempe (seekor anak kambing) jantan padanya, sebagai ucapan terima kasih atas rumput yang selalu dicarikan kang Slamet untuk kambing-kambing peliharaan. Mata “buta”nya tak dapat menutupi kebahagiaan yang terpancar menyala-nyala dari wajah.
“ Ya Gusti Alloh, syukur Alhamdulillah, nek cempene wis gedhe kulo iso melu Qurban, (Syukur Alhamdulillah, kalau anak kambingnya sudah besar, saya bisa ikut Qurban)” dengan keyakinan penuh dia berucap saat kami tanya akan di apakan anak kambing itu.
“ Lho........ apa ora eman-eman, koe iso ngingu, nek wis gedhe iso di dhol neng pasar. Duite iso di tabung (apa tidak sayang, kamu bisa memeliharanya, nanti kalau sudah besar bisa dijual di pasar. Uangnya bisa ditabung)” kami yang berkumpul mendengarkan ucapannya ikut sumbang saran.
“ He he he, ora opo opo, nggo Qurban wae (tidak apa-apa, untuk Qurban saja)” sambil tertawa lucu, kang Slamet tetap pada pendiriannya.
Waktu berlalu, kami semua melewatinya dengan rutinitas seperti biasa. Hingga suatu hari tiba musim kemarau yang amat panjang, lain seperti kemarau-kemarau sebelumnya. Sumur milik warga desa satu persatu mulai kering. Semakin jauh saja kami mendapatkan air bersih untuk memasak dan minum. Air di sungai Serayu yang mulai dangkal, meski tampak bening, hanya bisa kami gunakan untuk mandi dan mencuci saja.
Begitu pula tanaman di sawah. Tak satupun yang dapat tumbuh dan mengalahkan teriknya matahari. Para petani di desa kami hanya mengandalkan pengairan dari air hujan (sawah tadah hujan). Semua terkena dampak dari musim paceklik saat itu. Tidak terkecuali Kang Slamet, semakin jauh saja dia “ngangsu” dan “ngarit”, mencari rumput pakan ternak. Melewati jalan setapak yang baru pertama kali di rambah, tentulah bukan hal yang mudah untuk seorang tuna netra. Masih beruntung bila bisa bertemu orang lewat yang bisa di mintai tolong menunjukkan arah menuju sumur yang tidak kering. Keadaan sulit itu semakin sulit saja bagi kang Slamet, kadang hingga Maghrib dia baru bisa pulang ke rumah dengan badan luluh lantak karena seharian memikul air dan rumput yang tidak seberapa banyak, tetapi jarak yang di tempuh cukup untuk mengitari seluruh desa.
Kang Slamet juga manusia, tak selamanya fisiknya dapat tetap bugar melawan putaran perubahan alam. Akhirnya dia tumbang juga, jatuh sakit. Hampir satu minggu dia tidak muncul melakukan rutinitas seperti biasa. Tugas “ngangsu” sementara digantikan oleh sang Bapak yang mulai renta.
Setelah lewat satu minggu, kesehatan kang Slamet belumlah pulih benar, kembali cobaan menghampirinya. Anak kambing peliharaannya yang mulai besar, tiba-tiba mati. Mungkin tertular penyakit hewan musiman, atau bisa jadi mati kekurangan pakan karena memang sudah lebih seminggu ini tak ada yang memperhatikan.
Anak malang itu sedih bukan alang kepalang. Harta satu-satunya yang dia punya diambil oleh Yang Maha Memiliki. Sirna sudah harapan kang Slamet untuk dapat ber-Qurban.
Beberapa hari setelah berita kematian kambingnya, kami melihat kang Slamet terpekur bersimpuh di sudut Surau. Air bening meleleh deras di kedua pipinya.
Kami tak sampai hati untuk menegurnya ataupun mengucapkan sekedar salam. Hingga datang pak Lebe ke Surau saat Ashar tiba. Melihat yang terjadi, dengan tenang beliau menghampiri bocah yang sedang dirundung nestapa itu.
“ Ono opo tho Met ? Cah lanang koq nangis ? (Ada apa Met ? Anak laki-laki koq nangis ?)” dengan lembut dan seolah-olah tak tahu kejadian yang terjadi, pak Lebe menepuk pundak kang Slamet.
Kang Slamet tak langsung menjawab, tangan kekarnya berusaha menutupi air mata yang mengalir. Dengan sisa sesenggukan yang ada dia berkata, “ Kulo ora iso Qurban pak, sak umur-umur uripku, wedhus iku sing dhadhi karepku nggo tak persembahke ke Gusti Alloh.(Saya tidak bisa ber-Qurban pak, seumur hidupku, kambing itu yang jadi harapan untuk dipersembahkan pada Gusti Allah)”
“ mmmm......... Gusti Alloh ngerti kekuatan hamba-hambaNya. Ndak mungkin Gusti Alloh mekso-mekso (memaksa) yen (kalau) hambaNya ndak sanggup.”dengan sangat tenang dan teduh pak Lebe mengobati kesedihan kang Slamet.
“ Jalaran keikhlasan....wedhuse wis ngenteni awakmu ning Syurgo, kanggo tungganganmu ngesuk ning akherat (Karena keikhlasan.....kambingnya sudah menantimu di Surga, untuk kendaraanmu kelak di akhirat)” kalimat terakhir pak Lebe ini yang tidak bisa ku lupa hingga detik ini.
Kini, aku tidak tahu lagi keberadaan dan kabar kang Slamet, hampir dua puluh sembilan tahun yang lalu peristiwa ini terjadi, aku belum bisa menghilangkan rasa “iri”ku pada sosok pemuda tuna netra dengan keikhlasan yang tanpa batas, menembus akal sehat orang yang bekerja di kota besar seperti diriku saat ini. Yang akan sangat berat melepas sebagian hartanya untuk di qurbankan di jalan Allah, apalagi mempersembahkan seluruh harta yang di miliki untuk Allah sang Pemilik Sesungguhnya seluruh alam dan isinya. Kami pekerja kantoran, yang tidak perlu “ngangsu” beratus-ratus meter dengan telanjang kaki hanya untuk mendapatkan dua ember air, dan tak perlu bertahun-tahun “ngarit” hanya untuk seekor anak kambing, tidak mempunyai keikhlasan yang penuh untuk ber-Qurban di jalanNya.
Kami yang mencari rizqi di tempat luar biasa mewah, di atas gedung tinggi menghujam langit, dengan suasana nyaman, duduk di kursi empuk, lebih memilih membeli hewan Qurban “patungan” sumbangan perusahaan dari pada menyediakan sendiri Qurban-nya dari harta yang banyak tersimpan.
Kang Slamet pemuda tuna netra dan miskin, seperti kata pak Lebe, sudah memiliki sendiri kendaraan yang akan digunakannya kelak di akhirat. Sedangkan kami yang berkecukupan hanya menyediakan se-ekor sapi untuk kami tunggangi bersama-sama ratusan orang satu kantor.

dari lantai sebelas sebuah gedung tinggi di Sudirman, 06 November 2008(dipersembahkan untuk Kang Slamet, teman satu desa yang kini entah berada di mana) Aku sangat iri padamu Kang.

Sumber : www.eramuslim.com


Tuesday, November 4, 2008

Anakku Aisya

Alhamdulillah, anakku tumbuh semakin besar. Di usianya yang 3 bulan lebih 24 hari ini, dia tumbuh sehat.

Letak Keutamaan Insan Menurut Imam Al-Ghazali

Sahabat…
Untuk dapat mensyukuri kondisi diri kita, ada baiknya kita merenungkan kata-kata bijak nan sarat hikmah dari Imam Al-Ghazali berikut, semoga Allah menolong kita agar mampu berbuat sebagaimana potensi kita yang Dia Kehendaki…amien.
Ilmu (al-‘ilm) yang paling utama ialah mengetahui akan Allah, sifat-sifat-Nya dan tindakan-tindakan-Nya. Disinilah terletak kesempurnaan manusia. Dan pada kesempurnaan inilah bergantung bagian dan kebaikan manusia di hadapan Tuhan Yang Agung dan Sempurna.
Jasad (raga) itu kendaraan dari an-Nafs (jiwa). An-Nafs itu tempat ilmu dan ilmu itulah tujuan manusia dan hakikat dirinya, yang untuk itulah manusia diciptakan. …….
Manusia dipandang dari segi bahwa ia makan dan berketurunan—maka ia sama dengan tumbuh-tumbuhan.
Dipandang dari segi bahwa ia merasa dan bergerak dengan ikhtiarnya sendiri, sama dengan binatang.
Dipandang dari rupa dan bentuknya, ia sama dengan gambar yang dilukis pada dinding.
Letak keistimewaan manusia ialah karena ia dapat mengetahui hakikat segala sesuatu.
Barangsiapa mempergunakan semua anggota dan kekuatannya ke arah membantu mendapatkan ilmu dan mengamalkannya, maka ia serupa dengan malaikat; atau dengan kata lain ia menyusul martabat malaikat dan patutlah ia disebut malak. Sebagaimana firman-Nya: “Ini bukanlah seorang basyar, melainkan ia seorang malak yang mulia” (QS Yusuf [12]: 31).

Sumber:Kitab Keajaiban Hati halman 21-22

Dikutip dari www.serambitashawwuf.blogsome.com

Allah itu ....

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

“Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jamaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”

Tuesday, October 28, 2008

Belajar berdoa

Aisya usia dua bulan dengan berat badan 6.6 kg.

Puyuh


Di sebuah tepian hutan, seekor burung puyuh muda sedang termenung. Tiap hari, ia menghabiskan siangnya untuk cuma tergolek di atas bayangan dahan. Ia kerap membandingkan dirinya dengan siapa pun yang tertangkap lewat penglihatannya.

Suatu kali, serombongan anak itik berlalu bersama induknya. Mereka begitu asyik menikmati pagi yang cerah. Satu per satu, rombongan keluarga itik itu menceburkan diri ke telaga. Mulai dari sang induk, hingga semua anak itik tampak berenang penuh riang.

"Andai aku seperti itik...," ucap si puyuh miris. Itulah komentar pertama dari tangkapan penglihatannya. Sontak, ketidakpuasan pun menyeruak. "Enak sekali jadi itik. Bisa berenang. Bisa mencari makan sambil bersantai!" keluh kesah puyuh pun tak lagi terbendung. Ia sesali keadaan dirinya. Jangankan berenang, tersentuh air pun tubuhnya bisa menggigil.

Tak jauh dari telaga yang rimbun, seekor burung kutilang tiba-tiba hinggap di sebuah dahan. Ia seperti memakan sesuatu. Setelah itu, sang kutilang pun terbang tinggi ke udara.
Puyuh muda lagi-lagi berandai. "Andai aku bisa seperti kutilang!" keluhnya pelan. "Enaknya bisa melihat bumi dari atas sana. Bisa menemukan makanan sambil menikmati indahnya udara lepas," ucap si puyuh sambil tetap tak beranjak dari duduknya. Ia pun melirik sayap kecilnya. Sayap itu ia gerakkan sebentar, dan si puyuh duduk lagi. "Ah, tak mungkin aku bisa terbang!"
Masih dalam posisi agak berbaring, si puyuh mendongak. Ia seperti menatap langit. "Tuhan, kenapa kau ciptakan aku tak berdaya seperti ini! Tak mampu berenang. Tak bisa terbang!" ucap sang puyuh mengungkapkan isi hatinya.

Entah datang dari mana, tiba-tiba pemandangan sekitar telaga penuh dengan asap hitam. Udara menjadi begitu panas. Pengap. "Api! Api! Hutan terbakar!" teriak hewan-hewan bersahutan. Tanpa aba-aba, semua penghuni telaga menyelamatkan diri. Ada yang berenang. Ada yang terbang. Dan ada yang berlari kencang. Kencang sekali.

Menariknya, dari sekian hewan yang mampu berlari kencang justru si puyuhlah yang di barisan depan. Langkah cepatnya seperti tak menyentuh bumi. Ia berlari seperti terbang. Saat itulah, ia tersadar. "Ah, ternyata aku punya kelebihan!" ucap si puyuh menemukan kebanggaan.**
Hidup dalam kerasnya belantara dunia kadang membuat seseorang tak ubahnya seperti burung puyuh. Merasa diri tak berdaya. Tak punya sayap untuk terbang meraih cita-cita. Tak punya sirip untuk berenang melawan badai kehidupan. Tak punya taring untuk melindungi diri dari para pesaing.

Kalau saja ia mau menggali. Karena pada kaki kecil potensi diri, boleh jadi, di situlah ada kekuatan besar. Sekali lagi, gali dan kembangkan. Perlihatkanlah kegesitan kaki potensi yang teranggap kecil itu. Dan jangan pernah menunggu hingga 'kebakaran' datang. Karena bisa jadi, api bisa lebih dulu sampai. (mnuh)
Sumber : eramuslim.com


Tuesday, October 21, 2008

Sorry, Not available.

[- Demak, 23 Oktober 2008, 11.00 -]

Tak ada satu pun piranti dan sistem keamanan yang pernah ada di dunia ini yang sempurna. Secanggih dan semahal apapun, bisa dipastikan, tak ada yang bebas dari pembobolan. Bahkan data rahasia Pentagon yang tersimpan dengan sistem keamanan yang canggih sekalipun, pernah dibuat kacau oleh ulah hecker. Kesimpulannya, kemampuan manusia sangat sangat terbatas dalam hal pengawasan.

Namun, jangan pernah bermimpi itu akan terjadi pada sistem pengawasan Tuhan kepada kita. Karena bisa dipastikan tak ada sekecil perbuatan pun yang luput dari pengawasan-Nya. Jika kita hanya bertiga saja, Dia lah yang keempatnya. Jika kita berempat, Dia lah kelimanya.

Allah berfirman,

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka dimanapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang Telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS Al Mujaadilah 7)

Jadi, kalau mau nyari tempat yang aman dari siapapun,

Sorry, not available.






Tuesday, September 30, 2008

Maaf

Met lebaran, semua ...
Taqabbalallahu minna wa minkum,
Kulla 'amin wa antum bikhair, ya...



Nyuwun gunging samudro pangaksami...

___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @
ymail.com dan @rocketmail.com.http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

FW: [InspirasiIndonesia] Daily Article : Paradigma Career Security

----- Original Message -----
Subject:[InspirasiIndonesia] Daily Article : Paradigma Career Security
Date:Thu, 25 Sep 2008 8:14:33
From:Mohamad Yunus, Mr <
yunus@widatra.com>
To:Milis_InspirasiIndonesia <
InspirasiIndonesia@yahoogroups.com>,Milis HROpenSource <HROpenSources@yahoogroups.com>

Paradigma Career
Security
Oleh Ubaydillah, AN

Dari penggunaan yang lazim istilah
paradigma sering diartikan sebagai pola / model tertentu yang kita anut.
Paradigma berpikir tertentu akan mempengaruhi
sikap, tindakan dan kebiasaann
tertentu. Paradigma dengan kata lain sering tidak disadari
menjadi 'hukum' dan kita semua adalah anak dari hukum itu. Oleh
sebab itu logislah kalau dikatakan,
salah satu syarat untuk maju adalah mengganti (baca: menyempurnakan) paradigma
lama dengan paradigma baru yang
lebih unggul.


Dalam hal pekerjaan / karir,
sedikitnya ada dua paradigma yang berkembang yaitu job security
dan career security. Job security merujuk pada keamanan
atas pekerjaan yang dimiliki atau
diberikan oleh pihak perusahaan (external), sementara career security merujuk
pada keamanan atas bidang karir atau
pekerjaan yang dipilih oleh diri
sendiri (internal). Dalam paradigma job security maka kesalahan terbesar
adalah munculnya keyakinan bahwa kita bekerja untuk
orang lain. Tentu saja pandangan
seperti ini sudah kadaluwarsa sebab pijakan perkembangan karir haruslah
diciptakan dari diri individu. Pekerjaan memang
bisa saja milik perusahaan
tetapi karir adalah milik anda". Pola berpikir yang mengedepankan job security
seringkali justru menjadi "pembunuh" bagi
sumberdaya terbesar yang anda miliki.
Adakah yang salah dari paradigma
job security itu sampai dijuluki sebagai "pembunuh" sumberdaya individu?
Kalau dikatakan salah, haruskah semua orang
meninggalkan kantor untuk mendirikan
perusahaan sendiri, menjadi business owner, self-employment atau investor
seperti yang digambarkan dalam 'paradigm
shift' ala Robert Kiyosaki dalam
"Cash flow Quadrant" ? Jawabannya tentu tidak mutlak harus demikian.

Posisi dan Misi

Perbedaan arti job security
dan career security akan membentuk pemahaman irrational yang mandul
kalau diartikan secara posisi tetapi akan 'klop' kalau
diartikan secara misi. Artinya,
untuk memahami career security maka anda harus melepaskan diri dari apa
pun posisi anda (karyawan, professional, pemilik
usaha) dan hanya berpegang pada
misi bahwa diri andalah yang menjadi sumber segalanya bagi kelangsungan
karir anda. Dengan kata lain, career security
adalah ajaran mentalitas berupa
The enterprising mental attitude - mentalitas pengusaha. Lagi - lagi
kita terjebak dalam arti posisi dengan kalimat pengusaha
karena istilah ini sudah dikramatkan
sedemikian rupa selama bertahun-tahun sehingga membuat kebanyakan orang
takut untuk menyebut dirinya pengusaha,
padahal suka atau tidak suka, semua
orang adalah pengusaha, pejuang gagasannya. Inilah inti dari paradigma
career security.
Agar tidak terlalu banyak menghadapi
jebakan idiom, maka perubahan paradigma dari job security ke career security
harus diatur dengan tata letak (realisasi
misi) yang tidak saling berlawanan.
Hal itu mengingat bahwa setiap paradigma mengandung nilai plus-minus. Tugas
kita adalah mengambil plus dari paradigma
lama untuk dijadikan lebih plus
dengan paradigma baru. Paradigma job security yang telah menyelimuti
kultur kita mewariskan kepercayaan bahwa modal
untuk membeli keamanan atas pekerjaan
adalah loyalitas dan kerja keras. Pada batas yang terlalu jauh, mentalitas
demikian akan 'membutakan' penglihatan
terhadap adanya 'gold mine' di dalam
diri yang menunggu sentuhan 'gold mind'.
Hal lain yang perlu diingat lagi
adalah bahwa paradigma merupakan materi ajaran mentalitas yang dimaksudkan
untuk mengubah konstruksi pola pikir dan tidak
perlu mengubah bentuk tatanan
fisik kalau memang secara riil belum mampu dan tidak diperlukan. Paradigma
career security mengajarkan perubahan mindset
(pola pikir) dari bekerja dengan
cemeti perintah menuju ke bekerja atas keinginan untuk memperbaiki diri
atau dorongan berprestasi di tempat kerja. Cemeti
perintah akan menciptakan karakter
'asking for' dalam arti 'low bargain' yang membuat banyak orang melihat
tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan
sebagai beban hidup. Sementara
career security akan menciptakan karakter mental sebagai 'giver'.
Tangan "giving" bagaimana pun akan lebih mulia di
banding tangan "asking".
Hal terakhir yang harus diingat juga
adalah bahwa perubahan paradigma sebenarnya merupakan jembatan peradaban
dari level rendah ke level yang lebih
tinggi. Kalau orang sudah berpegang
pada paradigma lebih positif maka kemungkinan besar dapat dikatakan bahwa
ia punya potensi lebih besar untuk
menciptakan perilaku yang
lebih positif dalam merespon keadaan. Sebab keadaan yang sebenarnya terjadi,
meskipun kita menganut paradigma job security,
tetapi toh kita bisa mudah kehilangan
pekerjaan karena keputusan orang lain, kebijakan lembaga, atau bahkan perubahan
negara lain. Kalau dikaji
untung-ruginya, career security
lebih mendorong pada upaya menciptakan persiapan di dalam untuk menghadapi
perubahan keadaan di luar sementara job
security tidak mendorong demikian
atau lebih cenderung pasrah. Artinya perubahan paradigma dari job security
ke career security melambangkan tangga
peradaban yang lebih atas
/ lebih untung.
Dengan sedikit pertimbangan di atas,
rasanya tidak ada ruginya atau bahkan tidak mengandung resiko ancaman
keamanan apapun kalau kita sudah bisa
menyambut baik ajakan untuk
mengganti paradigma kerja dari job security ke career security. Alasan
rational dan faktual yang dapat kita jadikan pijakan
untuk mengganti paradigma itu adalah
kenyataan bahwa pekerjaan tidak lagi menyisakan ruang 'comfort zone'
atau paling tidak ukurannya makin sempit .
Penyempitan itu bisa disebabkan
oleh banyak faktor, mulai dari persaingan, peristiwa eksternal, dan perubahan
kebijakan.
Persaingan yang oleh para ahli diistilahkan
sudah mencapai tingkat hyper menuntut kualitas pengecualian. Kualitas
rata-rata sudah semakin jauh dari
perhitungan. Kalau ada perusahaan
membutuhkan - misalnya saja - tenaga accounting dengan kualifikasi S1,
tentu semua orang mengatakan mudah. Tetapi
kalau ditambah kualifikasinya harus
bisa bahasa Inggris, sudah berkurang yang berani mengatakan mudah. Apalagi
kalau ditambah dengan pengusaan job skill
yang memang dibutuhkan untuk melaksanakan
pekerjaan riil di lapangan, misalnya saja harus menguasai program MYOB,
peraturan perpajakan, Brevet A / B,
maka dipastikan tidak semua orang
mengatakan mudah. Lebih-lebih kalau ditambah embel-embel harus berpenampilan
'menarik'.

Ketrampilan

Paradigma career security
bertumpu pada kekuatan ketrampilan, yaitu mengeluarkan semua sumberdaya
internal, keunggulan, dan bakat di tempat kerja
agar bisa lebih mendatangkan manfaat
dan prestasi bagi diri kita dan bagi orang lain. Ketrampilan diartikan
sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu
dengan tepat dan mahir (Skill is
the ability to do something expertly). Arah pengembangan ketrampilan
bisa mengacu pada formula yang sudah lazim dengan
sedikit penyempurnaan.
Di antara formula yang dapat disebutkan di sini adalah:

1. Ketrampilan dan
Sikap

Ketrampilan
kerja (job skill) dipahami sebagai kemampuan untuk mengerjakan suatu pekerjaan.
Kalau dielaborasi keterkaitannnya dengan aneka ragam
'human capital' maka job skill
lebih banyak diperankan oleh IQ (Intellectual Quotient). Mental skill mengacu
pada pengertian leadership skill yaitu kemampuan
menyelesaikan urusan benda hidup
atau sering disebut software skill seperti misalnya menangani persoalan
hubungan dengan manusia. Mental skill lebih
banyak diperankan oleh EQ (Emotional
Quotient).
Dengan paradigma kerja baru maka
fokus pengembangan tidak lagi perlu diarahkan pada wilayah dikhotomistik
tetapi merebut keduanya dengan menempuh
cara belajar melewati garis pembatas
definitif itu. Tidak lagi menggunakan jarum jam tetapi sudah saatnya menggunakan
kompas. Tidak lagi menganut
paradigma mesin tetapi manusia yang
benar-benar manusia dengan segala kemampuan untuk memilih yang lebih baik
dan tidak lagi berbicara mana yang lebih
penting antara job skill dan mental
skill.

2. Pikiran dan Tindakan

Rasanya
sudah tidak asing kalau kita sering membuat definisi tentang kemampuan
orang di mana ada orang yang cuma bisa mengerjakan tetapi tidak bisa
membuat konsep. Paradigma lama itu
tak terasa menjebak kita ke dalam pembatas kemampuan yang menyempitkan.
Lebih-lebih kalau sudah disikapi secara
perang. Si A hanya fasih dengan
konsepnya, 'omong-doang' dan sebaliknya si B hanya bisa bekerja tetapi
tidak bisa berpikir kritis..
Paradima kerja baru membutuhkan pengalihan
focus untuk memperluas batas definitif kemampuan yang tidak lagi hanya
bisa mengerjakan atau hanya berpikir
melainkan mengasah keduanya. "Jika
Morita menciptakan kerajaan Sony tanpa menggunakan jasa konsultan atau
Sam Walton yang tak bergelar MBA sukses
membangun Wal Mart, maka jawabnya:
mereka bukan sekedar people of action tetapi sekaligus people of thought
- pemikir yang kritis.

3. Belajar

Keahlian
ini bertumpu pada keahlian unutk "belajar bagaimana belajar yang sesungguhnya" ,
bukan sekedar 'kesediaan diajar'. Sama sekali bukan sebuah
sikap untuk menafikan makna 'kesediaan
diajar' yang telah membuat kita menjadi tahu akan tetapi ketika sudah berbicara
kunci utama pengembangan manusia
(individu / organisasi) maka kunci
itu adalah menjadi 'learner'. Dengan menjadi learner, gap yang diciptakan
oleh pemahaman dikhotomistik dari sekian acuan
pengembangan skill dapat dijembatani.
Bahkan sebetulnya fakta alamiyah telah lebih dulu menjelaskan bahwa
semua 'gained quality' tidak bisa dilepaskan dari
unsur learning di dalamnya termasuk
bagaimana cara berjalan kaki bagi bayi.
Supaya bisa menjadi learner lagi
seperti bayi, maka syarat yang harus dipenuhi adalah kesediaan menjadi
'beginner' yang selalu dapat melihat materi/objek
dengan lensa baru (creative) dan
tanda tanya (curiosity). "You can learn new things at any time in your
life if you're willing to be a beginner. If you actually
learn to like being a beginner,
the whole world opens up to you." Kata Barbara Sher. Ada kalanya 'block
mental' terjadi bukan karena kita tidak tahu tetapi
justru karena kita sudah tahu. (jp)

Have a positive day!
Salam Inspirasi,
Mohamad Yunus
HRD & General Services Manager
PT Widatra Bhakti
Moderator I2
www.inspirasiindone
sia.com
"You
CREATE your OWN REALITY"

__._,_.___

Messages in this topic ( 2 )

Reply (via web post)

Start a new topic

Messages

>> Jadi MASTER PRAKTISI NLP tahun ini juga! Awali tahun 2009 dengan level pikiran dan perilaku yang dahsyat! I2 dan NLP INDONESIA membuka dua kelas Master Praktisi di penghujung tahun ini! Anda bisa lebih fleksibel MEMILIH yang sesuai dengan Anda!
Bagi yang belum menjadi Praktisi, kesempatan untuk menjadi Master Praktisi terbuka dengan sebuah paket di penghujung tahun. Kelas ketiga, atas permintaan peminat, dibuka di bulan November 2008.
SEKARANG! Giliran Anda untuk menjadi praktisi ber-LISENSI resmi dari Dr. Richard Bandler! Hubungi Sdri. Desty/Tina di 021-64700221/64700422 untuk informasi lebih lanjut.

Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest Switch format to Traditional

Visit Your Group

Yahoo! Groups Terms of Use

Unsubscribe

Recent Activity

30
New Members

Visit Your Group

Share Photos
Put your favorite
photos and
more online.

Moderator Central
Yahoo! Groups
Join and receive
produce updates.

All-Bran
10 Day Challenge
Join the club and
feel the benefits.

.

__,_._,___


___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

FW: [InspirasiIndonesia] Daily Article : M a a f

----- Original Message -----
Subject:[InspirasiIndonesia] Daily Article : M a a f
Date:Fri, 26 Sep 2008 4:11:58
From:Mohamad Yunus, Mr <
yunus@widatra.com>
To:Milis_InspirasiIndonesia <
InspirasiIndonesia@yahoogroups.com>,TrainersClub <trainersclub@yahoogroups.com>
MA'AF
Jam sudah menunjukkan angka sebelas
ketika aku duduk merebahkan diri di ruang tengah. Tentu saja istri dan
anakku Aisyah sudah
tertidur lelap.Tapi kenapa pintu
kamar Aisyah masih terbuka?
Aku tertegun saat berdiri di depan
pintu kamar Aisyah. Aisyah tertidur di meja belajarnya, ditangan kanannya
masih memegang pinsil dan
sepertinya dia menulis sesuatu di
buku tulisnya dan ada segelas kopi. "Tumben anak ini minum kopi,"pikirku.
Kuangkat dia ketempat tidur. Kubereskan
meja belajarnya yang berantakan, namun sebelum aku menutup buku tulisnya
aku ingin melihat
apa yang ditulis Aisyah. Aku tertegun
sejenak saat membaca tulisan2nya, ternyata semuanya cerita tentang diriku.
Sampai akhirnya aku
membaca 3 lembaran terakhir yang
sangat menyentuh hatiku.
Di lembaran pertama dia menulis
:
"Hari ini ayah tidak jadi menemaniku
ke toko buku, mungkin ayah tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Aku mengerti
dengan
kesibukanmu ayah." Aku jadi ingat
beberapa minggu yang lalu Aisyah mengajakku ke toko buku, aku ingat sekali
gaya bicaranya yang
polos. "Ayah nanti sore ada kegiatan
nggak sih,"sapa Aisyah saat aku akan pergi kerja. "Ada apa sayang," jawabku.
"Ayah mau nggak
menemani Aisyah ke toko buku?" "Kalau
ayah nggak sibuk nanti sore akan ayah usahakan menemani kamu yach". "Terima
kasih, ayah,"
ucap Aisyah dengan wajah yang sangat
gembira sambil mencium pipiku. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang lucu
dan
menggemaskan.
Di lembaran kedua dia menulis
:
"Hari ini ayah tidak jadi lagi menemaniku
ke toko kaset, padahal aku ingin sekali mendengar lagunya Sulis dan memutarnya
di kamarku
saat aku sedang sendiri agar aku
tidak merasa sunyi. Sebenarnya aku mau ngajak ibu tapi aku ingin sekali
ditemani ayah. Tapi lagi2 ayah
sibuk". Dan aku ingat lagi kalau
Aisyah memang pernah mengajakku menemaninya membeli kaset. Kalau dia ingin
mengajakku dia selalu
bicara sepertiini,"Ayah nanti sore
sibuk nggak atau Ayah nanti sore ada kegiatan?" Bahasa yang sopan sekali
menurutku sehingga aku
tidak bisa untuk mengatakan tidak
walaupun terkadang aku tidak bisa memenuhi keinginannya.
Di lembaran terakhir dia menulis
:
"Hari ini dan untuk kesekian kalinya
ayah tidak bisa menemaniku. Tadi aku mengajak ayah ke pasar malam padahal
ini kan hari terakhir
ada pasar malam di komplekku dan
aku udah janji sama pak Mamat kalau aku akan membeli boneka yang ditawarkan
tadi sore saat pak
Mamat lewat depan rumahku, aku katakan
pada pak Mamat kalau aku akan pergi bersama ayah ke pasar malam dan aku
akan membeli
boneka pak Mamat. Karena ayah masih
belum pulang pasti pak Mamat sudah menjualnya. Pak Mamat maafkan Aisyah
yah. Besok pagi
akan Aisyah tunggu di depan rumah
dan minta maaf pada pak Mamat kalau Aisyah tidak bisa pergi ke pasar malam.
Kali ini Aisyah yang akan duluan
meminta maaf, biasanya kan pak Mamat selalu minta maaf kalau sudah melihatku
di depan rumah menanti
majalah yang kupesan. Dia selalu
bilang,"maaf yah neng pak Mamat terlambat". Padahal menurutku pak Mamat
nggak terlambat hanya
aku yang terlalu cepat menunggunya.
Begitu melihatku sudah menunggu dia mengayuh sepedanya lebih cepat lagi.
Saat kutanya kenapa
sih pak Mamat selalu minta maaf
padahal pak Mamat kan nggak punya salah pada Aisyah. "Iya neng pak Mamat
tidak ingin
mengecewakan neng
Aisyah kemaren kan sudah bilang
kalau pak Mamat nganterin pesanan neng Aisyah pagi2 sebelum neng pergi
kesekolah. Coba kalau pak
Mamat datangnya kesiangan pasti
neng kecewa, pak Mamat nggak ingin neng, ngecewakan orang karena kekecewaan
itu akan
menimbulkan luka di hati. Dan susah
neng untuk menyembuhkannya kecuali kita minta maaf dengan tulus pada orang
yang telah kita
kecewakan".
Aku jadi ingat sama ayah, ayah tidak
pernah mengucapkan maaf padaku, atau mungkin karena ayah menganggapku masih
kecil atau ah,
aku tidak mau berprasangka buruk
terhadap ayah. Walaupun sebenarnya aku sangat kecewa dengan ayah tapi aku
tidak ingin menyimpan
kekecewaan itu didalam hati. Bahkan
hatiku selalu terbuka untuk kata maaf ayah.
Aku menangis membaca tulisan Aisyah,
kudekati Aisyah di pembaringan sambil kupandangi wajahnya yang polos. Aisyah
anakku sayang
maafkan ayah, ternyata kau punya
hati emas. Aku memang tidak pernah minta maaf pada Aisyah atas janji2 yang
tidak pernah kupenuhi
padanya. Dan aku selalu menganggapnya
dia sudah melupakannya begitu melihatnya dipagi hari wajahnya begitu cerah
dan selalu
tersenyum. Dan ternyata dia masih
mengingatnya dalam tulisan2nya. Ah, entah sudah berapa banyak goresan rasa
kecewa yang ada
dihatimu andai kau tidak memaafkan
ayah. Aisyah, ayah akan menunggumu sampai terbangun untuk meminta maafmu.
---Untuk anakku tersayang
Aisyah---
Renungan: Terkadang kita malu atau
enggan hanya untuk sekedar mengatakan kata "maaf" dan membiarkannya menjadi
goresan2 luka
yang membekas di hati. Atau mungkin
kita sering beranggapan bahwa mereka akan melupakannya setelah beberapa
hari. Kalau
seandainya anda juga pernah melakukan
hal yang sama seperti saya, tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf
pada orang yang
pernah anda kecewakan. Jangan malu
untuk melakukan hal yang benar sekalipun itu anda lakukan untuk seorang
bocah atau teman,
karena mereka juga punya hati nurani.
Dan seandainya mereka masih tersenyum padamu walaupun anda telah mengecewakan
mereka
anda harus bersyukur atas karunia
itu.
Have a positive day!
Salam Inspirasi,
Mohamad Yunus
HRD & General Services Manager
PT Widatra Bhakti
Moderator I2
www.inspirasiindonesia.com
"You
CREATE your OWN REALITY"


___________________________________________________________________________
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga.
http://id.toolbar.yahoo.com/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...