Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Sunday, December 17, 2006

Belajar tersenyum :)

[- Ditulis oleh Satria 17 Desember 2006 12,00 WIB -]



Sore itu, di sebuah ruang tunggu praktek dokter gigi, seorang laki-laki setengah baya tampak termenung di sudut bangku panjang. Sesekali mulutnya mendesah. Menahan rasa nyeri yang tak kunjung pergi dari gerahamnya. Di sebelahnya seorang ibu muda sedang menggendong balitanya yang baru berumur 7 bulan. Dengan botol susu di mulutnya, balita itu terlihat sangat menikmati. Tak jauh darinya, masih ada dua orang yang sama-sama antri.

Nyaris tak ada obrolan di antara mereka. Suasana terlihat dingin dan kaku. Dari raut muka mereka, seolah menyiratkan keluhan-keluhan yang enggan untuk diungkapkan. Dalam hati mungkin mereka menyesali, mengapa harus sakit segala? Sudah rugi waktu, rugi uang. Ah benar-benar membosankan.

Sudah hampir setengah jam mereka menunggu. Barangkali sedang ada operasi cabut gigi di dalam. Jadi lumayan lama. Di tengah-tengah kebekuan, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. “Dukk..!!”Botol susu balita dalam gendongan wanita setengah baya itu terjatuh ke lantai. Ternyata bukan karena gigitan si balita yang tidak mampu menahan berat botol susu tadi. Bukan juga karena sang ibu yang lengah, tidak memegangi botol bayinya. Tetapi lebih karena senyum si balita yang tiba-tiba mengembang setelah melihat seekor kucing yang tiba-tiba menyelonong masuk ke ruang tunggu. Keberadaan kucing tadi ternyata mampu membuat si balita tersenyum beberapa saat. Disusul tawa kecil terkekeh-kekeh menggemaskan yang keluar dari bibir mungilnya.

Lalu apa yang terjadi? perhatian semua pengunjung langsung tertuju pada si balita lucu itu. Si bapak disebelahnya pun spontan bereaksi. “Tuh kucingnya lari. Kuciingggg...sini maen sama adekk..”
“He..he.. berapa Bu umurnya?”sambung pengunjung yang lain.
Lalu terjadilah obrolan ringan seputar balita dan kelucuannya. Disusul cerita si bapak tentang cucunya yang baru lahir. Dan obrolan hangat itu pun telah memecah kebekuan yang sebelumnya mencekam.

Apa yang bisa kita ambil dari fragmen di atas? Satu hal yang membuat kita sadar adalah betapa senyuman yang tulus mampu menghadirkan kehangatan secara ajaib. Semua tahu, balita itu tidak mengharapkan apapun dari senyumannya. Dia tidak ingin di bilang lucu, tidak juga agar dikasih uang, apalagi tersenyum karena dipaksa ibunya. Tidak sama sekali. Senyum yang keluar terlihat natural dan alami sekali. Tanpa tendensi apapun dan tanpa tekanan siapapun.

Lalu muncul pertanyaan menggelitik. Mengapa kita tidak mengambil teladan dari si balita tadi?
Terkadang kita sendiri susah sekali tersenyum. Kalaupun bisa mengapa senyuman kita malah mengundang kecurigaan orang lain. Terkesan sinis, penuh kepura-puraan dll.

Rasulullah adalah orang yang paling murah tersenyum. Senyumnya menghangatkan. Dan kehangatan senyumannya mampu menghibur hati para sahabatnya.

Sahabat, mari kita belajar tersenyum. Jadikan kehadiran kita sebagai penghangat saudara-saudara kita yang lain.



Wallahu A'lam bi Showab

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...