Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Tuesday, November 21, 2006

Saat Tangan Gemar Menarik Dompet

[- Di tulis oleh Satria, 20 Nop 2006, 21.00 WIB -]


Banyak keluhan yang disampaikan teman-teman sekantor kepada saya, perihal kondisi keuangan pribadinya. Mereka mengaku tidak bisa mengendalikan laju pengeluaran yang secara pelan tapi pasti menguras gaji mereka. Dan anehnya rata-rata di antara mereka berstatus bujangan yang masih belum mempunyai banyak tanggungan. Entah kenapa justru mereka merasa sangat sulit untuk mengatur keuangannya. Bahkan banyak di antara mereka yang hingga kini belum mampu menyisihkan sebagian gajinya untuk keperluan saving. Apalagi investasi.
Artikel ini sengaja saya tulis, bukan karena saya ingin memberi solusi atas permasalahan mereka. Tetapi lebih karena saya adalah salah satu di antara mereka dengan permasalahan yang sama. Mudah-mudahan sahabat bisa memberi solusi.

Saya pernah mengamati dan akhirnya menyimpulkan mengapa ini bisa terjadi. Pertama muncul pertanyaan di benak saya. Mengapa justru masalah ini jarang dihadapi oleh mereka yang sudah berkeluarga. Ketika saya bertanya langsung kepada salah seorang di antara mereka yang sudah menikah, dia mengatakan. Bahwa saat kita menikah, ada tanggung jawab yang menjadi kewajiban kita. Dan tanggung jawab inilah yang memunculkan upaya untuk mencukupi kebutuhan nafkah untuk anak istri, yang salah satunya dilakukan dengan mengatur semua pengeluaran. 

Dia menambahkan bahwa sejak saat itu pula, ada prioritas. Lalu muncul uangkapan-ungkapan, “Aku rela ngga beli baju baru, asal bisa membahagiakan istri.” (Deuuu..jadi terharu..), “Buat apa se penampilan, lha wong kita lho sudah laku, mending ditabung aja duitnya, buat nyicil rumah, persiapan kelahiran anak, atau apalah”. Kemudian saya berpikir, bener juga ya. Mereka yang masih bujang mah “easy going” aja, memang belum ada tanggungan. Malah ada yang lebih parah lagi, mumpung belum ada tanggungan, sah-sah aja dong beli ini beli itu. Naudzubillah. Jadi kesimpulan pertama saya, menikah adalah salah satu solusi jitu penghambat laju pengeluaran yang tak terkendali. (Makanya buruan merid..:-)
Kedua, ketika saya amati, di antara para bujangan yang ada di kantor, ada perbedaan karakter konsumsi di antara mereka. Ada yang terlalu bernafsu, setengah bernafsu, tidak bernafsu tapi mudah tergoda, tidak bernafsu sama sekali, macam-macam lah. Dan ini ternyata dilatarbelakangi oleh nilai-nilai spiritual yang mengarahkan cara pandang mereka dalam menyalurkan hasrat konsumtifnya. Jadi kesimpulan kedua saya, nilai-nilai yang diyakini, semangat berzuhud dan mengamalkan ajaran sunnah dalam Islam, akan mengontrol pola konsumsi seseorang.
Suatu ketika, saya tertarik untuk membaca sebuah buku berjudul “Karyawan Bisa Kaya” karangan seorang Pakar Perencana Keuangan Safir Senduk. Mungkin buku ini adalah sanggahan atas buku yang telah terbit sebelumnya “Jangan mau Menjadi Orang Gajian” karangan Valentino Dinsi, penggiat aplikasi Neuro Linguistic Pragramming dalam berbisnis. Buku yang saya baca itu mengatakan, bahwa sepanjang pengamatannya selama menjadi konsultan keuangan, banyak kliennya yang masih belum mampu menyisihkan sebagian kecil gaji mereka untuk saving. 

Dengan kata lain hampir semua penghasilannya untuk keperluan konsumsi. Kalo alasannya gaji kecil sih kita bisa mengatakan itu wajar. Tapi ternyata rata-rata dari mereka berpenghasilan 5 – 10 juta per bulan. Bayangkan. Dia menambahkan, hal itu disebabkan oleh minimnya pengetahuan mereka tentang tehnik Financial Planning. Ini penting, karena diri kita ibaratnya sebuah perusahaan mini yang juga membutuhkan seorang accounting, konsultan keuangan, auditor dll, meski dalam bentuk yang sederhana. Dan dia pun menjelaskan sejara lugas kiat-kiat mengatur gaji untuk keperluan konsumsi, investasi, maupun saving. 

Luar Biasa. Dari buku itu kesimpulan ketiga saya adalah dibutuhkan pengetahuan tambahan untuk mengelola keuangan pribadi, dan semuanya bisa di dapat melalui buku.

Wallahu A'lam bi Showab

1 comment:

Anonymous said...

Yup betul, di sekitar lingkungan kerja saya juga kebanyakan seperti itu. Apalagi cewek jiwa konsumtifnya tinggi&mudah terpikat, tapi alhamdulillah saya bukan tipe cewek yang mudah terpengaruh sikon. Sebenarnya rasa konsumtif bisa dikurangi apabila kita punya tanggung jawab, meskipun belum menikah kita juga punya tanggung jawab loh jangan lupa! Sebagai seorang muslim kita wajib menyisihkan sebagian harta untuk zakat. Bisa dibilang zakat=investasi akhirat. Bukan hanya dunia aja yang harus dipikirkan tapi akhirat juga. Gimana ya pendapat temen2 yang laen. Kalo' ada tambahan saran dari temen2 laen ok aja... (Adhek Henny)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...