Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Tuesday, November 21, 2006

Memaknai dan Menyikapi "Kesepian"

[- Ditulis oleh Satria, 19 Nop 2006, 20.00 WIB -]

Dua bulan terakhir ini, di antara tujuh hari dalam seminggu, ada satu hari yang paling membuat saya merasa was-was. Hari itu adalah Jumat. Ya, hari jumat. Setiap hari jumat saya merasakan hal yang tidak pernah saya rasakan di bulan-bulan sebelumnya. 


Sudah dua bulan ini saya hijrah ke Semarang. Salah satu konsekuensi yang harus saya hadapi sebagai seorang PNS. Saya dipindahtugaskan dari kantor yang lama di Gresik. Kota yang menyisakan cerita dan kenangan. Selama dua bulan itu pula saya menghadapi orang-orang baru, lingkungan baru, suasana baru, dan tentunya juga kebiasaan-kebiasaan baru. Untuk yang saya sebutkan terakhir ini, saya sempat kelabakan menghadapinya. Dampak yang saya rasakan benar-benar luar biasa berat. Lalu apa hubungannya dengan hari Jumat? 
 Hari Jumat adalah hari terakhir masuk kerja bagi instansi saya. Hari yang paling membahagiakan bagi para “bujang lokal”, sebutan para suami yang jauh dari anak dan istri, sehingga memaksa mereka pulang seminggu sekali, atau bahkan sebulan sekali. Sebuah perjuangan berat. Yah, hari yang menyenangkan buat mereka, karena beberapa jam lagi mereka akan bercengkerama melepas rindu dengan orang-orang terkasih. 

Tapi tidak demikian dengan apa yang saya rasakan. Hari Jumat adalah hari yang memaksa saya berpikir, Sabtu Ahad mau ngapain ya? Sebuah hal yang sangat kontras jika dibandingkan dengan ketika saya masih di Gresik dahulu. Selalu saja ada agenda. Teman-teman di beberapa organisasi yang saya ikuti, selalu siap dengan tawaran-tawaran menariknya, yang membuat saya tidak mampu menolak. Sebagai wajib pajak berstatus TK/- (tidak kawin; atau lebih tepatnya BELUM, tanpa tanggungan), cuci baju, setrika, beres-beres rumah (meski masih ngontrak), adalah alternatif kedua. Atau kalaupun tidak, saatnya pulang kampung, menengok orang tua di rumah.

Yah, masa transisi memaksa saya berhadapan dengan habituasi yang berbeda. Dua bulan pertama benar-benar ujian berat bagi saya. Gimana lagi? Mau pulang ke rumah di kampung, sungkan sama tetangga. Ini gimana se kerja kok pulang-pulang terus. Padahal sempat seminggu penuh di rumah buat ngurusi pindahan. Mau silaturahim, silaturahim kemana, lha wong belum ada yang kenal. Serba nggak enak. Suntuk, BeTe, Boring dll. Apapun istilahnya, yang jelas saya telah divonis terkena “sindrom kesepian” oleh salah seorang sahabat di Gresik ketika saya mengeluh kepadanya

Namun di tengah-tengah kesepian itu, tiba-tiba saya menemukan sebuah “Ahaa..!!” Saat terbaca beberapa paragraf tulisan Dr. Aidh Al Qarni di La Tahzan-nya (karena hanya itu satu-satunya buku yang saya bawa ke Semarang), saya benar-benar tersadarkan. Ternyata, apapun yang sudah ditakdirkan buat kita, kebahagiaan, kesedihan, termasuk “kesepian” semuanya adalah untuk kebaikan kita. 

Kata Ibnu Taimiyah, bahkan sebuah kemaksiatan yang kita lakukan sekalipun. Jika setelah itu diikuti dengan taubat dan keinsyafan. Lalu yang ada di benak saya adalah, kalau ujian berat pun pasti untuk kebaikan kita, apalagi sekedar sebuah perasaan berlabel “kesepian” (karena jauh dari teman, saudara dan orang-orang yang kita kenal). Pasti lah ada kebaikannya juga buat kita.

Mungkin menurut sebagian orang, itu hanyalah konsep yang hanya berdasarkan pada keyakinan semata, belum tentu orang lain akan meyakini hal yang sama. Spontan saya teringat dengan teori NLP (Neuro-Linguistic Programming) yang pernah saya baca. Teori psikologi terkini yang hampir dianut oleh banyak motivator dan pembicara ternama (Anthony Robins, James Gwee, Reza M Syarif, dll) itu mengatakan bahwa pikiran atau persepsi kita terhadap sesuatu, sangat mempengaruhi sikap kita terhadap sesuatu itu. 

Dengan kata lain, persepsi positif yang kita ciptakan akan mendorong kita untuk selalu bersikap positif, begitu juga sebaliknya. “Emotion create Motion” & “Motion Create Emotion”. Ketika saya masih menganggap “kesepian” sebagai sesuatu yang buruk dan tidak menguntungkan, maka saya tidak akan pernah mendapatkan apapun kecuali kesedihan dan rasa sepi itu sendiri. Dalam prinsip ekonomi, saya rugi.

Akhirnya, alhamdulillah atas ijin Allah, pikiran saya tergerak untuk memandang “kesepian” bukan sebagai mimpi buruk yang harus ditakuti. Tetapi sebagai peluang dan potensi positif yang harus dimanfaatkan. Meski harus melalui “pertempuran” pikiran terlebih dahulu sebelum menemukannya. Dan ini yang menggerakkan saya segera bergegas ke toko buku Gramedia di kawasan Pandanaran, untuk menyalurkan hasrat yang selama ini terabaikan, MEMBACA. 

Ada tiga buku yang menarik buat saya dan insya Allah akan saya buatkan artikelnya nanti. Yaitu buku tentang Terapi NLP (yang selama ini memang saya cari) karangan Maestro Motivator Dunia, Dr. Ibrahim Elfiky, Gagal Itu Baik; Build Your Own Potential with Power Fail karangan Nistains Odop, dan 120 Solusi Mengelola Keuangan Pribadi karangan Mike Rini, pakar perencana Keuangan.

Dan Akhirnya Sabtu Ahad itu saya habiskan bersama ketiga “sahabat baru” yang setia menemani. “Mereka bertiga” pula lah yang membantu saya menyembuhkan penyakit “sindrom kesepian”, setidaknya hingga saat ini.

Wallahu A'lam bish Showab

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...