Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Tuesday, November 21, 2006

Belajar Tentang Komunikasi

[- Ditulis oleh Satria, 20 Nop 2006, 12.00 WIB -]


Bicara tentang komunikasi, mengingatkan saya akan kelemahan diri yang sejak lama menghantui. Pikiran saya langsung mengembara ke masa 20 tahun yang lalu, saat saya masih duduk di bangku TK (Taman Kanak-kanak). Masa dimana hanya kejadian atau peristiwa tertentu yang membawa kenangan saja yang tersimpan kuat di memori otak. Selebihnya hilang. 


 Saat itu saya masih ingat betul, betapa saya tidak bisa seperti teman teman yang lain. Ketika mereka asyik memilah-milah jajanan yang mau dibeli, atau sekedar ngobrol dengan abang penjualnya di kantin, saya hanya cenderung diam dan menyendiri duduk di bangku. Bahkan suatu saat, ketika Ibu memberi uang saku, yang saat itu masih 50 perak, saya seakan tidak mempunyai keberanian untuk membeli sesuatu pun. Dan akhirnya Ibu kemudian memutuskan untuk membawakan jajan dari rumah daripada memberi uang saku. Artinya, di usia yang sama, dibandingkan teman-teman yang lain, saya masih kesulitan dalam berkomunikasi. 

Cerita pun berlanjut ketika diluar dugaan, saat tahun ajaran baru kelas 1 SMP, teman-teman menunjuk saya sebagai ketua kelas. Dan tugas pertama saya adalah menyampaikan pengumuman dari Guru Kesiswaan kepada teman-teman sekelas. Saya waktu itu benar-benar kikuk, grogi, dan nerves. Akhirnya teman-teman sekelas waktu itu lah yang menjadi saksi hidup penampilan perdana saya dalam public speaking. 

Seiring berjalannya waktu, proses pembelajaran pun berlanjut. Sampai akhirnya lingkungan kampus membawa saya ke sebuah komunitas yang memberi akses luas untuk beraktualisasi diri. 

 Kesimpulan dari cerita saya adalah betapa sebuah kemampuan dan ketrampilan dalam berkomunikasi, bagi sebagian orang termasuk saya, sangat dipengaruhi oleh peristiwa dan lingkungan yang membentuk di masa lalu. Dan ini yang kadang menghambat sebuah proses pembelajaran, belum bisa melepaskan diri dari kungkungan persepsi masa lalu.

Membahas komunikasi, hampir semua orang sepakat, bahwa ia merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial. Sehingga wajar apabila saat ini banyak riset dan penelitian yang terus dikembangkan oleh banyak pakar untuk menemukan teori yang aplikatif dalam meningkatkan skil komunikasi. 

 Salah satu pakar komunikasi yang menarik untuk kita simak torinya adalah Dr. Ibrahim Elfiky. Penulis berbagai buku best seller sekaligus Presiden Lembaga Pelatihan NLP (Neuro-Linguistic Programme) di Amerika dan Kanada ini sangat giat melakukan survey, riset, dan pengamatan atas kebiasaan dan tingkah laku komunikasi orang-orang sukses. Dari sini dia akan menemukan pola yang bisa diterapkan oleh orang lain. Di salah satu bukunya, dia mengungkapkan bahwa komunikasi yang efektif akan terjadi bila kita mampu menselaraskan gaya komunikasi kita dengan gaya komunikasi orang lain. 

Sebagai tahapan awal, kita harus mengamati, dan mengenal terlebih dahulu gaya bahasa, pilihan kata, dan gerak-gerik bahasa tubuh lawan bicara. Proses ini dia namakan Matching. Tahap berikutnya, saat kita benar-benar berbicara dengan gaya, pilihan kata, dan gerakan nonverbal yang sama dengan lawan bicara kita, maka proses ini dinamakan Pacing. Berawal dari keselarasan inilah akan muncul perasaan nyaman dan cocok, sehingga dengan ini kita bisa melanjutkan dengan tahapan selanjutnya yaitu Leading. Pada tahap inilah, saatnya kita mengenalkan ide-ide maupun gagasan kita, atau bahkan ini adalah kesempatan kita untuk mengajak, mendorong, serta memberi pengaruh positif kepada lawan bicara kita.

Diantara gaya komunikasi yang sudah kita kenal yaitu VAK (Visual, Auditori, dan Kinestetis). Visual, dimana subyek banyak menggunakan pilihan kata, Saya pikir.., Saya lihat..., Tidakkah kamu lihat.., Tidakkah engkau berpikir....dll. Auditori dengan pilihan kata yang sering digunakan Saya dengar..., Kedengarannya bagus....dll.Sedangkan yang terakhir gaya bicara Kinestetis, yang sering menggunakan kata-kata, Saya rasa..., Apa kau tidak merasa..dll. 

Di akhir ulasannya, pakar muslim itu mengungkapkan bahwa, “Al Quran menunjukkan kepada kita bahwa Allah sendiri sangat memperhatikan sistem representasi ini. Dalam kitab suci dia berfirman, “Tidakkah mereka melihat? Tidakkah mereka mendengar? Tidakkah mereka berpikir? Tidakkah mereka merasakan? Allah berfirman kepada hamba-Nya sesuai dengan keadaan mereka, menyesuaikan pilihan kata-Nya dengan sistem representasi mereka” 

 Subhanallah, ternyata perkembangan terkini dalam teori komunikasi sudah tertulis dalam dalam Al Quran berabad-abad yang lalu.



Wallahu ‘Alam bishshowab.

1 comment:

Anonymous said...

yups....that's right...kemampuan linguistik qta memang harus di upgrade.....lucu wae...masa giliran kongkow bwt ngerumpi ato ngobrol ngalor ngidul bisa lancar jaya....eh,begitu disuruh presentasi, gak usah susah2 ngomong formal dikit ae wis klepek2+ keringetan....(ih aq bangeeet) ....ne artikel manfaat banget deh....tapi mbok ditambahi dalil2 aqli ato naqli ato kisah2 teladan gitu biar tambah mantap:')
sukses ya bwt sampeyan....ciaaoooo...
GaNbaTTE choco_cool

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...