Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Saturday, November 25, 2006

Kasih Sayang Yang Tak Tergantikan

[- Ditulis oleh Satria 24 Nov 2006 20.00 WIB -]


Apa kabar semuanya? Saya harap hari ini adalah hari terbaik kita. Hari dimana kita bisa mencatat prestasi amal kebaikan secara sempurna. Ibadah kita maksimal, sesuai target harian. Tugas kantor dan capaian bisnis, sesuai deadline. Luar Biasa. Kenikmatan dari Allah seakan tiada habisnya. Lalu, masih adakah alasan untuk tidak mensyukurinya..???

Sudah punya rencana untuk agenda akhir pekan? Kalau saya, rencananya mau pulang kampung, nih. Menjenguk keluarga. Hanya ada bapak dan mamah di rumah. Maklum, keempat "pangerannya" terpaksa berkelana ke "negeri orang" untuk menjalani tugasnya masing-masing.

Sebulan lebih saya tidak bertemu mereka. Terakhir ketemu lebaran kemaren. Senang rasanya melihat mereka berdua bahagia mendengar anak-anaknya bisa pulang. Apalagi mamah. Wanita paling cantik di seantero rumah kalau kita lagi kumpul semua. "Kagak ade saingannye....". Tapi awas, ntar kalo anak-anaknya udh pada nikah, pasti predikat "Wanita Tercantik" bakal tergeser. He3x

Di antara keempat anak-anaknya hanya saya dan si bungsu Fahri, yang kuliah di Unibra Malang, yang sering pulang. Itu pun sebulan sekali. Sedangkan si kembar Chandra dan Hendra, kerja di Bandung dan Banjarbaru Kalimantan. Jadi nyaris hanya waktu lebaran saja mereka bisa pulang.

Ah, jadi ingat waktu masih nakal-nakalnya dulu. Pikiran ini langsung bernostalgia ke masa lalu. Mamah yang waktu itu sering di tinggal bapak dinas ke Semarang, sempet stres melihat ulah badung kita berempat. Banyak kisah yang tergoreskan.

Pernah dulu waktu kita masih SD (saya kelas 6, si kembar kelas 4, si bungsu masih kelas 1), jam 5 sore belum pada mandi karena asyik maen bola di lapangan. Menganggap kami telah melanggar kesepakatan bersama, mamah langsung menghampiri, dan mengacungkan patahan daun lamtoro sambil berteriak," Hayooo, Durung kapok-kapok tenan bocah-bocah iki...!!" (Hayoo, belum kapok juga anak-anak ini). Kalo udah gitu, kita pun langsung lari terbirit-birit, pulang ke rumah. Lalu ada tetangga yang nyeletuk, "Wis sore bu, ndang dikandangke wedhuse.." (Udah sore Bu, cepet dikandangin kambing-kambingnya). Gubraakkk..

Pernah juga suatu malam, sewaktu mamah pergi arisan, kita berempat maen bola dirumah. Pake bola tenis. Permainan cukup seru malam itu. Bahkan si bungsu sempet nangis karena kakinya kebentur meja. Tapi ternyata "show must go on", dan laga pun berlanjut. Saat terjadi perebutan bola liar, tiba-tiba, "Praaakkk...!!!" Kaca nako jendela samping pecah. Sontak kita terbengong-bengong dan saling menyalahkan. Si kembar menuduh saya lah penyebabnya, karena memang posisi saya yang paling dekat dengan jendela. Tapi saya mengelak, dengan alasan karena merekalah yang mendorong, sehingga saya menabrak jendela. Si Fahri yang waktu itu menjadi partner saya, hanya diam seribu bahasa penuh ketakutan. Gimana nih....Akhirnya kita berempat sepakat untuk membuat skenario, biar gak ada yang kena marah. Dan rencana pun disusun.


Sewaktu mamah pulang, kami semua hanya diam, dan pura-pura tidur. Mamah waktu itu tidak curiga sama sekali, karena memang posisi kaca nako tertutup kelambu. Malam pun berganti pagi. "Skenario global" pun siap dijalankan. Sebagai kakak tertua, saya yang paling banyak mengambil peran dalam skenario itu. Saya pun bangun dan langsung keluar kamar."Mah.. Mah.. deloken mah!!! Ono maling sing arep mlebu omah. Deloken iki, nakone pecah..!!" ( Mah mah, lihat, ada pencuri mau masuk rumah. Lihat ini, kacanya pecah) Mama pun kaget bukan kepalang. Dia langsung berteriak minta tolong tetangga sebelah. " Aduh kok manggil tetangga segala seh.." pikirku.

Dalam waktu singkat, banyak tetangga yang datang. Dan ini yang justru membuat kami tambah khawatir. Jangan-jangan ...."Lapor polisi wae bu, panjenengan" usul Bu Yasir, tetangga depan rumah. Belum sempat mamah merespon, tiba-tiba si Fahri dengan polosnya angkat bicara, " Ojo dilaporke polisi mah mesakke malinge..." (Jangan lapor polisi mah, kasihan pencurinya)."Lha nyapo le mesakke, ben di lebokke penjara sisan."( Lho kenapa nak, kok kasihan, biar dimasukkan ke penjara sekalian).


Sepertinya mamah sudah mulai curiga. Ndak biasanya Fahri merespon dengan kata-kata. Apalagi wajahnya terlihat sangat ketakutan. Aduuuhhhh...Fahriiiii…"Piye le sayang, sopo sajane malinge? ndang cerito mamah, mengko ga dilebokke penjara kok malinge." (Gimana sayang, siapa sebenarnya yang jadi pencuri? cerita ke mamah dong,nanti pencurinya ngga dimasukkin penjara kok) Mamah merayu Fahri untuk menceritakan semuanya.Aduuuuuuh..."M..mm.mmm...malinge....sing bal-balan dek mbengi" (Pencurinya yang maen bola tadi malam).
Dieeeenggggg.....Gubraaakk..Tolonggggg..

Dan konspirasi pun akhirnya terbongkar.

Begitulah ceritanya. Dan sampai sekarang pun kenangan-kenangan seperti itu masih menjadi menu utama obrolan kami setiap lebaran.

Namun mamah sekarang bukan lagi mamah yang dulu. Jauh sekali perubahannya. Apalagi sejak satu persatu anaknya "meninggalkan" rumah. Terlihat rambutnya kini mulai memutih, kerutan di wajahnya mulai nampak jelas.

Kemarahnnya karena kenakalan kami dahulu, kini tergantikan oleh suara penuh khawatir di ujung telepon. Menanyakan, apakah kami baik-baik saja. Dan secara beruntun, nasihat demi nasihat meluncur dari bibirnya.

Mamah, Banyak kenangan indah kami bersamamu.

Meski engkau kini telah banyak berubah, namun kasih sayangmu kepada kami, tetap tak akan pernah tergantikan.


Rabbi, ijinkan aku membalas semua pengorbanannya sebelum engkau memanggilnya...





Wallahu A’lam bishshowab

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...