Assalamu alaikum. Selamat datang di blog pribadi saya. Silakan ambil apa yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda salah. Sebuah kebahagiaan bagi saya bila anda bersedia menulis komentar, respon, kritik dan masukan untuk perbaikan yang lebih baik. Terima kasih.

Hikmah

Wednesday, November 29, 2006

Jadikan hari anda LUAR BIASA ...



[- Ditulis oleh Satria 29 Nov 2006 12.00 WIB -]

Apa kabar anda hari ini ? Saya harap semuanya masih dalam “kontrol penuh” anda. Ya, hari ini adalah hari milik anda. Anda lah yang akan mewarnai hari ini. Jangan biarkan emosi dan pikiran-pikiran negatif menghambat laju “pesawat” anda. Singkirkan. Dan gantilah dengan pikiran positif, optimis, motivasi tinggi dan balutan nilai-nilai Rabbani. Dan insya Allah, anda akan membuat hari ini menjadi LUAR BIASA.

Nilai-nilai Rabbani ? Mungkinkah ia akan menjadikan hari ini LUAR BIASA ? Jawabannya adalah Pasti. Sudah banyak yang telah membuktikan. Kita pun juga sudah sering mendengar keampuhannya. Orang-orang hebat di jaman para sahabat adalah buktinya. Produktivitas, keshalehan, konsistensi, dan perjuangan mereka masih kita rasakan hingga saat ini.

Namun hanya kengganan dan kemalasan kita saja lah yang menjadikan kita jarang bisa menikmatinya.

Pernahkah kita merasakan dampak dari pola makan yang teratur ? Pagi sarapan sepiring nasi goreng udang lengkap dengan mentimun dan daun selada. Segelas susu kedelai penuh protein sebagai penutupnya. Siang, sayur bayam penuh zat besi, ikan tongkol, dan tempe sumber protein. Plus juz buah full vitamin. Malamnya, sop daging ayam, isi wortel, kol, dan buncis. Diakhiri dengan segelas juz buah asli pengantar tidur. Hmm..mm mau coba ?

Keteraturan dalam pola makan dan kombinasi menu yang seimbang, membuat suplai gizi dalam tubuh menjadi lancar. Kita pun menjadi bugar dan terhindar dari serangan penyakit. Apa jadinya kalo kita mengabaikannya ?

Begitu juga dengan ruhiah kita. Potensi Spiritual yang tidak kalah vital, dan mempunyai posisi strategis dalam kelangsungan hidup manusia. Ia ibarat antena yang akan menghubungkan kita dengan “menara pengawas” yang akan memandu penerbangan “pesawat kita”. Tanpanya, mustahil kita bisa selamat sampai tujuan.

Layaknya pola makan, ia juga butuh kombinasi, keteraturan dan konsistensi. Resepnya jelas, valid, dan shahih.

Dua rakaat qiyamullail atau lebih, plus witir di sepertiga malam terakhir sebagai media komunikasi tanpa batas dengan Sang Maha Perencana. Waktu yang tepat untuk mengajukan proposal pengadaan kebutuhan diri.

Sholat Subuh di masjid, "apel pagi" yang menyenangkan dan penuh sensasi.

Dzikir ma’tsurat pagi, piranti security system yang akan melindungi kita dari gangguan “eksternal”.

Tilawah Al Quran dengan porsi satu jus per hari atau semampunya, akan menjadi penguat sinyal antena yang menghubungkan kita dengan “menara pengawas”.

Sholat dhuha dua rakaat sebelum berangkat kantor. Pendorong yang efektif menuju kebebasan finansial dan rizki.

Sholat Zuhur dan Ashar berjamaah. Sistem pendingin yang akan mengontrol suhu kepenatan akibat banyaknya aktivitas.

Sholat Maghrib dan Isya berjamaah. Stabilisator suasana hati menghadapi keheningan malam.

Kombinasi di atas bisa anda coba. Dengan kesungguhan, keikhlasan, dan keistiqomahan, insya Allah hari anda akan menjadi LUAR BIASA.


Selamat Mencoba.


Wallahu 'A'lam bis Showab.

Tuesday, November 28, 2006

Bikin Blog Yuk...

[- Ditulis oleh Satria 28 Nov 2006 12.00 WIB -]

Awal ketertarikan saya membuat blog adalah saat salah seorang sahabat memberikan sebuah alamat blog milik temannya kepada saya, yang kebetulan saya juga mengenalnya sebagai trainer di sebuah lembaga manajemen terapan. Waktu itu saya benar-benar tidak tahu apa itu blog. Bahkan pergi ke warnet pun jarang sekali. Suatu ketika, ada beberapa bahan yang harus saya cari di internet. Di sela-sela browsing itu, iseng aja saya buka alamat yang diberikan sahabat saya tadi. Banyak hal yang membuat saya kagum.

Melalui sarana ini saya melihat ada banyak peluang yang terbuka lebar untuk mengembangkan keterampilan menulis. Alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan Forum Lingkar Pena (FLP) setahun yang lalu. Bersama teman-teman FLP cabang Gresik, saya mulai belajar menyukai menulis. Jujur, saya masih dalam taraf belajar menyukai. Belum benar-benar belajar secara serius. Karena ternyata susah juga mempertahankan minat menulis hingga menjadi sebuah kebiasaan yang melekat. Hanya inilah sedikit modal yang saya miliki.


Melalui blog, kita jadi terpacu untuk menghasilkan karya dalam bentuk tulisan. Meski hanya sekadar sapaan kepada pembaca. Dan konsistensi ini benar-benar diuji. Malu dong punya blog tapi ngga pernah di-update. Ini point plusnya.

Selain itu, akan ada banyak pengkritik yang mampir ke blog kita. Tapi kalo pengkritiknya ngga pernah ngenet yang sama aja. Jadi, kalimat terakhir saya ralat. Akan ada banyak pengkritik yang mau menyisihkan waktunya untuk ngenet, yang akan mampir ke blog kita. Jadi siap-siap aja. Dengan begitu kita akan menjadi semakin tertantang untuk memperbaiki tulisan kita.
"Waduh, Pak. Tulisannya DATAR banget.." Seseorang pernah mengatakan itu kepada saya.
Yaa kita buat miring, melengkung, mlungker-mlungker, biar ngga datar gimana lah.
"Ceritanya mudah ditebak, Mas. Manajemen konfliknya kurang.."
Ya kita perbaiki..
Asalkan ada kebesaran hati dan semangat untuk belajar.
Melalui blog, peluang memberikan ide, gagasan, pencerahan, dan ajakan untuk berbuat kebaikan akan terbuka semakin lebar. Kita sadar, dari-waktu ke waktu komunitas netter di Indonesia semakin bertambah. Teknologi informasi berkembang cepat. Bisnis berbasis teknologi informasi sudah mulai menjamur. Kalau kita sama sekali tidak tanggap dan enggan menyesuaikan diri, siap siap, kereta perubahan akan menggilas kita.

Saya sadar, saya juga masih harus banyak belajar. Blog yang saya buat masih berumur seminggu. Lihat saja, hanya segelintir orang yang masuk. Apalagi, saya sama sekali tidak mempunyai latar belakang pendidikan komputer.

Tapi insya Allah, kalo ada kemauan, pasti ada jalan.
SEMANGAT...!!!

Wallahu Alam bi Showab









Saturday, November 25, 2006

Kesaksian Warga Bengkalis yang Mati Suri dalam Temu Alumni ESQ





[- Diteruskan oleh Satria, tulisan dari salah seorang sahabat -]


Semoga tulisan ini membuat kita “terbangun dari tidur” …


KISAH NYATA

Ini tulisan saya di harian pagi Riau Pos, Ahad 1 Oktober 2006. semogabermanfaat

Kesaksian Warga Bengkalis yang Mati Suri dalam Temu Alumni ESQ
''Menyaksikan Orang Disiksa dan Ingin Kembali ke Dunia''
Laporan Idris Ahmad - Pekanbaru

Pengalaman mati suri seperti yang dialami Aslina, telah pula dirasakan banyak orang. Seorang peneliti dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Virginia Dr Raymond A Moody pernah meneliti fenomena ini.Hasilnya orang mati suri rata-rata memiliki pengalaman yang hampir sama. Masuk lorong waktu dan ingin dikembalikan ke dunia.

Berikut catatan Riau Pos yang turut serta mendengarkan kesaksian Aslina dalam temu Alumni ESQ (emotional, spiritual, quotient) Ahad (24/9)di Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru.
Catatan ini dilengkapi pula dengan penjelasan instruktur ESQ Legisan Sugimin yang mengutip Al-Quran yang menjelaskan orang yang mati itu ingindikembalikan ke dunia, serta penelusuran melalui internet tentang Dr Raymond. Bagi pembaca yang ingin mengetahui perihal Dr Raymond dapatmembuka situs
http://www.lifeafterlife/. com dan hasil penelitian Raymond tentang mati suri dapat dibaca di buku Life After Life.

Aslina adalah warga Bengkalis yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu.Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanyadicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri.
Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil cobaan telah datang kepada dirinya.


Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan racun. Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun. Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid) . Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok(hipertiroid) . Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit Mahkota Medical Center (MMC) Melaka Malaysia. Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi.


''Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,' ' jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah.Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina kembali ke Mahkota sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya sesak.Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. ''Aslina seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut, red). Lalu saya ajarkan kalimatthoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir,'' ungkapnya. Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina memberikan kesaksiaanya.


''Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur,'' begitu ia mengawali kesaksiaanya setelah meminta seluruh hadirinyang memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa ia juga menasehatijamaah untuk memantapkan iman, amal dan ketakwaan sebelum mati datang. ''Saya telah merasakan mati,'' ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit mati itu.
Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulithewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi.


''Terasa malaikat mencabut (nyawa, red) dari kaki kanan saya,'' tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat thoyibah. ''Saat di ujung napas, saya berzikir,'' ujarnya. ''Sungguh sakitnya, Pak, Bu,'' ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ Pekanbaru.
Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan disekelilingnya ada dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur.Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan Assalaimualaikum kepada ruh Aslina. ''Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot, gemetar,'' ujar Aslina menceritapengalaman matinya. Lalu malaikat itu bertanya: ''siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu." Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar.Lalu ia dibawa ke alam barzah. ''Tak ada teman kecuali amal,'' tambahAslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau.


Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malamitu ia tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah. Dialam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanyaberkudis, badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosokitulah adalah amal buruk dari orang tersebut.
Aslina melanjutkan. ''Bapak, Ibu, ingatlah mati,'' sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput.


Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan ayahnya.Lalu ia memanggil malaikat itu dengan ''Ayah''. ''Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan ayah saya,'' tanyanya. Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: ''Wahai ayah, janji saya telah sampai.'' Mendengar itu ayah saya saya menangis.Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. ''Pulanglah ke rumah, kasihan adik-adikmu. '' ruh Aslina pun menjawab. ''Saya tak bisa pulang, karena janji telah sampai''.
Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepadahadirin bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada.


''Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,'' ujarnya bak seorang pendakwah.
Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, disebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya kepada perempuan itu. ''Siapa kamu?'' lalu perempuan itu menjawab.''Akulah (amal) kamu.''


Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalanmenelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton,tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya. ''Siapa manusia ini?'' Amal Aslina menjawab orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang.
Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat bahkan tak bisa mengucapkan dunia kalimat syahadat ketika di dunia.
Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain.


Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh.


Tampak pula orang berkepala babi dan berbadan babi. Orang tersebut adalah orang yang suka berguru pada babi. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia.
Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut. Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang mengucap : Subnallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar.Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya. Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.


Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnulkhatimah. (Husnul khatimah secara literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan (berbuat) baik,red).
Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan azan seperti azan di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya. ''Saya mau shalat.'' Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan ruh Aslina.


''Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,'' ungkap Aslina.
Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut batangan-batangan emas di dalam tepak ''husnul khatimah'' itu mengeluarkan cahaya terang.Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina. ''Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.''
Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu berkata. ''Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah.''Manusia-manusia itu juga memohon. ''Tolong kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.''


Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat ia mati suri. Dalam kesaksiaannya ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal shaleh serta tidak melanggar aturan Allah.
Setelah kesaksian Aslina, instruktur Pelatihan ESQ Legisan Sugimin yang telah mendapat lisensi dari Ary Ginanjar (pengarang buku sekaligus penemu metode Pelatihan ESQ) menjelaskan bahwa fenomena mati suri dan apa yang disaksikan oleh orang yang mati suri pernah diteliti ilmuan Barat.


Legisan mengemukakan pula, mungkin di antara alumni ESQ yang hadir pada Ahad (24/9) malam itu ada yang tidak percaya atau ragu terhadap kesaksian Aslina. Tapi yang jelas, lanjutnya, rata-rata orang yang mati suri merasakan dan melihat hal yang hampir sama.
''Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah kepada kita semua,'' ujarnya.Legisan menjelaskan penelitian oleh Dr Raymond A Moody Jr tentang mati suri. Raymond mengemukakan orang mati suri itu dibawa masuk ke lorong waktu, di sana ia melihat rekamanseluruh apa yang telah ia lakukan selama hidupnya. Dan diakhir pengakuan orang mati suri itu berkata: ''Dan aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya.''


Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan ''aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya,'' Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Mu'muninun (23) ayat 99-100:


(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata:''Ya, Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia).''(99) . Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (100).


Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat, dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39: ''Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).''
Usai pertemuan alumni itu, Aslina meminta nasehat dari Legisan.Intruktur ESQ itu menyarankan agar Aslina senatiasa berdakwah dan menyampaikan kesaksiaannya saat mati suri kepada masyarakat agar mereka bertaubat dan senantiasa mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Setelah acara, banyak di antara alumni yang bersimpati dan ingin membantu pengobatan sakit gondoknya. Para hadirinpun menyempat diri untuk berfoto bersama Aslina.


Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari kesaksiaan


Aslina.***

Kasih Sayang Yang Tak Tergantikan

[- Ditulis oleh Satria 24 Nov 2006 20.00 WIB -]


Apa kabar semuanya? Saya harap hari ini adalah hari terbaik kita. Hari dimana kita bisa mencatat prestasi amal kebaikan secara sempurna. Ibadah kita maksimal, sesuai target harian. Tugas kantor dan capaian bisnis, sesuai deadline. Luar Biasa. Kenikmatan dari Allah seakan tiada habisnya. Lalu, masih adakah alasan untuk tidak mensyukurinya..???

Sudah punya rencana untuk agenda akhir pekan? Kalau saya, rencananya mau pulang kampung, nih. Menjenguk keluarga. Hanya ada bapak dan mamah di rumah. Maklum, keempat "pangerannya" terpaksa berkelana ke "negeri orang" untuk menjalani tugasnya masing-masing.

Sebulan lebih saya tidak bertemu mereka. Terakhir ketemu lebaran kemaren. Senang rasanya melihat mereka berdua bahagia mendengar anak-anaknya bisa pulang. Apalagi mamah. Wanita paling cantik di seantero rumah kalau kita lagi kumpul semua. "Kagak ade saingannye....". Tapi awas, ntar kalo anak-anaknya udh pada nikah, pasti predikat "Wanita Tercantik" bakal tergeser. He3x

Di antara keempat anak-anaknya hanya saya dan si bungsu Fahri, yang kuliah di Unibra Malang, yang sering pulang. Itu pun sebulan sekali. Sedangkan si kembar Chandra dan Hendra, kerja di Bandung dan Banjarbaru Kalimantan. Jadi nyaris hanya waktu lebaran saja mereka bisa pulang.

Ah, jadi ingat waktu masih nakal-nakalnya dulu. Pikiran ini langsung bernostalgia ke masa lalu. Mamah yang waktu itu sering di tinggal bapak dinas ke Semarang, sempet stres melihat ulah badung kita berempat. Banyak kisah yang tergoreskan.

Pernah dulu waktu kita masih SD (saya kelas 6, si kembar kelas 4, si bungsu masih kelas 1), jam 5 sore belum pada mandi karena asyik maen bola di lapangan. Menganggap kami telah melanggar kesepakatan bersama, mamah langsung menghampiri, dan mengacungkan patahan daun lamtoro sambil berteriak," Hayooo, Durung kapok-kapok tenan bocah-bocah iki...!!" (Hayoo, belum kapok juga anak-anak ini). Kalo udah gitu, kita pun langsung lari terbirit-birit, pulang ke rumah. Lalu ada tetangga yang nyeletuk, "Wis sore bu, ndang dikandangke wedhuse.." (Udah sore Bu, cepet dikandangin kambing-kambingnya). Gubraakkk..

Pernah juga suatu malam, sewaktu mamah pergi arisan, kita berempat maen bola dirumah. Pake bola tenis. Permainan cukup seru malam itu. Bahkan si bungsu sempet nangis karena kakinya kebentur meja. Tapi ternyata "show must go on", dan laga pun berlanjut. Saat terjadi perebutan bola liar, tiba-tiba, "Praaakkk...!!!" Kaca nako jendela samping pecah. Sontak kita terbengong-bengong dan saling menyalahkan. Si kembar menuduh saya lah penyebabnya, karena memang posisi saya yang paling dekat dengan jendela. Tapi saya mengelak, dengan alasan karena merekalah yang mendorong, sehingga saya menabrak jendela. Si Fahri yang waktu itu menjadi partner saya, hanya diam seribu bahasa penuh ketakutan. Gimana nih....Akhirnya kita berempat sepakat untuk membuat skenario, biar gak ada yang kena marah. Dan rencana pun disusun.


Sewaktu mamah pulang, kami semua hanya diam, dan pura-pura tidur. Mamah waktu itu tidak curiga sama sekali, karena memang posisi kaca nako tertutup kelambu. Malam pun berganti pagi. "Skenario global" pun siap dijalankan. Sebagai kakak tertua, saya yang paling banyak mengambil peran dalam skenario itu. Saya pun bangun dan langsung keluar kamar."Mah.. Mah.. deloken mah!!! Ono maling sing arep mlebu omah. Deloken iki, nakone pecah..!!" ( Mah mah, lihat, ada pencuri mau masuk rumah. Lihat ini, kacanya pecah) Mama pun kaget bukan kepalang. Dia langsung berteriak minta tolong tetangga sebelah. " Aduh kok manggil tetangga segala seh.." pikirku.

Dalam waktu singkat, banyak tetangga yang datang. Dan ini yang justru membuat kami tambah khawatir. Jangan-jangan ...."Lapor polisi wae bu, panjenengan" usul Bu Yasir, tetangga depan rumah. Belum sempat mamah merespon, tiba-tiba si Fahri dengan polosnya angkat bicara, " Ojo dilaporke polisi mah mesakke malinge..." (Jangan lapor polisi mah, kasihan pencurinya)."Lha nyapo le mesakke, ben di lebokke penjara sisan."( Lho kenapa nak, kok kasihan, biar dimasukkan ke penjara sekalian).


Sepertinya mamah sudah mulai curiga. Ndak biasanya Fahri merespon dengan kata-kata. Apalagi wajahnya terlihat sangat ketakutan. Aduuuhhhh...Fahriiiii…"Piye le sayang, sopo sajane malinge? ndang cerito mamah, mengko ga dilebokke penjara kok malinge." (Gimana sayang, siapa sebenarnya yang jadi pencuri? cerita ke mamah dong,nanti pencurinya ngga dimasukkin penjara kok) Mamah merayu Fahri untuk menceritakan semuanya.Aduuuuuuh..."M..mm.mmm...malinge....sing bal-balan dek mbengi" (Pencurinya yang maen bola tadi malam).
Dieeeenggggg.....Gubraaakk..Tolonggggg..

Dan konspirasi pun akhirnya terbongkar.

Begitulah ceritanya. Dan sampai sekarang pun kenangan-kenangan seperti itu masih menjadi menu utama obrolan kami setiap lebaran.

Namun mamah sekarang bukan lagi mamah yang dulu. Jauh sekali perubahannya. Apalagi sejak satu persatu anaknya "meninggalkan" rumah. Terlihat rambutnya kini mulai memutih, kerutan di wajahnya mulai nampak jelas.

Kemarahnnya karena kenakalan kami dahulu, kini tergantikan oleh suara penuh khawatir di ujung telepon. Menanyakan, apakah kami baik-baik saja. Dan secara beruntun, nasihat demi nasihat meluncur dari bibirnya.

Mamah, Banyak kenangan indah kami bersamamu.

Meski engkau kini telah banyak berubah, namun kasih sayangmu kepada kami, tetap tak akan pernah tergantikan.


Rabbi, ijinkan aku membalas semua pengorbanannya sebelum engkau memanggilnya...





Wallahu A’lam bishshowab

Thursday, November 23, 2006

Emosi .....

[- Ditulis oleh Satria 23 Nov 2006 15.00 -]
Mengatasi Masalah Tanpa Masalah. Mungkin semboyan ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Rangkaian kata yang dipilih Perum Pegadaian untuk menawarkan produk unggulannya. Sebuah tawaran yang menarik dan menjanjikan.


Kalau kita pikir, siapa sih di dunia ini yang bebas dari masalah. Dari mulai pengemis sampai pengusaha kaya, semua pasti punya masalah. Hanya ada dua hal yang membedakannya. Berat ringannya masalah dan cara mereka dalam menyikapi masalah itu sendiri. Sebagai seorang muslim, saya sangat meyakini, bahwa masalah adalah cara Allah untuk menguji hambanya. Seberapa sabar, seberapa istiqomah, dan seberapa “pandai” sang hamba untuk mengambil hikmah dari permasalahannya. Masalah juga merupakan wujud kasih dan sayang Allah kepada hambanya. Jadi beruntunglah orang-orang yang selalu diliputi masalah demi masalah, namun bisa menghadapinya dengan sabar.

Menurut pengertian yang saya pahami, masalah adalah saat dimana terjadi ketidaksamaan antara harapan dan kenyataan. Kita mengharapkan A tapi yang terjadi malah B, C, atau bahkan Z. Dan respon awal yang muncul adalah perasaan tidak nyaman, yang diwujudkan oleh emosi kecewa, sedih, khawatir, takut, dan berbagai emosi negatif lainnya. Ini wajar. Wajar sekali. Dan siapapun pasti pernah mengalaminya. Dari emosi negatif, muncul sikap negatif. Seperti yang biasa kita lakukan seperti, ekspresi cemberut, murung, menangis, mengomel, marah, bertindak kasar, bahkan sampai bunuh diri. Nauzubillah. Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi masalah?

Beberapa bulan yang lalu, alhamdulillah, saya dihadapkan pada fase terberat dalam hidup saya. Sebuah masalah yang benar-benar hadir “prime time” dalam diri saya selama ini. Dan ternyata, justru dengan masalah itulah Allah memberi kesempatan kepada saya untuk belajar. Buku La Tahzan yang fenomenal karangan Dr. Aidh Al Qarni, menjadi satu-satunya teman pelipur lara. Banyak hal yang saya dapatkan dalam buku itu.


Begitu beratnya permasalahan yang kita rasakan, sampai-sampai kita menganggap hanya kitalah yang mempunyai masalah di dunia ini. Ya, hanya kita. Dan kadang timbul rasa iri melihat orang-orang disekitar kita, yang masih menurut anggapan kita, tidak mempunyai masalah sama sekali. Dalam bukunya, Dr. Aidh Al Qarni mengatakan. Jangan bersedih, karena tidak hanya kita di dunia ini yang di anugerahi masalah oleh Allah SWT. Masih banyak saudara-saudara kita yang lain yang bernasib sama dengan kita. Masih banyak saudara-saudara kita yang menanggung beban lebih berat dibanding kita, tetapi toh mereka masih bisa tersenyum dan optimis. Saudara kita di sekitar luapan lumpur panas Lapindo, korban gempa di Jogjakarta, saudara kita di Iraq, Palestina, dan masih banyak lagi. Mereka seharusnya menjadi pemicu kita untuk lebih optimis

Di paragrafnya yang lain, beliau mengungkapkan. Jangan bersedih, harusnya anda bersyukur, masalah adalah bukti bahwa Allah peduli kepada kita dan ia merupakan batu ujian untuk derajat yang lebih tinggi, apabila kita tetap bersabar dan ikhtiar.


Subhanallah, dan masih banyak kata-kata motivasi yang lainnya. Yang mengantarkan kita pada kesadaran, ketaatan, penyerahan diri, dan kekuatan untuk bertahan.
Selain La Tahzan, ada sebuah buku, saya lupa judulnya, yang kebetulan saya baca secara gratis disebuah toko buku, menarik untuk kita angkat. Di dalam salah satu babnya, buku itu mejelaskan. Pernahkah kita melihat teman, saudara, atau mungkin kita sendiri merasa benar-benar ketakutan ketika melihat sebuah film horor di bioskop. Atau menangis sesenggukan menahan haru ketika melihat tayangan sinetron yang mengundang iba.

Hal yang sangat kontras terjadi, ketika kita melihat teman atau saudara yang lain malah ketawa-ketawa saat menonton film horor. Dia menganggap triknya terlalu polos sehingga bukannya menakutkan, justru menggelikan baginya.
Dari contoh di atas, bisa dijelaskan sebagai berikut. Orang yang paranoid terhadap film horor, biasanya melibatkan semua emosinya. Selain itu, suasana gedung bioskop yang mendukung, dengan suara digital dan layar lebar, seolah-olah mereka merasa masuk menjadi bagian dari cerita. Beda dengan orang yang hanya ketawa-ketawa saat melihat film horor. Dia membuat jarak antara dirinya dan cerita yang ia lihat. Sehingga dalam keadaan ini dia bisa menetralisir emosinya.

Uraian di atas setidaknya bisa menjadi analogi dalam proses menghadapi masalah. Orang yang cenderung berlarut-larut dalam kesedihan karena suatu masalah, biasanya masih belum mampu melepaskan balutan emosi yang sebenarnya justru menjauhkan dia dari solusi. Sebab kalau kita lihat, yang menjadi masalah sebenarnya adalah emosi dan sikap kita saat menghadapi masalah itu. Bukan masalahnya. Aa’ Gym sering mengatakan, bukan masalahnya yang menjadi masalah, akan tetapi sikap kita dalam menghadapai masalah itu sendiri lah yang menjadi induk masalahnya.

Sehingga para pakar NLP menganjurkan, ketika kita dihadapkan pada sebuah masalah, jangan langsung bereaksi dengan melibatkan emosi. Tapi fokuslah pada solusi untuk mengatasinya. Ini adalah cara yang cepat yang memungkinkan kita membuat jarak (secara emosi) dengan masalah. Baru setelah itu, kita bangkitkan emosi-emosi positif melalui anchor yang telah kita buat.
Proses ini sering dikenal dengan Disaosiasi (Melepaskan diri dari masalah).

Namun banyak yang bilang, “Kita manusia mas, bukan malaikat yang ndak punya emosi..!”
Betul. Tetapi kita akan menjadi manusia yang sempurna dan cerdas, apabila kita bisa menempatkan emosi sesuai pada porsinya.


Pelajaran yang bisa kita petik:

  1. Setiap manusia pasti pernah dan akan menghadapi masalah
  2. Setiap masalah biasanya cenderung diikuti oleh emosi negatif dan sikap negatif
  3. Masalah adalah wujud perhatian dan kasih sayang Allah kepada kita
  4. Masalah sebenarnya adalah emosi dan sikap kita dalam menghadapi masalah, bukan masalah itu sendiri
  5. Bebaskan emosi negatif, dan munculkan emosi positif adalah salah satu cara melepaskan diri dari masalah. (Buang suudzon, kembangkan husnudzon)

Wallahu A’lam bi Showab

Syair "Bingkai Kehidupan"



[- Ditulis oleh Satria 23 Nov 2006 12.00 WIB -]

Mengarungi Samudera Kehidupan
Kita Ibarat Para Pengembara
Hidup Ini Adalah Perjuangan
Tiada Masa tuk Berpangku Tangan

Setiap Tetes Peluh dan Darah
Tak akan Sirna Di Telan Masa
Segores Luka di Jalan Allah
Kan Menjadi Saksi Pengorbanan

Allah Ghoyatuna
Ar Rosul Qudwatuna
Al Quran Dusturuna
Al Jihad Sabiluna
Almautu fi sabilillah Asma amanina

Allah Adalah Tujuan Kami
Rasulullah Tauladan Kami
Al Quran pedoman Hidup kami
Jihad Adalah Jalan Juang Kami
Mati di Jalan Allah Adalah Cita-cita Kami Tertinggi


Sebait syair Shoutul Haraqah, mengingatkanku akan sebuah kisah. Perjalanan kaki hampir selama 24 jam penuh bersama orang-orang yang aku cintai. Melewati bukit, perkampungan dan hutan jati di daerah Bojonegoro yang panas. Syair itulah salah satunya yang kami nyanyikan di sepanjang perjalanan.
Sahabat, aku merindukan kalian.

Wednesday, November 22, 2006

Mempertahankan Kebiasaan Positif

[- Ditulis oleh Satria, 22 Nov 2006, 12.00 WIB-]

Setiap orang pasti menginginkan sebuah perubahan. Perubahan menuju kearah kebaikan tentunya. Keinginan untuk berubah terkadang dipicu oleh kesadaran sesaat yang tiba-tiba muncul dalam benak kita. Hanya dalam hitungan menit, tiba-tiba muncul semangat, tekad, dan motivasi baru untuk melakukan suatu kebaikan. 


Namun selang beberapa hari kemudian, ternyata kebiasaan baru itu hilang begitu saja. Fenomena ini pasti sering kita alami. Betapa sulitnya kita memulai dan mempertahankan suatu kebiasaan baru dalam diri kita.

Menurut saya, selain karena faktor keikhlasan dalam niyat awal kita, hal itu juga disebabkan karena lemahnya respon otak kita terhadap momentum pencetusnya. Ini yang menyebabkan kita kehilangan motivasi ditengah jalan.


Tuesday, November 21, 2006

Puisi Suara Hati


[- Ditulis oleh Satria -]

Hatiku berharap, namun tak bisa
Hatiku menangis, kering air mata
Hatiku mencoba melupakan, sesak di dada

Hatiku tersentak, apakah ini anugerah ?
Hatiku gelisah, mungkinkah ?
Hatiku menuruti, pasrah membuncah

Hatiku berteriak, tanpa suara
Hatiku bertanya, tanpa jawaban
Hatiku berontak, namun tak bisa
Hatiku binasa, ditelan asa

Hatiku bingung ...
Hatiku marah ...
Hatiku lelah ...
Hatiku pasrah ...

Belajar Tentang Komunikasi

[- Ditulis oleh Satria, 20 Nop 2006, 12.00 WIB -]


Bicara tentang komunikasi, mengingatkan saya akan kelemahan diri yang sejak lama menghantui. Pikiran saya langsung mengembara ke masa 20 tahun yang lalu, saat saya masih duduk di bangku TK (Taman Kanak-kanak). Masa dimana hanya kejadian atau peristiwa tertentu yang membawa kenangan saja yang tersimpan kuat di memori otak. Selebihnya hilang. 


 Saat itu saya masih ingat betul, betapa saya tidak bisa seperti teman teman yang lain. Ketika mereka asyik memilah-milah jajanan yang mau dibeli, atau sekedar ngobrol dengan abang penjualnya di kantin, saya hanya cenderung diam dan menyendiri duduk di bangku. Bahkan suatu saat, ketika Ibu memberi uang saku, yang saat itu masih 50 perak, saya seakan tidak mempunyai keberanian untuk membeli sesuatu pun. Dan akhirnya Ibu kemudian memutuskan untuk membawakan jajan dari rumah daripada memberi uang saku. Artinya, di usia yang sama, dibandingkan teman-teman yang lain, saya masih kesulitan dalam berkomunikasi. 

Saat Tangan Gemar Menarik Dompet

[- Di tulis oleh Satria, 20 Nop 2006, 21.00 WIB -]


Banyak keluhan yang disampaikan teman-teman sekantor kepada saya, perihal kondisi keuangan pribadinya. Mereka mengaku tidak bisa mengendalikan laju pengeluaran yang secara pelan tapi pasti menguras gaji mereka. Dan anehnya rata-rata di antara mereka berstatus bujangan yang masih belum mempunyai banyak tanggungan. Entah kenapa justru mereka merasa sangat sulit untuk mengatur keuangannya. Bahkan banyak di antara mereka yang hingga kini belum mampu menyisihkan sebagian gajinya untuk keperluan saving. Apalagi investasi.
Artikel ini sengaja saya tulis, bukan karena saya ingin memberi solusi atas permasalahan mereka. Tetapi lebih karena saya adalah salah satu di antara mereka dengan permasalahan yang sama. Mudah-mudahan sahabat bisa memberi solusi.

Memaknai dan Menyikapi "Kesepian"

[- Ditulis oleh Satria, 19 Nop 2006, 20.00 WIB -]

Dua bulan terakhir ini, di antara tujuh hari dalam seminggu, ada satu hari yang paling membuat saya merasa was-was. Hari itu adalah Jumat. Ya, hari jumat. Setiap hari jumat saya merasakan hal yang tidak pernah saya rasakan di bulan-bulan sebelumnya. 


Sudah dua bulan ini saya hijrah ke Semarang. Salah satu konsekuensi yang harus saya hadapi sebagai seorang PNS. Saya dipindahtugaskan dari kantor yang lama di Gresik. Kota yang menyisakan cerita dan kenangan. Selama dua bulan itu pula saya menghadapi orang-orang baru, lingkungan baru, suasana baru, dan tentunya juga kebiasaan-kebiasaan baru. Untuk yang saya sebutkan terakhir ini, saya sempat kelabakan menghadapinya. Dampak yang saya rasakan benar-benar luar biasa berat. Lalu apa hubungannya dengan hari Jumat? 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...